Home Gaya hidup Awal Mula Gemerlap Lampu Diskotek di Jakarta

Awal Mula Gemerlap Lampu Diskotek di Jakarta

TELENEWS.ID – 16 desember 2019 lalu Pemprov DKI membatalkan pemberian penghargaan Adikarya Wisata 2019 kepada salah satu diskotek yakni Colosseum Club 1001. Pencabutan penghargaan itu terkait dengan surat teguran dari BNNP DKI Jakarta guna meninjau ulang izin diskotek yang berlokasi di Taman Sari, Jakarta Barat itu. Selang sehari sejak kejadian itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencopot Alberto Ali sebagai Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI.

tak dapat dipungkiri jika hiburan malam seperti diskotek ini lepas dari geliat perkembangan kota besar seperti Jakarta. Pada masa kepemimpinan Ali Sadikin pada 1966-1977, dia memberi angina segar bagi diskotek dan kelab malam.

Dari Hobi ke Bisnis

Laporan utama kegiatan disko ini disinggung dalam majalah Midi edisi 26 Oktober 1974. Disko dan diskotek mempunyai arti yang berbeda. Disko adalah seperangkat alat music yang disewakan sedangkan diskotek adalah tempat bersantai sambil melantai dengan iringan music rekaman. Dalam tulisan Midi tersebut, pada tahun 1974 sudah ada lebih dari 200 tempat disko. Pun di kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, Semarang dan Surabaya tempat disko pun marak.

Midi menyebut jika disko ini bermula dari kolektor kaset dan piringan hitam serta penggemar alat elektronika dan pecinta radio amatir yang kerap kumpul. Disko juga lahir dari penyiar yang siaran radio non-RRI. Pendek kata, penyelenggaranya dimotori oleh hobi.

Tak ketinggalan, Rano Karno bersama saudaranya pun saat itu mendirikan Karno Disko, dan jaringan radio non-RRI seperti Prambors mendirikan Prambors Disko.

Diantara semuanya, Merindink disko adalah yang paling populer. Diskotek yang berdiri pada tahun 1971 ini memiliki 2 pick up, 600 piringan hitam, amplifier, sejumlah kaset bahkan lampu blitz.

Merindink Disko terbilang modern sebab memiliki alat untuk membuat dekorasi dengan cahaya yang bergerak kesana kemari sesuai irama dan nada lagu.

Alat itu merupakan hibah dari putra Ibnu Sutowo, Adiguna. Ia membelinya di Belanda seharga US$880. Sejak berdiri, Merindink Disko mengantongi keuntungan Rp600.000 dari orang-orang yang melantai atau menyewa alat.

Yang unik, menurut Midi disko lebih sehat bagi remaja dibanding dengan kelab malam. Bahkan kelab malam dilarang di Yogyakarta sehingga disko lebih berkembang.

Menurut Jarome Tadie dan Risa Permanadeli dalam “Night and the City: Club, Brothels and Politics in Jakarta”, yang terbit di Urban Studies, akhir 1960-an Gubernur Ali Sadikin memberi ruang lebar pada bisnis pelacuran, bar, diskotek, dan kelab malam. Kala itu, Jakarta membutuhkan dana untuk pembangunan.

Menurut Alwi Shahab di dalam Betawi Queen of the East, Jalan Mangga Besar semakin ramai dan gemerlapan, awal 1970-an Ali Sadikin mendorong pembangunan berbagai tempat hiburan seperti kelab malam, diskotek dan rumah mesum.

Pada 12 Desember 1970 berdiri diskotek Tanamur yang merupakan akronim dari Tanah Abang Timur. Seorang anak pengusaha tekstil keturunan Arab, Ahmad Fahmy Alhady, mendirikan diskotek ini dengan desain campuran arsitektur masjid dan gereja.

Tanamur dibangun dengan uang sejumlah Rp20 juta dengan interior di tangga bawah ada ruang dansa dan sebuah bar dari kayu serta bangku yang berbantal kulit kambing. Untuk ukuran Tanamur, diskotek ini lebih terjangkau dibandingkan kelab malam lainnya yang ada di Jakarta. Pengunjung dari Tanamur 60% nya merupakan wisatawan asing.

Berdasarkan tulisan dari majalah Zaman edisi 20 April 1980, artis film dan model atau anak-anak orang kaya kerap jadi langganan diskotek. Zaman merinci tariff buat masuk ke diskotek kelas Pitstop atau Oriental di Jakarta Hilton, pengunjung membeli karcis Rp6.000 di akhir pekan.

Pada mulanya, diskotek yang tidak memakai hostes dan floor show kini mulai tergoda untuk menyajikannya, akibatnya diskotek lebih mirip disebut kelab malam.

Baca juga :  Baru Tahu, Ternyata Benda-benda Yang Sering Kamu Pakai Ini Bisa Sebabkan Jerawat

Kelab Malam dan Citra Negatif Diskotek

Ali Sadikin dalam buku autobiografinya, Bang Ali Demi Jakarta 1966-1977 yang ditulis oleh Ramadhan KH menyebut jika kelab malam atau night club serta panti pijat tetap diizinkan buka. Mengingat orang kota butuh akan hiburan.

“Sementara untuk kelab-kelab malam, pusat hiburan lainnya saya adakan pengawasan secara intensif, perayaan tahun baru dan HUT Jakarta saya buka seluas-luasnya, supaya bisa dinikmati seluruh masyarakat,” kata Ali di buku autobiografinya.

Ali pada awal tahun 1970-an menempuh kebijakan guna mengusahakan pengembangan adanya berbagai tempat hiburan serta rekreasi dalam segala bentuk, jenis maupun tingkatannya. Kebijakan tersebut mendapat sambutan hangat dari publik kendati Ali tetap melakukan pengawasan agar tempat hiburan itu masih dalam batas norma kesusilaan.

Ali mengakui jika hal ini tidak gampang sebab masih ada tempat hiburan yang nakal karena didorong oleh nafsu mendapat pemasukan yang layak. Sekalipun Ali mengadakan tim sensor yang terdiri dari unsur-unsur Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah), Pemda DKI Jakarta dan Kejaksaan Agung.

Baca juga :  Punya Rasa Trauma Terhadap Sesuatu? Lakukan 5 Hal ini

Dalam artikel yang dimuat Tempo edisi 20 Maret 1971 yang berjudul “Malam Bayangan dan Kenyataan Night Club antara Terang dan Gelap”, Ali berujar adanya night club bisa menghidupi 5.000 orang, belum termasuk keluarganya. Untuk itu dia bilang jika hal yang dilakukannya mendapat pahala dan kedudukannya lebih tinggi dari maksiat. Tercatat saat itu ada 21 kelab malam, 25 bar dan juga restoran.

Bisnis hiburan malam ini memang menggiurkan para pengusaha yang terlibat di dalamnya. Show impor marak pada 1970-an menurut majalah Ekspres edisi 12 April 1971.

“Mungkin alasan memajukan pariwisata atau usaha ‘memetropolitkan’ Jakarta dari Pemerintah DKI, kedatangan artis terlatih dan serba gairah telah disambut dengan tangan terbuka oleh pengusaha-pengusaha night club atau hiburan malam,” tulis Ekspres.

Jakarta tidak pernah tidur pada malam hari sebab saat itu dimulailah tarian-tarian striptis, erotic, dan beat musisi Filipina. Musisi Indonesia dengan penari yang dilarang buka dada serta celana kian hari makin terjepit. Kalah pamor dari penari dan musisi impor yang ‘menjual’.

Pertunjukan buka dada dan paha ini pertama ditemui di Miraca Sky Club. Kelab malam jadi punya ikon baru yang ditunggu, tarian strip telanjang bulat. Maraca Sky Club merupakan kelab yang didirikan oleh Usmar Ismail yang merupakan tokoh perfilman nasional pada 1967.

Yang terjadi di kelab malam ini juga mengundang protes. Salah satunya adalah dari Ketua Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), Nyonya Andreas. Menurutnya, pertunjukan yang masuk dalam kategori show itu dinilai pertunjukan yang jauh dari adegan hiburan sehat.

“Ia pernah ke Binaria malam-malam dan melihat penari-penari semacam striptis, yang dimainkan mudi-mudi Indonesia,” tulis Ekspres.

Zaman edisi 20 April 1980 juga menulis bahwa pernah timbul polemik tempat hiburan bernama diskotek ini yang konon jadi ajang mesum dan tempat kencan satu malam. Bahkan, pernah disko yang diadakan di siang hari dilarang dibuka berhubung banyak melibatkan para pelacur.

Tak hanya prostitusi, diskotek juga diduga menjadi sarang peredaran transaksi narkoba. Diketahui bahwa Diskotek Tanamur kala itu sangat longgar tanpa menerapkan peraturan apapun, tak heran jika di dalamnya ada transaksi obat-obatan terlarang hingga tawaran dari pekerja seks komersial. Pada tahun 1982 an, narkotika seperti magadon dan valium dengan mudah dapat dicari di Tanamur.

Banyaknya kejadian maksiat yang menuai polemik ditambah Bang Ali yang sudah lengser membuat diskotek dan kelab malam perlahan mulai dibatasi operasionalnya. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Cerita Korban Penyekapan Diduga Oleh Rentenir di Tangerang Diminta Layani Seks

TELENEWS.ID - Polres Metro Tangerang telah meminta keterangan terhadap Sulistyawati (45), korban dugaan penyekapan dan pengancaman gegara persoalan utang di kawasan Ciledug...

Viral Video Belatung di Alat Vital, Ternyata Hewan Kecil Ini Juga Bisa Hidup di Kelamin Manusia

TELENEWS.ID - Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan tagar #belatung. Usut punya usut, tagar yang trending di Twitter dan TikTok ini membicarakan...

10 Jajanan Khas Jawa Timur Identik Dengan Rasa Gurih

TELENEWS.ID - Banyak konsep hidangan berupa jajanan khas memberi cita rasa menarik untuk dijadikan oleh-oleh. Ketika Anda berlibur ke Jawa Timur terdapat...

10 Cara Mudah Pilih Camilan Sehat Untuk Travelling dan Sehari-hari

TELENEWS.ID - Berbicara tentang pemilihan camilan sehat untuk aktivitas travelling dan sehari-hari tentu saja membuka banyak daftar terbaik. Namun, tidak hanya fokus...