Home Gaya hidup Cangkrukan. Budaya Ruang Diskusi

Cangkrukan. Budaya Ruang Diskusi

TELENEWS.ID – Istilah cangkruk atau jagongan merupakan sebuah kata yang tak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya masyarakat Pulau Jawa. Kegiatan cangkruk sudah lama membudaya dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu kala.

Penganut budaya cangkrukan tidak hanya dari kalangan dewasa, namun juga remaja sampai kakek – kakek. Bisa dibilang, cangkrukan bermakna ‘kongkow’ atau membunuh waktu di kala bosan.

Mengapa Orang Begitu Senang Cangkrukan?

Jamaluddin (40) yang merupakan tokoh masyarakat di Mojokerto mengemukakan bahwa cangkruk menjadi kegiatan yang bermanfaat jika ada tujuan dan arah pembicaraan yang jelas.

“orang-orang disini punya jadwalnya sendiri buat cangkruk. Setiap sabtu dan selasa malam. Pembahasannya biasanya seputar agama dan permasalahan sosial” ujarnya ketika dihubungi penulis (4/2/2021).

Namun, ia tidak menampik bahwa pembicaraan yang ngalor ngidul malah semakin seru dan pembahasannya jadi menarik.

Cangkruk sudah berurat dan mengakar menjadi bagian dari kebiasaan dan kultur masyarakat. Tetapi, kembali lagi ke manfaat yang muncul ketika sedang cangkrukan. Apakah cangkruk-cangkruk hanya sekedar untuk menghabiskan waktu?

Secara de facto, masyarakat cerdas dan kritis akan menjadikan saat cangkruk dirindukan karena di sana ada pertukaran ilmu, wawasan dan berbagai hal yang bersifat positif dan konstruktif bagi kehidupan bersama.

Hal ini wajar karena ketika orang-orang yang sedang mengobrol memiliki tingkat kedewasaan dan kematangan tertentu, maka kualitas pembicaraan juga (diandaikan) cukup tinggi. Dengan kualitas seperti ini, berwacana menjadi sehat, mau menerima kritik dan masukan dengan kebesaran hati secara elegan.

Sebaliknya, masyarakat yang secara konsumtif menjalani cangkruk sebagai aktivitas utama dalam kesehariannya, justru menjadi tak bermanfaat. Karakter masyarakat seperti ini dicirikan oleh sikap mudah mengiyakan informasi atau opini publik yang belum jelas kebenarannya.

Bahayanya, masyarakat yang ‘kurang matang’ dalam berwacana sering dijadikan alat untuk menghasut, memprovokasi atau menebarkan membentuk opini publik yang sesat.

Filsuf Inggris Francis Bacon mengatakan, banyak aktivitas dari hidup kita yang membuat kita tidak sampai pada pemahaman yang benar tentang realitas. Banyak pandangan kita yang kurang atau tidak objektif, sehingga muncul sebagai prasangka.

Menurutnya, ada empat macam prasangka yang berpotensi membodohkan dan membiarkan kita hidup dalam kesesatan berpikir.

Baca juga :  Viral di TikTok dan Ditonton 2.3 Juta Kali, Terapis Ini Ungkap 3 Hal Yang Tak Boleh Dilakukan Saat Kamu Jatuh Cinta

Pertama, prasangka yang datang dari sikap pribadi orang yang lebih memilih untuk menutup diri dari komunikasi dialogal-personal. Orang sepandai dan secerdas apapun, bila dia menutup diri dari dialog, akan terbelenggu oleh pemikirannya sendiri.

Kedua, prasangka yang berasal dari cara berpikir kolektif yang sudah akut, seakan-akan karena pola berpikir semacam itu sudah lumrah terjadi dan dianggap benar atau bisa dibenarkan.

Misalnya, terlalu banyak kebiasaan mencontek, diskriminasi dan korupsi, maka perbuatan-perbuatan tersebut bisa dibenarkan. Kolektivisme telah menempatkan massa sebagai kekuatan termasuk dalam cara berpikir, entah benar ataupun salah.

Ketiga, prasangka yang berasal dari opini publik yang berkembang yang mempengaruhi cara kita berpikir, memandang dan menilai sesuatu.

Golongan yang kuat dalam menguasai media massa, kekuasaan dan modal biasanya dengan begitu mudah menghembuskan opini publik yang mempengaruhi cara berpikir masyarakat.

Keempat, prasangka yang berasal dari sistem ideologi dan keyakinan yang berkembang dan mendarah daging dalam cara berpikir masyarakat.

Sistem ideologi dan keyakinan bisa menjebak orang dalam prasangka yang akut karena tidak disadari bahwa sistem-sistem itu pun bisa runtuh dan hilang pengaruhnya.

Baca juga :  Kopi Ternyata Bisa Redakan Gejala Depresi

Bertemu dengan banyak orang setiap hari tentunya akan menjauhkan diri kita dari prasangka negatif dari dalam diri seseorang. Di sinilah fungsi cangkrukan sangat terasa manfaatnya.

Agar kebiasaan cangkruk menjadi perilaku konstruktif bagi masyarakat kita, problema mendasar yang masih perlu dipikirkan adalah bagaimana membuat masyarakat kita semakin cerdas, dijauhkan dari kebohongan publik dan menerima informasi yang mencerdaskan.

Sudah barang tentu ini adalah pekerjaan besar yang menjadi tanggung jawab pelaku kebijakan publik, termasuk para pekerja media yang turut bertanggung jawab memberikan informasi yang benar, jujur dan mencerdaskan masyarakat penontonnya.

Perlu adanya refleksi atas bagaimana kualitas cangkruk kita selama ini. Sudahkah kita turut berperan dalam obrolan-obrolan yang cerdas, kritis, adil dan jujur.

Maka sebaiknya perlu bagi setiap orang yang bekerja bagi kepentingan publik untuk senantiasa proaktif dalam mengembangkan “ruang” cangkruk sebagai sarana berwacana yang sehat, konstruktif dan adil bagi siapa saja. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Entrasol Dukung Pencanangan Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis

TELENEWS.ID - Memperingati Hari Osteoporosis Nasional (HON) yang jatuh pada 20 Oktober 2021, KALBE Nutritionals melalui Entrasol, nutrisi tinggi kalsium dengan ekstrak buah zaitun yang dapat membantu...

Ketahui Penyebab Sering Bermimpi Buruk dan Cara Efektif untuk Mengatasinya

Telenews.id- Mimpi buruk bisa dialami oleh siapa saja, dari berbagai usia. Ini adalah hal yang wajar, dan sejatinya tak perlu membuat seseorang...

Berapa Kali Baiknya Buang Air Besar dalam Sehari? Dokter Ini Punya Jawabannya Plus Tips agar Bisa BAB Rutin

Telenews.id- BAB atau buang air besar secara rutin dianggap sebagai tanda pencernaan dan perut yang sehat. Mereka yang buang air besar secara...

Inilah 5 Zodiak Paling Jujur dan Apa Adanya Menurut Astrologi, Coba Cek Kamukah Salah Satunya?

Telenews.id- Sikap jujur, blak-blakan dan apa adanya ternyata tak dimiliki oleh semua orang. Namun biasanya orang yang jujur cenderung punya sifat blak-blakan....