Home Teknologi Info Tech Google Dikeroyok Gugatan Pemerintah di AS

Google Dikeroyok Gugatan Pemerintah di AS

TELENEWS.ID – Popularitas tidak selamanya terasa asyik. Semakin jauh namamu terdengar, semakin banyak yang ingin mengusik. Hal ini yang sedang dirasakan oleh perusahaan teknologi raksasa Google. Kabarnya, Google sedang ‘dikeroyok’ oleh pihak pemerintah di tanah kelahirannya sendiri, Amerika Serikat (AS).

Dalam kurun dua bulan terakhir, Google menghadapi setidaknya tiga tuntutan antitrust. Mengutip dari Investopedia, undang-undang antitrust adalah undang-undang persaingan yang dikembangkan oleh pemerintah untuk melindungi konsumen dari praktik bisnis yang tidak adil. UU antitrust berfungsi untuk memastikan adanya persaingan sehat dalam ekonomi pasar terbuka. Bisa dibilang, UU antitrust ini digunakan untuk membatasi dominasi perusahaan dalam pasar tertentu dan memberi ruang untuk perusahaan lain ‘mencari makan’ di pasar yang sama.

Oktober 2020 lalu, pemerintah AS melayangkan gugatan melalui Department of Justice (DOJ) kepada Google. Gugatan yang diajukan oleh 11 jaksa agung Republik tersebut menuding Google telah meneken perjanjian eksklusif dengan Apple untuk menjadikan Google mesin pencari default di perangkatnya. Disebutkan, Google membayar Apple sebanyak US$ 12 miliar setiap tahun untuk memperoleh status default pada mesin pencari Google di Safari dan iPhone.

Sejak pengajuan DOJ pada Oktober kemarin, California, Michigan dan Wisconsin ikut bergabung untuk menuntut Google.

Menanggapi gugatan DOJ, Google menganggap tidak ada yang salah dengan pengaturan default pada mesin pencarinya. Karena, pengguna bisa dengan mudah mengubah pengaturan default ke mesin pencari lainnya, jika mereka mau. Sebagaimana yang disampaikan oleh penasihat utama Google, Kent Walker, dalam blognya, “orang menggunakan Google bukan karena harus, namun karena mereka mau (menggunakannya),” tulis Walker.

Kasus kedua dan ketiga terhadap Google kemudian berasal dari koalisi lebih dari 30 negara bagian yang dipimpin oleh jaksa agung Colorado dan Nebraska. Gugatan kedua dan ketiga ini pada dasarnya memiliki argumen yang sama dengan gugatan DOJ, namun ditambah dengan beberapa tuduhan lagi. Negara-negara bagian tersebut bahkan meminta agar gugatan mereka digabungkan dengan DOJ.

Yang paling disorot dari tuntutan ini adalah tudingan bahwa Google memanfaatkan monopolinya atas pencarian di internet (atau yang kita kenal dengan Googling) untuk mendiskriminasi perusahaan yang berspesialisi di bisnis pencarian vertikal.

Baca juga :  Canggih! Pesan Whatsapp Bisa Terhapus Otomatis Dalam 24 Jam

Menurut gugatan tersebut, tujuan dari monopoli ini agar pengguna internet memulai pencariannya dengan Google dibandingkan menggunakan mesin pencari vertikal. Menurut TechTarget, pencarian vertikal mirip dengan pencarian umum, namun pencarian vertikal lebih tersegmentasi dan terfokus pada niche tertentu.

Dominasi seperti ini dinilai ilegal oleh gugatan tersebut, karena tujuan dan efeknya adalah untuk memperkuat pangsa Google di pasar penelusuran, bukan untuk mengarahkan pengguna ke hasil terbaik.

Hanya satu hari sebelum koalisi Colorado Nebraska mengajukan kasusnya, sekelompok negara bagian lainnya yang dipimpin oleh Texas mengajukan gugatan mereka sendiri. Kali ini, fokusnya adalah kendali Google atas periklanan digital.

Menurut beberapa penelitian, Google mengontrol hingga 90 persen dari rantai pasokan periklanan digital. Setiap kali ditemukan iklan pada situs web, kemungkinan besar pengiklannya menggunakan Google untuk membeli slot iklan, sedangkan penerbit menggunakan Google untuk menyediakan ruang iklan. Kedua pihak tersebut membuat kesepakatan dalam lelang otomatis di bursa iklan Google.

Menurut keluhan negara bagian, Google mengeksploitasi kontrolnya atas saluran periklanan untuk memberlakukan kondisi yang tidak adil pada pengiklan dan penerbit. Google juga disebut mendiskriminasi perusahaan teknologi iklan kompetitor dan meraup potongan yang lebih besar dari iklan digital.

Baca juga :  Canggih! Pesan Whatsapp Bisa Terhapus Otomatis Dalam 24 Jam

Menanggapi tuduhan tersebut, Google justru bersikeras bahwa sektor iklan saat ini masih bersifat sangat kompetitif. Untuk tuduhan dengan Facebook, Google mengatakan tidak ada yang istimewa dari kesepakatan yang dijalin oleh kedua perusahaan tersebut. Menurut Google, Facebook merupakan salah satu dari banyak perusahaan lainnya yang berpartisipasi dalam program lelang terbuka milik Google.

Melihat dari kasus-kasus yang lalu, proses penyelesaian gugatan yang dihadapi Google bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun. Terlebih, tidak menutup kemungkinan muncul gugatan yang lain. Google pun harus menghabiskan waktu tersebut untuk menangkis kasus-kasus yang ada, persis seperti yang Microsoft lakukan lebih dari dua dekade lalu.

Waktu itu, fokus Microsoft menjadi terpecah sehingga memberi ruang untuk perusahaan lain, seperti Google, untuk berkembang pesat hingga hari ini. Siklus dinamis yang terulang seperti ini akan mengubah kembali industri teknologi, tak peduli siapa yang akan menang pada akhirnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Desa Wisata Ini Diprediksi Bakal Hits di Tahun 2022, Yuk Simak Apa Saja Daftarnya

TELENEWS.ID - Banyak solusi ketika Anda ingin mencari destinasi liburan bersama keluarga ataupun teman-teman dengan tema desa wisata. Saat ini trend mengunjungi...

Pemerintah Enggan Rekrut CPNS di Tahun 2022, Ternyata Ini Alasannya

TELENEWS.ID - Banyak informasi mengenai Pemerintah yang tidak akan melakukan perekrutan CPNS di tahun 2022. Kemudian dari aspek penambahan jumlah ASN juga...

Salah Satunya Bikin Awet Muda, 5 Alasan Kamu Harus Pakai Serum Vitamin C Mulai Dari Sekarang!

TELENEWS.ID - Serum menjadi salah satu skincare yang sekarang menjadi salah satu kebutuhan wanita masa kini. Rasanya perawatan wajah tak akan lengkap...

Berkaca Dari Supir Kecelakaan Maut Balikpapan, Ini 5 Tips Agar Tak Bangun Kesiangan

TELENEWS.ID - Berbagai fakta mengejutkan terungkap pasca kecelakaan maut yang terjadi di tanjakan Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/1/2022) pagi. Salah satunya,...