Home Nasional Ibukota Akan Pindah, Bagaimana Pertahanan Udaranya?

Ibukota Akan Pindah, Bagaimana Pertahanan Udaranya?

TELENEWS.ID – Pemindahan Ibukota negara ke Penajam, Paser Utara, Kalimantan Timur harus dibarengi dengan pertahanan udara yang maksimal. Karena, posisi Ibukota tersebut berada di lokasi yang rawan dengan serangan udara. Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa sudah mengajukan anggaran untuk memperkuat sistem persenjataan dan juga personel untuk memperkuat pertahanan di wilayah IKN tersebut.

TNI saat ini memiliki jumlah total 445 kekuatan udara yang terdiri dari 41 unit pesawat tempur, kemudian 22 dedicated attack, 66 unit transportasi, 126 trainers, 17 pesawat yang digunakan untuk misi khusus, 1 pesawat tanker, 172 helikopter, dan juga 15 helikopter serang yang saat ini tercatat masih aktif dan layak untuk digunakan.

Data yang diperoleh dari Global Fire Power tahun 2022 mencatat bahwa Indonesia memiliki anggaran untuk militer sebesar Rp. 166 Triliun yang menjadi negara dengan anggaran terbesar kedua di Asia Tenggara. Andika Perkasa memiliki beberapa rencana untuk bisa memaksimalkan alutsista yang ada, sebab hingga saat ini belum ada alutsista baru, khususnya pertahanan udara yang sudah diterima oleh Indonesia.

“Kalaupun yang baru belum ada kami akan geser, relokasi dari aset-aset kami di titik-titik yang yang ada,” ujar Andika.
Alutsista yang diajukan oleh Andika bukan hanya alat pertahanan saja, namun juga penambahan personel. Karena belum ada alutsista yang akan diterima dalam waktu dekat, maka Andika akan melakukan rotasi terhadap personel yang ada dan juga alat pertahanan yang sudah siap saat ini.

Rentan Daerah Konflik

Secara geografis, lokasi dari Nusantara ini berada di Lepas Samudera Pasifik dan sebelah selatan dari Laut China Selatan. Wilayah tersebut yang sekarang ini sedang panas karena ada konflik antara Indonesia dan juga Tiongkok mengenai Natuna.

Baca juga :  Menkes Tetapkan Status PSBB Untuk DKI Jakarta

Berdasarkan Konvensi PBB mengenai Hukum Laut, bagian ujung dari Laut China Selatan adalah zona ekonomi eksklusif milik Indonesia yang dinamakan Natuna Utara. Indonesia dan juga China saling mengklaim bahwa daerah tersebut milik kedua negara karena ada sumber minyak di bawah laut.

Selain itu, Amerika Serikat juga memiliki kepentingan lain di wilayah tersebut dan memiliki pangkalan militer di kawasan Pasifik, tepatnya di Guam dan juga Jepang. Armada Militer Amerika Serikat bersiaga di wilayah Laut China Selatan untuk mengantisipasi skenario paling buruk menyusul perang dagang antara Washington dan juga Beijing beberapa tahun terakhir ini.

Indonesia, sebagai negara yang berada di kawasan tersebut tentu saja harus waspada dan bersiaga jika ada konflik antar kedua negara tersebut. Oleh karenanya, pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara juga harus dibarengi dengan kekuatan militer. Terlebih, Indonesia akan berpindah ke lokasi yang rawan dengan konflik yang nantinya akan mengancam kedaulatan negara. (Latief)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Waspada! Ada Aplikasi dan Web Ilegal MyPertamina, Jangan Asal Akses

TELENEWS.ID - Masyarakat perlu berhati-hati terhadap akses situs dan aplikasi MyPertamina yang dianggap ilegal. Sudah beredar situs dan aplikasi...

Hasil Kunjungan Jokowi ke Ukraina, Pembahasan Soal Perdamaian dan Kondisi Ukraina Saat Ini

TELENEWS.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengadakan pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Istana Negara Ukraina, Maryinsky, Kyiv pada Rabu (29/06/2022)...

Update Hasil Pertandingan Petronas Malaysia Open 2022 – 29 Juni 2022

TELENEWS.ID – Hari kedua babak 32 besar dalam turnamen Petronas Malaysia Open 2022 pada Rabu (29/06/2022) di Axiata Arena, Kuala Lumpur, menghasilkan...

Update Hasil Pertandingan Petronas Malaysia Open 2022 – 28 Juni 2022

TELENEWS.ID – Turnamen tertinggi versi BWF, Petronas Malaysia Open 2022 telah digelar pada Selasa (28/06/2022) di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia. Sayangnya,...