Home Nasional Investigasi RAN Temukan Operasional RGE Hambat Konservasi

Investigasi RAN Temukan Operasional RGE Hambat Konservasi

TELENEWS.ID – Hasil investigasi dari Rainforest Action Network (RAN) telah mendapati ada perusahaan kehutaan raksasa Royal Golden Eagle (grup RGE) yang masih menyuplai dari pabrik serta produsen minyak sawit yang telah dikeluarkan dari daftar.

Diketahui dalam daftar ada sebagian besar pemasok minyak sawit dunia yang dikeluakan karena melanggar kebijakan nol deforestasi dan perusakan lahan gambut. Dua tahun sebelumnya, RGE juga terungkap sebagai pendorong deforestasi di hutan Singkil Bengkung yang merupakan Kawasan Ekosistem Leuser.

Hal tersebut didasarkan pada bukti yang dikumpulkan oleh penyelidik lapangan RAN dimana tandan buah segar (TBS) sawit yang ditanam di perkebunan yang dioperasikan oleh perusahaan minyak sawit nakal yakni PT Laot Bangko yang telah dipanen dan diangkut ke pabrik PT Sawit Semesta yang telah dikeluarkan dari rantai pasok beberapa perusahaan merek dunia. Namun, ternyata PT Global Sawit Semesta diketahui tetap menjual minyak sawit mentah ke kilang minyak sawit yang dioperasikan RGE. Jelas ini melanggar aturan.

Temuan tersebut disebut Maggie Martin selaku perwakilan dari RAN menjadikan perusahaan besar dunia dan berbagai bank yang bersinggungan dan memiliki kerjasama bisnis dengan RGE ikut terlibat dan gagal mengakhiri deforestasi dalam rantai pasok minyak sawit serta portofolio keuangan mereka. Diantaranya mereka yang terlibat adalah Unilever, Kao, Procter and Gamble, PepsiCo, Mondelēz, Nestlé, dan Colgate-Palmolive, serta MUFG, ABN Amro, dan ICBC.

Kegagalan RGE Group untuk mematuhi kebijakan dasar nol deforestasi dan pembangunan di lahan gambut (NDPE) seharusnya menjadi tanggung jawab besar bagi perusahaan yang masih terus menjalin bisnis kerjasama dengan perusahaan kontroversial seperti yang tersebut di atas.

“Padahal konsumen dunia semakin menuntut agar bank-bank dan perusahaan merek untuk menghentikan perusakan hutan dari rantai pasokan atau portofolio keuangan mereka,” sambungnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/6).

Adapun PT Laot Bangko diungkap oleh investigasi RAN telah berulang kali merusak hampir 300 ha hutan yang menjadi habitat dari gajah dan orangutan Sumatra yang terancam punah sejak tahun 2014. Temuan tersebut diungkap pada tahun 2018 dan 2019 melalui tangkapan citra satelit yang ditemukan aktivitas pembukaan hutan secara terus menerus lalu berlanjut hingga awal tahun 2021.

Baca juga :  Hari ini, Pasien Positif Corona di Indonesia Berjumlah 450 Orang

Selain itu, data investigasi RAN juga mendapati nama APICAL selaku anak perusahaan grup RGE yang masih mempertahankan kemitraan usaha patungannya dengan Kao meskipun minyak sawit bermasalahnya terbukti dipasok dari produsen yang menghancurkan habitat terakhir gajah dan orangutan Sumatra di Kawasan Ekosistem Leuser.

Martin kemudian melanjutkan bahwa sebuah petisi daring bahkan sudah dicetuskan pada laman situ change.org/knowyourbank oleh TuK INDONESIA. isi dari petisi tersebut berupa tuntutan agar Bank MUFG dan anak perusahaannya yakni Bank Danamon, berhenti mendanai program deforestasi, kebakaran serta pelanggaran HAM yang langgeng di Indonesia.

MUFG menjadi bank yang ikut bertanggung jawab atas masalah deforestasi, konflik lahan serta kebakaran dan asap yang terjadi dalam operasional grup RGE karena sudah tercatat sebagai penyandang dana besar bagi korporasi atau perusahaan milik Sukanto Tanoto tersebut.

Kegagalan merek-merek besar seperti Kao, Unilever, Procter and Gamble, PepsiCo, Mondelēz, dan Nestlé untuk mengeluarkan RGE dari rantai pasok utama mereak merupakan sebuah pelanggaran nyata atas kebijakan NDPE perusahaan-perusahaan tersebut.

Baca juga :  Hari ini, Pasien Positif Corona di Indonesia Berjumlah 450 Orang

Kucuran dana ABN Amro dan MUFG kepada RGE itu juga jelas menyalahi dan bertentangan dengan kebijakan NDPE untuk pembiayaan minyak sawit korporasi tersebut. Martin menambahkan bahwa bank-bank ini harus segera meninjau dan menangguhkan pembiayaan mereka ke RGE.

Baru-baru ini RGE juga terungkap telah ikut terlibat dalam deforestasi di kawasan hutan dan lahan gambut strategis di Kalimantan Utara melalui perusahaan bayangan pemasok kayu pulp, PT Adindo Hutani Lestari yang tercatat sebagai pemasok pabrik pulp dan bubur kertas grup APRIL.

Oleh sebab itu, RAN menyebut jika ada ratusan kasus yang belum selesai telah menunjukkan kegagalan total RGE untuk menyelesaikan konflik dan pelanggaran hak-hak masyarakat adat dan lokal yang terdampak pembangunan perkebunannya.

Ironisnya, berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh RAN pada bulan Desember tahun 2020, RGE tidak memiliki kebijakan dan prosedur yang memadai dalam menghormati hak-hak masyarakat adat serta masyarakat lokal untuk sekadar memberi suara dengan menyatakan memberi atau menolak memberi persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan (Padiatapa/FPIC) terkait pembangunan di tanah mereka. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Startup Indonesia Lakukan PHK Besar, Ada Apa?

TELENEWS.ID – Beberapa hari lalu, perusahaan startup Indonesia seperti LinkAja, Zenius, SiCepat, dan JD.ID melakukan pemutusan hubungan kerja kepada sejumlah karyawannya. Hal...

Elon Musk Batal Bangun Pabrik Tesla di India, Peluang Indonesia Semakin Besar

TELENEWS.ID – Dikutip dari India Times dan ABP Live, Elon Musk memutuskan untuk tidak berinvestasi di India dalam membangun pabrik mobil Tesla...

Ibukota Akan Pindah, Bagaimana Pertahanan Udaranya?

TELENEWS.ID - Pemindahan Ibukota negara ke Penajam, Paser Utara, Kalimantan Timur harus dibarengi dengan pertahanan udara yang maksimal. Karena, posisi Ibukota tersebut...

Pemprov DKI Mengandalkan SPAM untuk Mengatasi Akses Air Bersih

TELENEWS.ID - Untuk mengatasi masalah banjir dan juga menanggulangi masalah air bersih di DKI Jakarta, Pemprov DKI Jakarta mendapatkan kucuran dana dari...