Home Teknologi Gadget Kata Sains, Ini Alasan Manusia Terobsesi dengan Barang Mahal Seperti iPhone 14

Kata Sains, Ini Alasan Manusia Terobsesi dengan Barang Mahal Seperti iPhone 14

TELENEWS.ID – Euphoria iPhone 14 sudah mulai terasa di ranah dunia maya. Sebagai smartphone high end, peluncuran iPhone terbaru memang selalu sukses menyita perhatian banyak orang, meski produk terbaru keluaran Apple ini rencananya bakal dirilis secara resmi pada Apple Event 13 September 2022 mendatang.

Meskipun begitu, di ranah media sosial sudah wara-wiri mengenai spesifikasi dan varian warna dari iPhone 14 ini. Tak hanya mengusung teknologi paling canggih dan mutakhir, harga smartphone para “sultan” ini juga jadi sorotan banyak orang.

Mengutip dari Forbes, iPhone 14 sendiri akan dilempar ke pasaran dengan harga USD 799 dan USD 899 atau setara Rp. 13 juta. Tentu saja harga yang cukup fantastis untuk sebuah telpon genggam yang hampir setiap tahun meluncurkan produk baru mereka.

Meskipun begitu, rupanya sudah banyak orang yang bersemangat dan bahkan rela mulai menabung dari sekarang untuk bisa memiliki smartphone super canggih dan prestisius ini.

Membeli barang-barang mahal dengan harga fantastis memang menjadi kebiasaan sejumlah orang. Tak hanya mereka yang cukup mampu secara finansial, bahkan orang-orang yang mungkin termasuk golongan menengah kebawah juga banyak yang suka membeli barang-barang branded dengan harga fantastis seperti iPhone dan produk Apple yang lainnya.

Rupanya ilmu pengetahuan khususnya psikologi telah lama memperhatikan kecenderungan manusia yang terobsesi dengan barang-barang mahal dan mewah. Studi menunjukkan bahwa kita menghargai barang-barang mahal daripada yang lebih murah. Ini dikenal sebagai “marketing placebo effect.” Sejumlah penelitian ilmiah juga menunjukkan tentang bagaimana biaya memengaruhi persepsi kita.

Secara tidak sadar kita akan berpikir bahwa harga sangat penting bagi pemahaman kita tentang nilai, sehingga terkadang kita menilai barang mahal sebagai yang lebih unggul atau lebih efektif, bahkan jika kualitasnya sama persis dengan barang yang lebih murah.

Dalam satu studi oleh The California Institute of Technology (Caltech) dan Stanford University, orang mendadak menilai se-botol wine memiliki kualitas yang lebih tinggi jika diberi tahu bahwa harganya mahal. Pada pencitraan resonansi magnetik fungsional atau pemindaian MRI fungsional yang diambil dari otak mereka saat mereka sedang minum anggur yang “mahal” ini, menunjukkan bahwa peserta penelitian mengkonsumsinya jauh lebih banyak

Baca juga :  Rumor Hadirnya iPhone Terbaru di Tahun 2021

Dalam penelitian lain yang menggunakan obat pereda nyeri peserta yang menggunakan obat penghilang rasa sakit palsu yang diberi tahu biayanya $2,50 per pil, mengalami pengurangan rasa sakit yang lebih banyak daripada peserta yang diberi tahu bahwa pil itu hanya berharga 10 sen saja.

Michael Norton, seorang psikolog dan profesor administrasi bisnis di Harvard Business School mengatakan: “Faktanya, kita mungkin menganggap barang yang harganya dua kali lebih mahal juga memiliki kualitas yang dianggap dua kali lebih baik pula. Kita termotivasi untuk berbelanja secara royal, karena kita mencari pengalaman yang memuaskan”.

Selain itu dia juga menegaskan bahwa ketika konsumen mengumpulkan pengalaman yang tak terlupakan degan membeli barang-barang mahal misalnya, mereka merasa memperoleh rasa pencapaian, kemajuan, dan meningkatkan harga diri mereka.

Baca juga :  Kominfo Targetkan 2022 Seluruh Pelosok Desa Terkoneksi Jaringan 4G

Bagi sebagian konsumen, barang mewah bisa sangat membantu dalam meningkatkan harga diri atau memberikan rasa memiliki. Pengakuan akan pencapaian adalah alasan lain mengapa beberapa orang membeli barang mewah.

Namun kecuali jika seseorang memiliki pekerjaan yang bagus dengan gaji yang tinggi, atau telah mengembangkan kebiasaan menabung yang fantastis; membeli barang-barang yang mewah dapat menimbulkan beban keuangan yang tidak semestinya.

Sayangnya banyak konsumen yang membeli barang-barang mewah tidak dalam posisi finansial untuk mampu membelinya. Ini artinya banyak konsumen tidak bertindak secara rasional dan tidak sesuai dengan kepentingan finansial terbaik mereka untuk membeli barang-barang mewah ini. (Yuyun Amalia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Bukan Beras Merah, Inilah Sumber Karbohidrat Terbaik untuk Perut yang Langsing

TELENEWS.ID - Selama ini nasi merah dianggap sebagai sumber karbohidrat terbaik pengganti nasi atau beras putih. Memiliki indeks glikemik lebih rendah dari...

5 Resep Kulit Sehat dan Awet Muda ala Cameron Diaz yang Wajib Dicoba Semua Wanita!

TELENEWS.ID - Sebentar lagi usia bintang Hollywood, Cameron Diaz akan genap 50 tahun. Namun ibu satu anak ini masih tampak tetap cantik...

Dialami Almarhum Tjahjo Kumolo, Ini 5 Tanda Kelelahan yang Tak Boleh Diabaikan

TELENEWS.ID - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo meninggal dunia pada Jumat, (01/07/2022) pada pukul 11.10 WIB....

Tips Menyimpan Bawang Merah Segar dan Tahan Lama Saat Harganya Mulai Melonjak Naik

TELENEWS.ID - Harga bawang merah dilaporkan perlahan naik. Bahkan di beberapa daerah di tanah air, harga bawang merah dikabarkan menembus angka 95...