Home Nasional Kisruh Partai Demokrat: Ketika Moeldoko Melengserkan AHY

Kisruh Partai Demokrat: Ketika Moeldoko Melengserkan AHY

TELENEWS.ID – Dunia politik Indonesia kembali panas dengan adanya kisruh di Partai Demokrat yang memasuki babak baru. Kali ini mencapai klimaksnya setelah Moeldoko dipilih menjadi Ketua Umum melalui KLB menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY.

Penunjukan Moeldoko sebagai Ketua Umum ini memang bukan hal yang mengejutkan karena sebelumnya memang sudah beredar rumor demikian.

Dianggap Sebagai Dagelan

Agus Harimurti Yudhoyono tentu saja tidak mau tinggal diam dengan adanya pengambilalihan yang dilakukan oleh kader Partai Demokrat ini. Dalam tanggapannya, AHY mengatakan bahwa KLB yang diadakan di Deli Serdang ini adalah dagelan. Karena menurutnya sebuah KLB dikatakan sah apabila ada persetujuan dari Ketua Majelis Tinggi Partai.

Entah apa yang dimaksud dengan dagelan ini? Jika dilihat dari struktur organisasi partai, Ketua Majelis Tinggi adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak lain adalah ayah dari AHY. Sudah pasti, SBY tidak akan mau melengserkan jabatan anaknya meskipun KLB tersebut diajukan secara resmi.

Sang Ketua Majelis Tinggi juga tidak mau tinggal diam dengan adanya pengambilalihan kekuasaan di partai tersebut. Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pidato di depan publik beberapa saat setelah pengumuman Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB.

“Hari ini kami berkabung, Partai Demokrat, Partai Demokrat berkabung, sebenarnya bangsa Indonesia juga berkabung, berkabung karena akal sehat telah mati, sementara keadilan supremasi hukum dan demokrasi sedang diuji,” kata SBY ketika mengawali pidatonya.

SBY mungkin mencoba memancing empati dari rakyat Indonesia, dengan mengatakan hari berkabung bagi bangsa Indonesia. Namun, rakyat sepertinya malah memiliki sebuah tontonan baru yang sayang jika dilewatkan momen-momen serunya. Tontonan Mayor vs Jenderal ini yang dianggap sebagai hiburan murah dan bahkan gratis.

Apakah ini Karena SBY?

Banyak yang menilai, kisruh di Partai Demokrat saat ini adalah buah dari perbuatan SBY ketika berkuasa saat menjadi presiden lalu. Salah satu tokoh yang dengan lantang mengatakan hal tersebut adalah Anas Urbaningrum.

Melalui I Gede Pasek Suardia, Anas ingin SBY mengakui apa yang dilakukannya ketika mengancam melalui pesan singkat ketika Musyawarah Daerah yang diadakan di Sulawesi Utara. Selain itu juga mantan Ketua KPK Antasari Azhar merasa kasus yang menjeratnya saat itu adalah kriminalisasi yang dilakukan oleh penguasa, dalam hal ini adalah SBY itu sendiri.

Déjà vu sepertinya terjadi saat ini di mana ketika SBY berkuasa, sempat terjadi hal yang sama namun menimpa Partai Kebangkitan Bangsa. Saat itu terjadi dualisme kepemimpinan antara Gus Dur dan Muhaimin Iskandar. Konflik internal sempat terjadi saat itu, namun SBY lebih memenangkan Muhaimin Iskandar.

Baca juga :  PAN minta DPR Fokus Bantu Pemerintah Tangani Covid-19

Jika dualisme kepemimpinan PKB di era SBY murni terjadi karena ada konflik internal, yang terjadi di Partai Demokrat saat ini tidak hanya melibatkan internal partai saja namun juga dari kalangan eksternal. Bedanya juga, saat itu PKB yang diketuai oleh Muhaimin, popularitasnya ikut merangkak naik. Sedangkan popularitas Partai Demokrat cenderung menurun.

Moeldoko: dari Secangkir Kopi jadi Ketua Umum

Dagelan politik tidak hanya ada di kubu AHY dan SBY saja, namun juga dari Sang Jenderal, yakni Moeldoko. Isu Moeldoko akan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat ini sebenarnya sudah terdengar sejak Januari 2021 yang lalu. Namun, Sang Jenderal tersebut tidak mengakui ada isu dirinya akan menjadi Ketua Umum PD.

Moeldoko kemudian mengunggah foto dirinya sedang memegang secangkir kopi dengan tulisan “Aku Ngopi-Ngopi, kenapa ada yang grogi?”. Dalam unggahannya tersebut, Moeldoko bercerita sedikit mengenai filosofi kopi versi dirinya. Dirinya mengambil sudut pandang kebiasaan pria ketika sedang ngopi yakni bisa mengobrol dengan topik yang bebas.

Baca juga :  Bantuan Sosial Rp.3 Juta Untuk Ibu Hamil dan Balita

Moeldoko mengatakan juga bahwa kopi itu sangat baik untuk kebutuhan wawasan, dan lagi menurut Moeldoko, untuk ngopi saja kenapa harus meminta izin. Tentu saja hal ini menyindir salah satu pasal yang ada di Partai Demokrat, di mana untuk penyelenggaraan KLB harus mendapatkan izin dari Majelis Tinggi PD yakni Susilo Bambang Yudhoyono.

Kisruh di Partai Demokrat ini sepertinya masih terus berlanjut, di mana akan ada kejutan-kejutan berikutnya yang ditunggun oleh rakyat. Banyak yang menilai bahwa kisruh di Partai Demokrat ini sebagai salah satu upaya untuk mendongkrak popularitas PD yang sudah anjlok. Namun, yang pasti, beberapa tokoh penting di PD berasal dari kalangan militer.

Moeldoko, Susilo Bambang Yudhoyono, dan AHY adalah 3 tokoh sentral di Partai Demokrat yang mana semuanya adalah perwira Angkatan Darat. Tentu saja sebagai perwira yang pernah memegang komando, memiliki strategi khusus untuk bisa memenangkan pertempuran. Meskipun terjadi dualisme kepemimpinan, tujuan mereka semua adalah satu yakni menaikkan elektabilitas dari Partai Demokrat itu sendiri yang anjlok. (Latief)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Serba Serbi Metatah, Ritual ‘Potong Gigi’ Wajib Bagi Remaja Bali

TELENEWS.ID - Bali mempunyai segudang ritual unik yang tiada duanya. Salah satunya adalah 'metatah' atau upacara potong gigi yang dilakukan untuk menandai...

Ada Apa Denganmu, Emre Can?

TELENEWS.ID - Dikenal sebagai gelandang tengah berkelas kala membela Liverpool, kiprah Emre Can malah kian melempem di Borussia Dortmund saat ini. Apa...

Makan Korban Tewas, Sistem Autopilot Mobil Tesla Jadi Sorotan

TELENEWS.ID - Meski diklaim sebagai kendaraan masa depan, nyatanya sistem teknologi mobil Tesla masih dipertanyakan. Belum lama ini, mobil listrik karya Elon...

Kenali ‘Doorway Effect’, Gejala Mendadak Lupa Saat Hendak Melakukan Sesuatu

TELENEWS.ID - Pernahkah anda seketika lupa hendak melakukan sesuatu sesaat setelah melewati ambang pintu dapur, kamar mandi atau kamar tidur anda? Tenang,...