Home Gaya hidup Kokoh di Saat Pandemi, Industri Farmasi dan Alkes Harus Berinovasi

Kokoh di Saat Pandemi, Industri Farmasi dan Alkes Harus Berinovasi

TELENEWS. ID – Maraknya tingkat penularan Covid-19 telah mengubah pola seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Dari sisi ekonomi, sudah banyak pula usaha yang terpaksa gulung tikar dan merumahkan karyawannya akibat pembukuan laba yang merosot tajam. 

Tak hanya itu, penerapan PSBB juga menghambat rantai produksi dan distribusi bahan baku dari luar negeri. Hal ini disebabkan banyak negara yang menutup sementara aksesnya. Belum lagi, kurs dollar fluktuatif dan tidak stabil.

Di sisi lain, pandemi menjadi seleksi alam bagi beberapa industri yang mampu bertahan. Industri yang kuat bertahan umumnya yang terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti obat-obatan, alat kesehatan, gas, listrik, air bersih, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, otomotif, perbankan, telekomunikasi dan teknologi informasi. 

Sementara, di sektor retail masih mampu bertahan dengan memanfaatkan penjualan melalui e-commerce. 

Industri alat kesehatan dan farmasi sudah tentu mendapat permintaan yang tinggi di masa pandemi. Semakin tingginya tingkat penularan virus Covid-19, secara langsung meningkatkan pula permintaan berbagai alat kesehatan untuk rumah sakit maupun untuk kebutuhan keluarga. 

Oleh karena itu, Martin Manurung anggota komisi VI DPR RI meminta pelaku usaha farmasi dan alat kesehatan atau alkes lebih ditingkatkan dan diberdayakan. Agar mampu membawa dampak yang positif terhadap penjualan obat-obatan dan alat kesehatan. 

Saat ini, walaupun vaksin dikabarkan telah sampai di Indonesia, namun permintaan alat kesehatan masih tinggi. Seperti diketahui, vaksin Sinovac impor dari Cina telah masuk ke Indonesia pada hari Minggu (6/12) sebanyak 1,2 juta dosis. Rencananya, vaksin ini akan didatangkan secara bertahap hingga tahun depan. 

Sementara itu, permintaan alat kesehatan yang masih tinggi meliputi masker, thermometer infrared non contact, antiseptic hand sanitizer, Alat Pelindung Diri (APD), sarung tangan karet (examination glove), safety google anti virus, kaca face shield, dan masih banyak lagi. 

Terlihat jelas, bahwa perusahaan alat kesehatan dan industri farmasi menjadi sangat penting perannya dalam turut mempercepat penanggulangan Covid-19 melalui pemenuhan kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan bagi masyarakat Indonesia. 

Seperti yang dikatakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta beberapa waktu lalu, pemerintah selalu mendorong agar sektor industri farmasi dan alat kesehatan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat domestik, sehingga secara bertahap akan mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk impor. 

Bahan baku obat dari alam yang ada di Indonesia dapat dikembangkan menjadi bahan substitusi impor untuk industri farmasi dalam rangka pengembangan obat modern berbasis bahan alam. Dengan demikian, diharapkan dapat menjadi daya saing yang mampu menarik para investor, baik yang berasal dari domestik maupun luar negeri. 

Baca juga :  Terungkap! Racun Laba Laba Bisa Ringankan Penyakit Jantung

Untuk menciptakan ekosistem industri yang kondusif, dibutuhkan kerjasama yang baik antara Kementerian dengan lembaga lainnya dalam hal regulasi dan kebijakan terkait. Misalnya, di sektor alat kesehatan, yaitu pengadaan ventilator yang digunakan untuk membantu dalam penanganan pasien Covid-19. 

Sebelumnya Indonesia masih belum mampu memproduksi ventilator sendiri. Namun, tiga bulan sejak pandemi Covid-19, Kemenperin telah mempertemukan pelaku industri dengan akademisi dari berbagai perguruan tinggi untuk sama-sama memproduksi ventilator.

Produksi ventilator ini ternyata memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 80 persen. Hal ini berarti kita telah mampu memproduksi ventilator sendiri, dan ini cukup membanggakan. 

“Rata-rata TKDN dari alat kesehatan mencapai 25-90 persen dan patut kita jaga agar produksi alat kesehatan dapat terus mengoptimalkan pemakaian bahan baku dalam negeri,” kata Agus Gumiwang. 

Baca juga :  Penyakit Stroke di Usia Muda

Data yang tercatat di Kemenperin pada kuartal 1 tahun 2020, industri kimia, farmasi dan obat tradisional mampu mencapai hingga 5,59 persen akibat dampak pandemi Covid-19. Hal ini salah satu sektor yang masih memiliki permintaan cukup tinggi di pasar.

Bahkan, Kemenperin juga berupaya mewujudkan kemandirian sektor industri Tekstil dan Produksi Tekstil (TPT) dan mendorong mereka agar berhasil memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), masker yang digunakan tenaga medis, dan masker kain yang digunakan oleh masyarakat.

Selain itu, hingga Desember 2020 terjadi peningkatan produksi pakaian bedah sebanyak 13,2 juta buah, masker bedah sebanyak 1,96 miliar buah, pelindung medis sebanyak 356,6 juta buah, dan masker kain sebanyak 377,7 juta buah.

Untuk itu, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 57 Tahun 2020 yang memberikan kesempatan bagi pelaku industri TPT untuk memproduksi alat pelindung diri seperti masker bedah, pakaian pelindung medis dan pakaian bedah guna memenuhi permintaan dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri.

Untuk itulah, masih terbuka luas kesempatan bagi industri farmasi dan alat kesehatan di Indonesia untuk terus tumbuh dan mandiri, sehingga mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Tentunya, pemerintah juga harus menciptakan iklim yang kondusif agar dapat mendorong industri untuk melakukan inovasi.

Penulis: Dwi Eppy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Dispatch Bongkar Rahasia Kencan Idol Korea

TELENEWS.ID - Bagi kamu pecinta industri hiburan Korea tentu sudah tidak asing dengan media yang cukup fenomenal yakni Dispatch. Layaknya Lambe Turah...

Maeda Tadashi, Samurai Jepang yang Membantu Kemerdekaan Indonesia

TELENEWS.ID - Kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari peran penting beberapa tokoh tanah air yang ingin bebas dari belenggu penjajah. Namun, jangan...

Pemprov DKI Menghentikan Pembiayaan Ajang Formula E

TELENEWS.ID - Penyelenggaraan Formula E yang sedianya dilaksanakan tahun ini harus tertunda akibat adanya pandemi Covid-19. Tidak kunjung mendapatkan kejelasan, pihak DKI...

Pengadaan Rapid Test, Pemprov DKI Melakukan Pemborosan 1,19 Miliar

TELENEWS.ID - BPK merilis Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) mengenai laporan keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hasilnya, dalam laporan tersebut Pemprov DKI Jakarta...