Home Olah Raga Kompetisi Sepak Bola Dalam Negeri Malah Meredam Prestasi di Kancah Internasional

Kompetisi Sepak Bola Dalam Negeri Malah Meredam Prestasi di Kancah Internasional

TELENEWS.ID – Sepak Bola merupakan salah satu olahraga peringkat pertama yang menjadi favorit bagi masyarakat dunia termasuk Indonesia. Pesta sepak bola di berbagai turnamen dalam negeri maupun mancanegara nyaris tidak ada yang terlewatkan baik disaksikan oleh masyarakat melalui siaran TV maupun pemberitaan di media sosial.

Namun sayangnya besarnya kecintaan masyarakat Indonesia kepada sepak bola, kecintaan dan dukungan masyarakat Indonesia kepada pemain baik daerah maupun tim nasional Indonesia, banyaknya pemain dan pelatih berkualitas serta upaya pelatihan untuk tim nasional sepak bola. Semuanya tidak sebanding dengan prestasi yang didapatkan selama ini. Indonesia cukup minim prestasi dan masih bertengger di bawah peringkat 150 besar dunia. Padahal pemain Indonesia selalu menjadi incaran club sepak bola luar negeri. Terakhir ada beberapa pemain timnas Indonesia muda yang berhasil mencicipi club sepak bola Eropa.

Kisruh politik dalam organisasi induk tertinggi sepak bola Indonesia, PSSI, juga menjadi penyebab tidak berkembangnya prestasi timnas. Hal ini memberikan efek domino hingga saat ini kepada persepakbolaan tanah air yang berdampak sulitnya timnas berkembang dan mengikuti kompetisi mancanegara.

Piala Presiden merupakan salah satu bentuk kegagalan organisasi induk sepak bola Indonesia mengurus dan memajukan prestasi sepak bola tanah air. Piala Presiden bergulir sejak tahun 2015. Kompetisi tertinggi di tanah air ini terbentuk akibat sanksi FIFA kepada PSSI karena adanya dualisme kepemimpinan saat itu hanya demi berebut kekuasaan kursi ketua umum PSSI. Dualisme kepemimpinan ini muncul berawal dari mosi tidak percaya yang dilayangkan voters PSSI. Hal ini menghasilkan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) yang dipimpin La Nyalla Mattalitti yang juga merupakan anggota komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2011-2016.

Dalam pertentangan dengan PSSI, La Nyalla tidak sendiri, adapun beberapa anggota komite Exco lain yang juga ikut mendukung La Nyalla antara lain Toni Apriliani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi Budiman. Sedangkan pada kubu PSSI ada ketua umum PSSI saat itu, Djohar Arifin, Farid Rahman, Sihar Sitorus, Tuti Dau, Mawardi Nurdin, Widodo Santoso, dan Bob Hippy. Hal ini adalah bukti bahwa PSSI merupakan wadah untuk mendapatkan kekuasaan politik semata bukan menaungi timnas Indonesia untuk mengharumkan nama bangsa.

Dualisme ini akibat dari lahirnya Indonesia Premier League (IPL) dengan PT Liga Prima Indonesia Sportindo selaku operator. Terbentuknya IPL membuat anggota komite Eksekutif (Exco) PSSI akhirnya membentuk kubu baru dengan menolak seluruh program yang dibentuk kepemimpinan PSSI yaitu KPSI. Terbentuknya KPSI membuat PSSI tidak tinggal diam dan memberikan reaksi dengan menjatuhkan sanksi kepada 18 club sepak bola Indonesia yang mengikuti kompetisi di bawah KPSI. Akibat sanksi ini dan perseteruan internal PSSI, kompetisi sepak bola Indonesia akhirnya berhenti sementara.

Selain terhadap organisasi induk sepak bola Indonesia, dualisme juga akhirnya terjadi kepada kepemimpinan sejumlah club dengan ada yang memilih mengikuti kompetisi di bawah PSSI, dan ada yang lebih memilih kompetisi di bawah PSSI. Beberapa club tersebut antara lain Persija (Jakarta), Arema (Malang) dan Persebaya (Surabaya).

Sebelumnya pada tahun 2014, akibat berlarut-larutnya dualisme di tubuh PSSI, club Indonesia dan tim nasionalnya juga sudah sering mengalami kegagalan dalam membawa nama baik negara di pertandingan internasional. Salah satunya adalah Persipura (Jayapura) yang nyaris gagal ikut dalam kompetisi Piala Champions Asia 2014. Kegagalan Persipura ini juga diikuti dengan kegagalan Timnas Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2014 yang kalah setelah bertanding dengan Bahrain. Akibat hal ini dualisme kepemimpinan pun semakin memuncak dan berkepanjangan. Banyak pihak juga menyetujui bahwa penanganan PSSI untuk seluruh hal mengenai sepak bola Indonesia jauh dari kata baik.

Ketidakpuasan beberapa pihak terhadap PSSI tersebut semakin menguatkan KPSI dalam berlaga merebut pengaruh dikancah sepak bola tanah air. KPSI dan PT Liga Indonesia pun akhirnya mengadakan kongres luar biasa (KLB) untuk memperkokoh posisinya sebagai organisasi yang selanjutnya agar diterima oleh negara. Namun FIFA tidak sejalan dengan keinginan KPSI tersebut dengan meminta PSSI untuk mengembalikan seluruh klub yang telah bergabung dengan KPSI ke PSSI.

Karena dualisme kepemimpinan ini juga, akhirnya muncul dua kompetisi yaitu Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman. Dua kompetisi ini dibentuk demi menyelamatkan banyak pemain Indonesia yang jatuh miskin dan menjadi pengangguran karena tidak adanya kompetisi dan mematikan pendapatan mereka. Kedua kompetisi ini juga diselenggarakan oleh pihak swasta yang ditunjuk pemerintah. Piala Presiden sendiri merupakan turnamen tertinggi yang menggantikan Liga Super Indonesia yang tidak bisa dilaksanakan akibat sanksi FIFA terhadap PSSI.

Baca juga :  Bukan Uang, Inilah Motivasi Erling Haaland untuk Pindah Klub

Akhirnya pada 13 Mei 2016, FIFA mencabut sanksi kepada PSSI dan Liga Super Indonesia yang saat ini berganti nama menjadi Liga 1 diizinkan kembali bergulir. Sejak saat itu Piala Presiden menjadi awal dari pembukaan musim kompetisi di Indonesia atau turnamen pramusim menyambut Liga 1.

Awalnya Piala Presiden memang menjadi penyelamat bagi sejumlah atlet sepak bola dalam negeri yang kehilangan pendapatannya karena bergantung pada kompetisi. Namun sayangnya sejak tahun 2018, Piala Presiden malah menjadi penyebab kegagalan timnas Indonesia meraih hasil maksimal dalam kompetisi mancanegara.

Salah satu kompetisi mancanegara yang terdampak akibat adanya Piala Presiden adalah Piala Asia atau AFC Cup. AFC Cup sendiri merupakan kompetisi yang diadakan khusus untuk negara yang berada di zona kontinental Asia, serta diadakan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia. Piala Asia juga merupakan salah satu turnamen tertua kedua di dunia setelah Copa America. Piala Asia diadakan sejak tahun 1956 di Hongkong dan diadakan setiap 4 tahun sekali.

Baca juga :  Jens Petter Hauge Dikeluarkan Dari Skuad Liga Europa

Berbeda dari turnamen sepak bola pada umumnya, Piala Asia ini diikuti oleh club sepak bola yang berada di peringkat 5 besar dari setiap negara. Pada tahun 2018, jadwal diadakannya Piala Presiden mengalami bentrok dengan Piala Asia. Saat itu club sepak bola Indonesia yang berhasil mewakili Indonesia adalah Persija Jakarta dan Bali United. Karena mengalami bentrok inilah kedua club tidak fokus dalam mengikuti kedua pertandingan.

Selain itu pemain dari kedua club juga tidak memiliki waktu istirahat yang cukup karena terlalu padatnya jadwal bertanding. Pelatih juga harus memutuskan mana peluang yang lebih besar untuk dapat dimenangkan clubnya dan akan mengorbankan salah satu turnamen. Alhasil saat itu kedua pelatih Persija dan Bali United memutuskan untuk lebih mengorbankan Piala Asia dibandingkan kompetisi dalam negeri. Persija dan Bali United menurunkan pemain lapis kedua untuk menghadapi lawan dalam Piala Asia karena pemain utama mereka akan fokus bertanding memperebutkan Piala Presiden.

Keputusan ini diambil mengingat kemungkinan memenangkan pertandingan lebih besar dengan prestasi dan pengalaman pemain Indonesia yang masih minim dikancah turnamen internasional. Selain itu tuntutan pelatih untuk memberikan trofi kepada club dengan ancaman pemecatan juga membuat pelatih mengambil jalan pintas dengan mengorbankan kompetisi internasional yang sebenarnya lebih bernilai bagi bangsa Indonesia.

Dampak jangka panjang yang akhirnya dirasakan Indonesia pun muncul. Persija dan Bali United akhirnya gagal dalam mengikuti Piala Asia bahkan pada babak kualifikasi. Keduanya berakhir pada peringkat terakhir dan tidak lolos ke babak play off. Efek domino yang dirasakan selanjutnya adalah sepak bola Indonesia mengalami penurunan koefisien club Liga 1 pada Rangking AFC. Koefisien Club pada Peringkat AFC adalah sistem peringkat yang diberikan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sejak tahun 2014. Peringkat ini diberikan kepada sepak bola suatu negara yang berpartisipasi dalam turnamen Piala Champions Asia dan AFC Cup (Piala Asia).

Karena peringkat Indonesia yang jatuh akibat kegagalan dua wakilnya sekaligus dalam Piala Asia 2018 lalu, ancaman sepak bola Indonesia menghantui hingga saat ini. Jika wakil Indonesia kembali gagal dalam Piala Asia 2022 mendatang, maka Indonesia terancam tidak bisa menurunkan wakilnya dalam turnamen Liga Champions Asia mendatang.

Pada Januari 2022 lalu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) merilis rangking terbaru kompetisi di Asia, tepatnya pada 17 Januari 2022. Peringkat inilah yang akan menjadi penentu apakah suatu negara berhak mengirimkan wakilnya untuk berlaga pada Piala Asia (AFC Cup) dan Liga Champions Asia atau tidak. Mengutip dari Footy Rangkings, kompetisi sepak bla yang menduduki peringkat pertama adalah Liga 1 Arab Saudi dengan meraih 100,000 poin. Peringkat ini diikuti secara berturut-turut oleh Jepang, Korea Selatan, dan Uzbekistan. Sedangkan Liga 1 Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-25 dengan peraihan poin 10,947. Peringkat ini masih lebih baik dibandingkan dengan Liga 1 Singapura yang berada di posisi ke-26 dan Liga 1 Australia yang berada di posisi ke-29.

Dengan hasil ini, Indonesia masih mendapat kesempatan untuk mengirimkan wakilnya untuk ikut dalam kompetisi Liga Champions Asia. (Angela Limawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Deretan Destinasi Incaran Wisatawan Berkonsep Alam dan Budaya di Papua, Simak Daftarnya

TELENEWS.ID - Berbicara seputar deretan tempat wisata unggulan sekaligus menjadi incaran semua wisatawan lokal sampai mancanegara pastinya memberi penawaran menarik.

Dianggap Berjasa, Layakkah Brigadir Yoshua Diangkat Sebagai Pahlawan?

TELENEWS.ID - Pengacara Brigadir Nopriansyah Yoshua Hutabarat, Kamaruddin Simanjuntak meminta Presiden Joko Widodo untuk mengangkat Brigadir Josua sebagai pahlawan pada peringatan HUT...

Sebelum Harga Mie Instan Naik 3 Kali Lipat, Yuk Cobain 5 Tips Makan Mie yang Sehat dan Bergizi

TELENEWS.ID - Harga mie instan dikabarkan akan mengalami kenaikan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut ada kemungkinan bahwa makanan cepat saji favorit...

Terbukti, Gigi Putih Bersih Bikin Kamu Terlihat Awet Muda dan Menarik di Mata Lawan Jenis

TELENEWS.ID - Gigi yang putih dan bersih memang menyenangkan untuk dilihat. Mereka yang memiliki gigi putih, bersih dan rapi menjadi penanda bahwa...