Home Gaya hidup Kesehatan Lelara Flu Spanyol 1918 di Indonesia

Lelara Flu Spanyol 1918 di Indonesia

TELENEWS.ID – Pada bulan Juni tahun 1918, seorang penyair asal Inggris yang ikut wajib militer saat Perang Dunia , Wilfred Edward Salter Owen menulis surat ke ibunya. Dalam suratnya tersebut, ia awali dengan laporan terkait tumbangnya para tentara yang terkena influenza.

Bagi orang inggris, penyakit influenza tergolong jinak dan lazim. Tak ayal, bukan sebuah keprihatinan yang didapat oleh Owen, namun justru isi suratnya tersebut berbuah olok-olok dari rekan-rekannya. Mereka menganggap apa yang ditulis oleh Owen hanya sebuah lelucon.

Di dalam buku Living with Enza: The Forgotten Story of Britain and Great Flu Pandemic of 1918, Mark Honigsbaum menulis, di benak orang-orang Inggris pada 1918, ancaman nyata bukan influenza, tetapi perang.

Namun, apa yang dikisahkan Owen—yang tewas kala menyeberangi jembatan di Sambre-Oise di utara Perancis pada 4 November 1918, sepekan sebelum gencatan senjata—menjadi nyata. Influenza itu jadi wabah mengerikan, yang dikenal dunia dengan flu Spanyol.

Muasal yang Terlalu Sumir

Kirsty Walker dalam tulisannya ‘The Influenza Pandemic of 1918 in Southeast Asia’ yang dimuat dalam buku Histories Health in Southeast Asia: Perspective on the Long Twentieth Century menyebut bahwa flu spanyol menyebar dengan kecepatan yang menakutkan dan massif ke penjuru eropa, amerika serikat dan asia tenggara pada Juni 1918.

Gina Kolata di dalam buku Flu: The Story of the Great Influenza Pandemic of the 1918 and the Search for the Virus that Caused it (2005) mengungkap, tentara Amerika di Prancis menyebut gejala flu ini dengan demam tiga hari, tubuh memanas, wajah memerah, dan kepala terasa terbelah. Setelah berkeringat, panas menghilang. Namun, mual dan muntah berlangsung hingga dua minggu.

Negara-negara Eropa yang terlibat dalam Perang Dunia I cenderung merahasiakan wabah ini. Namun, pers di spanyol sangat semangat dan massif memberitakannya. Maka, dunia kemudian mengenalnya sebagai flu spanyol. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa hal tersebut bukan berarti mengindikasikan penyebaran virus itu berasal dari spanyol.

Ravando Lie, Kandidat PhD di University of Melbourne yang mendalami sejarah kesehatan mengatakan bahwa asal muasal virus flu spanyol ini sejatinya masih menjadi perdebatan.

Sejumlah sumber juga menulis informasi yang berbeda. Ravando mengatakan bahwa seorang virologis asal Australia yang menggeluti masalah influenza, Frank Macfarlane Burnet menyebut, penyebaran virus berasal dari Camp Funston dan Haskell County di Kansas, Amerika Serikat.

Sedangkan menurut North China Daily News seperti yang dikutip Pewarta Soerabaia menyebut jika pandemic ini berasal dari Swedia dan Rusia kemudian menular ke China, Jepang dan Asia Tenggara.

Sementara menurut epidemiolog amerika, flu ini berasal dari buruh China dan Vietnam yang dipekerjakan oleh militer Inggris dan Prancis kala Perang Dunia I.

Selain istilah ‘penyakit aneh’, ‘penyakit rahasia’ dan ‘pilek spanje’, menurut Ravando istilah flu Rusia juga pernah digunakan oleh Pewarta Soerabaia kendati epidemic flu Rusia telah berakhir sejak 1890.

Adapun flu spanyol berdasarkan analisis sebenarnya lebih erat disebabkan oleh babi daripada unggas. Ravando menambahkan bahwa dalam sejarah umat manusia, flu spanyol merupakan penyakit menular paling mematikan melebihi pes, cacar dan kolera.

Flu yang termasuk virus influenza H1N1 ini menurut Taubenberger JK dan Morens DM dalam “1918 Influenza: The Mother of all Pandemics” di Emerging Infectious Diseases telah menyebabkan sebanyak 500 juta orang di seluruh dunia terinfeksi.

Jumlah korban saat itu diperkirakan 50-100 juta orang atau 3-5 persen populasi bumi saat itu. Angka korban akibat pandemi ini bahkan lebih besar dibandingkan korban Perang Dunia I yang hanya menggugurkan 18 juta orang saja.

Menular ke Hindia Belanda

Penyebaran flu Spanyol ke Hindia Belanda menurut Ravando terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi pada bulan Juli-September 1918. Dugaannya, penyakit ini ditularkan oleh penumpang kapal yang baru saja tiba dari Singapura sebab berdasarkan hasil investigasi polisi air terhadap beberapa kapal penumpang, seperti Meetsuycker, Singkarah, dan Van Imhoff, ditemukan banyak penumpang terserang flu ini.

Baca juga :  Kopi Ternyata Bisa Redakan Gejala Depresi

“Virus ini bahkan menjangkiti seluruh penumpang dan awak kapal Toyen Maru yang saat itu baru tiba di Makassar, setelah berlayar dari Probolinggo,” ujar Ravando.

Sementara itu, gelombang kedua terjadi pada bulan Oktober-Desember 1918. Di kawasan Hindia Belanda bagian timur, penyakit ini bahkan berlanjut hingga akhir Januari 1919.

“Laporan Dinas Kesehatan Sipil (Burgerlijken Geneeskundigen Dienst/BGD) Hindia Belanda tahun 1920 bahkan menyebutkan, seluruh desa di Hindia Belanda hampir tidak ada yang tidak terinfeksi influenza,” kata Ravando.

Akibatnya, infeksi flu spanyol pun meluas. Disebutkan dalam surat kabar Tjahaja Timoer edisi 29 Juli 1918 bahwa ratusan penderita di Batavia, Bandung, Cimahi, Magelang, Sukabumi, Yogyakarta, Surabaya dan beberapa kota besar di Jawa lainnya meninggal dunia. Bahkan, di Medan dan Deli lonjakan penderita mengakibatkan rumah sakit di Ombilin Sawahlunto kewalahan dan kekurangan tempat.

Baca juga :  Wajib Diketahui! Inilah 4 Tanda Imunitas Tubuh Mulai Menurun

Hingga November 1918, jumlah korban flu Spanyol di Hindia Belanda kemungkinan sekitar 1,5 juta jiwa.

Meski demikian, pelaporan morbiditas dan mortalitas secara resmi di Hindia Belanda sangat tidak akurat sebab daftar kematian kurang lengkap, catatan hilang, dan kesalahan diagnosis.

Cukup sulit menemukan statistic yang akurat mengingat jumlah penduduk Hindia Belanda saat itu belum diketahui dengan pasti. Sensus penduduk pertama baru diadakan pemerintah kolonial pada 1920 sehingga besar kemungkinan ada banyak korban di daerah-daerah terpencil yang tidak tercatat.

Berdasarkan laporan Siddharth Chandra dalam “Mortality from the Influenza Pandemic of 1918-19 in Indonesia”, terbit di jurnal Population Studies, flu Spanyol menghabisi populasi sebesar 23,71% di Karesidenan Madura, 21,13% di Keresidenan Banten, 20,62% di Karesidenan Kediri, 17,54% di Karesidenan Surabaya, dan 16,62% di Karesidenan Cirebon.

Usaha Mencegah Persebaran Virus

Dilaporkan oleh surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 22 Agustus 1919, flu spanyol menyebabkan banyak orang mendaftarkan asuransi jiwa di usia muda. Dampaknya, flu spanyol membuat perusahaan asuransi Arnhem merugi.

Flu spanyol juga ikut mempengaruhi peningkatan kasus kriminalitas seperti kasus kekerasan, perampokan, serta pembunuhan di beberapa daerah di Hindia Belanda. Tentunya flu spanyol ikut mendorong kecemasan massal di Hindia Belanda kala itu.

Di sisi lain, surat kabar Algemeen Handelsblad edisi 1 Maret 1919 mengabarkan, kekeringan dan flu Spanyol menjadi penyebab gagal panen pada 1918.

Sebagai upaya mencegah kejatuhan sosial ekonomi lebih jauh, pemerintah kolonial berupaya mengatasi epidemic dengan melakukan penelitian di laboratorium, mengadakan propaganda kesehatan dan menerbitkan influenza ordonnantie.

Para pembesar dan dokter kemudian diminta mengeluarkan aturan keras untuk memblokade penumpang kereta api dan kapal laut untuk mencegah penularan. Surat kabar Kaoem Moeda edisi 22 Juni 1918 menulis bahwa BGD mempertimbangkan untuk memperketat penjagaan pelabuhan dengan tujuan menangkal persebaran flu spanyol.

Salah satu upaya propaganda kesehatan yang dilakukan pemerintah kolonial pada saat itu adalah menerbitkan buku saku pedoman berjudul Lelara Influenza. Buku ini diterbitkan oleh Balai Poestaka. Di dalamnya berisi serangkaian anjuran kesehatan dalam percakapan tokoh wayang, dengan memakai bahasa dan huruf jawa.

Penulis buku Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, Prayitno Wibowo menulis bahwa laboratorium kedokteran di Batavia pada tahun 1919 telah menemukan obat berupa tablet untuk menyembuhkan penderita flu Spanyol.

Komposisi tablet tersebut terdiri dari 0,050 aspiri, 0,100 camphora dan 0,150 pulvis doveri. Dalam produksi perdananya, sebanyak 100.000 butir tablet ini berhasil didistribusikan kepada masyarakat sehingga sedikit banyak bisa mengurangi penularan dan korban jiwa di Hindia Belanda. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Menurut Penelitian, Pria dengan 7 Sifat Ini yang Bakal Jadi Pasangan Terbaik Untukmu

TELENEWS.ID - Bagi wanita memilih pasangan bukanlah hal yang main-main. Banyak hal yang harus mereka pertimbangkan sebelum memilih pasangan, baik untuk menjadi...

Membongkar 5 Mitos Seputar Operasi Caesar, Proses Melahirkan yang Dipilih Nagita Slavina

TELENEWS.ID - Pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina akhirnya menimang buah hati mereka yang kedua. Pada Jumat, 26 November 2021 kemarin, Gigi...

Mengenal Oversharing, Kebiasaan Menggunakan Medsos yang Bisa Membuatmu Kehilangan Privasi

TELENEWS.ID - Di zaman seperti sekarang ini hampir segala sesuatu dibagikan oleh orang-orang di media sosial. Mulai dari aktivitas setelah bangun tidur...

Makanan yang Membantu Mengatasi Selulit Secara Alami

TELENEWS.ID - Sejatinya adalah hal yang normal dan lumrah jika wanita memiliki selulit pada kulit atau tubuh mereka. Namun tak bisa dipungkiri...