Home Ekonomi Memasuki Revolusi Industri 4.0, Indonesia Sudah Siap?

Memasuki Revolusi Industri 4.0, Indonesia Sudah Siap?

TELENEWS.ID – Dari skala kecil hingga skala besar, guna memenuhi kebutuhan hidup manusia dunia telah mengalami beberapa fase perubahan terhadap cara-cara memproduksi barang dan jasa. Melalui sebuah proses inovasi dalam teknologi, perubahan-perubahan itu dilakukan dan diberdayakan.

Pada suatu waktu ini, momentum penggunaan inovasi teknologi dalam proses produksi telah mengubah perilaku manusia.suatu waktu ini disebut dengan revolusi industri. Adapun revolusi industri yang terjadi saat ini memasuki revolusi industri fase keempat yang dikenal dengan revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan penggunaan cyberphysical systems analysis dalam berbagai proses produksinya.

Sementara itu tiga revolusi industri sebelumnya ditandai dengan penggunaan mesin uap (industri 1.0), penggunaan listrik (industri 2.0) dan penggunaan komputer untuk otomatisasi (industri 3.0)

Di sisi lain, revolusi industri yang terjadi dapat menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk. Hal ini tergantung pada kesiapan dalam memanfaatkan momentum perubahan yang terjadi. Tercatat dalam sejarah bahwa revolusi industri telah memicu pergolakan dan pemberontakan yang datang terutama dari kaum buruh yang pekerjaannya mulai tergantikan oleh mesin. Sementara itu, pemilik faktor produksi mendapatkan keuntungan dengan peningkatan jumlah produksi yang berkali-kali lipat diikuti dengan kemampuan menekan biaya pegawai dengan upah murah nan rendah.

Cakupan perdagangan yang didorong oleh revolusi industri kemudian menjadi lebih luas. Hanya bermodalkan kemampuan memproduksi komoditas yang tinggi dengan barang yang relatif terdiferensiasi, maka langkah berikutnya yang ditempuh adalah mencari pangsa pasar seluas-luasnya. Dari hal tersebut mengindikasikan terjadi dampak turunan lain dari revolusi industri terhadap kehidupan sosial-ekonomi di seluruh dunia.

Meskipun demikian, dari tiga fase revolusi industri permasalahan yang muncul adalah masalah pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan yang terus berlangsung sampai mencapai revolusi industri 4.0 saat ini.

Dalam cuap-cuap industri 4.0, fase industri 4.0 ini menawarkan proses produksi yang lebih canggih dari sebelumnya yang jelas saja membuat industri semakin padat modal dan menggunakan lebih sedikit tenaga kerja manusia yang digunakan. Di sini dapat dikatakan bahwa kemampuan seseorang dalam teknologi dan ilmu pengetahuan berjalan seiringan dan menjadi sangat penting.

Sayangnya, dampak dari industri yang padat modal ini akan memunculkan masalah pengangguran terutama bagi tenaga kerja dengan pendidikan serta keterampilan yang rendah. Meningkatnya pengangguran akan meningkatkan jumlah penduduk yang miskin karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup minimalnya.

Sementara itu, revolusi industri 4.0 akan terus dibayangi oleh ketimpangan karena adanya perbedaan faktor-faktor produksi yang dimiliki. Revolusi industri 4.0 tentu meningkatkan terjadinya konsentrasi kekayaan yang membuat kesenjangan sosial.

Sementara itu ketimpangan akan terus membayangi revolusi industri 4.0 karena adanya perbedaan faktor-faktor produksi yang dimiliki (terjadinya konsentrasi kekayaan). Inovasi teknologi adalah sesuatu yang mahal dan tidak semua orang dapat mengaksesnya.

Pada akhirnya, kepemilikan teknologi dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi ini akan memberikan lebih banyak keuntungan pada para pemilik faktor produksi. Hal tersebut yang mengingatkan kembali kepada pemerintah bahwa kehadiran para pemegang kepentingan tersebut penting untuk meminimalisir ketimpangan maupun kesenjangan yang terjadi.

Baca juga :  Ini Alasan Pengamat Sarankan RI Tolak Aset Kripto

Menilik Kesiapan Indonesia di Industri 4.0

World Economic Forum bekerjasama dengan AT Kearney mengeluarkan sebuah laporan mengenai kesiapan produksi di masa depan yang melibatkan 100 negara di tahun 2018.

Dalam laporan itu, mereka membagi empat klasifikasi kesiapan 100 negara tersebut berdasarkan kemampuan berproduksi di masa depan menggunakan dua indikator utama yang masing-masing indikator dibagi lagi menjadi sub-sub lainnya yakni struktur produksi serta penggerak produksi.

Sebenarnya, Indonesia telah memasuki kategori nascent yakni negara dengan dasar produksi terbatas yang menunjukkan produksi rendah untuk masa depan yang ditunjukkan dengan performa yang lemah di indikator penggerak produksi.

Menurut laporan tersebut, kelemahan Indonesia dalam industri 4.0 ada pada beberapa indikator yakni struktur produksi, teknologi dan inovasi, perdagangan global dan investasi, sumber daya manusia, kerangka institusi serta keberlangsungan sumber daya alamnya.

Saat ini, kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya sedikit banyak telah menunjukkan bagaimana kesiapan Indonesia dalam menghadapi industri 4.0 namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dari kondisi ekonomi Indonesia saat ini diantaranya deindustrialisasi yang sedang terjadi di Indonesia. deindustrialisasi Indonesia menunjukkan kontribusi manufaktur terhadap PDB yang perlahan terus mengalami penurunan.

Baca juga :  Pajak Kekayaan : Solusi Pulihkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Yang kedua adalah komoditas ekspor utama masih mengandalkan sumber daya alam Indonesia yang belum mempunyai nilai tambah. Yang ketiga, angkatan kerja serta tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah. Yang keempat, defisit neraca perdagangan yang terjadi sebab impor minyak yang tinggi dan peningkatan impor barang konsumsi.

Bagaimana Menjawab Tantangan Industri 4.0?

Inovasi teknologi yang didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang tinggi merupakan kunci dari industri 4.0. guna mendapatkan kualitas sumber daya manusia yang tinggi, didapat dari pendidikan yang tinggi pula. Sementara untuk mendapatkan kualitas sumber daya manusia yang tinggi didapat dari pendidikan yang tinggi kualitasnya sehingga dapat melakukan riset dan pengembangan sebagai jalan pada inovasi teknologi, akses terhadap hal ini sayangnya tidak mudah didapat oleh semua orang.

Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pendidikan yang berkualitas di Indonesia dan perkembangan teknologi itu mahal. Sehingga di sinilah munculnya kebutuhan akan peran pemerintah sebagai penyeimbang yang akan meminimalisir ketimpangan yang terjadi.

Pada 2019, langkah pemerintah Indonesia untuk fokus pada perbaikan sumber daya manusia dengan peningkatan kualitas pendidikan sebenarnya sudah tepat. Akan tetapi, hal ini tidak bisa jalan sendiri tanpa adanya inovasi teknologi.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mendorong kemajuan inovasi teknologi dengan meningkatkan pendanaan atau belanja pada riset dan pengembangan yang masih kalah dengan negara-negara tetangga, mendorong peningkatan hak paten, memudahkan tahapan hak paten, menjembatani kerjasama antara institusi pendidikan dengan industri dan mencari pasar hasil produksi inovasi.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan oleh Pemerintah ini diharapkan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hal ini agar permasalahan yang muncul akibat revolusi industri 4.0 seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan dapat diminimalisir. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Berkaca Pada Celine Evangelista, Begini Cara Menciptakan Hubungan yang Sehat dengan Ibu

TELENEWS.ID - Hubungan Celine Evangelita dengan ibundanya, Vicentia Nurul kembali memanas. Belum lama ini Vicentia membongkar aib Celine, terkait kandasnya rumah tangga...

Jakarta International Stadium: Mega Proyek yang Dilalui 5 Orang Gubernur DKI

TELENEWS.ID - Jakarta International Stadium atau JIS adalah salah satu mega proyek Indonesia yang menyimpan banyak makna. Tidak hanya sarat dengan capital...

Jangan Panik, Ini Tips untuk Mengatasi Anak-anak yang Tidak Suka Makan Sayur dan Buah

TELENEWS.ID - Anak-anak memang tidak begitu menyukai buah dan sayuran. Padahal kedua jenis makanan itu merupakan sumber serat yang baik bagi kesehatan...

Rachmat Gobel Diisukan Jadi Menteri Pertanian?

TELENEWS.ID - Nama Rachmat Gobel belakang santer diisukan akan menjadi jajaran kabinet Presiden Jokowi. Rumor tersebut adalah pertimbangan dari beberapa pengamat politik...