Home Ekonomi Memulihkan Indonesia dari Kondisi Resesi

Memulihkan Indonesia dari Kondisi Resesi

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal ketiga 2020 berada di angka minus 3,49 persen. Sebelumnya, pada kuartal kedua 2020 ekonomi RI juga terkonstraksi alias negatif. Dengan figur seperti ini, Indonesia dalam kondisi resesi.

Meskipun demikian, secara kuartalan ekonomi sudah mulai tumbuh sebesar 5,05%. Namun, secara kumulatif masih terkontraksi 2,03%.

Dibandingkan kuartal kedua 2020, realisasi pertumbuhan ekonomi membaik. Karena, sebelumnya di kuartal kedua itu terjadi kontraksi yang cukup dalam yang mencapai 5,32% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dihitung secara tahunan, semua komponen mengalami kontraksi dengan konsumsi rumah tangga mencatatkan penurunan paling dalam.

Selain Indonesia, beberapa negara lain yang juga telah mengalami resesi. Amerika Serikat, Singapura, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, dan Hong Kong, termasuk di antara negara-negara yang sedang berjuang menghadapi resesi ini.

Pemerintahan negara-negara tersebut, mau tidak mau harus menerapkan kebijakan untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Sebagian besar dengan menerapkan pembatasan sosial atau lockdown yang berisiko menurunkan kegiatan ekonomi masyarakat. Dana Moneter Internasional (IMF) telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami kontraksi hingga 4,4 persen.

Burden Sharing Pemerintah dengan BI

Sebelumnya, pemerintah Indonesia yang telah mengantisipasi kemungkinan penurunan ekonomi ini sudah mengambil beberapa langkah yang diperlukan. Salah satu yang paling penting adalah seperti yang telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidato anggaran tahunannya di Jakarta, Agustus 2020 lalu.

Menurut Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia akan meningkatkan pengeluaran tahun 2021 mendatang untuk membiayai defisit anggaran dalam upaya menstabilkan kembali ekonomi yang terguncang karena pandemi Covid-19. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, pemerintah meminta bantuan kepada Bank Indonesia (BI).

Pengeluaran di tahun 2021, diproyeksikan naik 0,3% menjadi 2,747,5 triliun, atau setara dengan US$ 185,2 miliar. Sementara, pendapatan ditargetkan naik 4,5% menjadi 1.776,4 triliun rupiah.

Baca juga :  Kemenkraf Buka Pendaftaran Bantuan Insentif untuk Pelaku Ekonomi Kreatif

Dengan pengeluaran tersebut, produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan dapat tumbuh 4,5% -5,5% tahun depan. Sementara, defisit fiskal diperkirakan akan menyempit menjadi 5,5% dari PDB di 2021. Sebelumnya, defisit fiskal tahun ini adalah 6,34% PDB.

Perekonomian Indonesia sempat menyusut 5,32% pada kuartal kedua 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bagi Indonesia, ini adalah kontraksi pertama yang terjadi dalam lebih dari dua dekade. Pemerintah memangkas perkiraan PDB untuk tahun ini menjadi 0,2% pertumbuhan.

Indonesia sedang mengalami krisis terparah dalam lebih dari dua dekade karena pembatasan pergerakan untuk memerangi pandemi dan penurunan permintaan global. Dengan turunnya pendapatan pemerintah, Presiden Jokowi meminta bantuan Bank Indonesia untuk berbagi beban.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan apa yang disebut dengan perjanjian pembagian beban dengan Bank Indonesia adalah pengaturan satu kali. BI akan membeli $ 27 miliar obligasi langsung dari pemerintah tahun ini. “Bank sentral akan tetap menjadi pembeli siaga obligasi yang dijual oleh pemerintah untuk memenuhi defisit tahun depan,” ujar Sri Mulyani.

Baca juga :  Benarkah Tesla Tertarik Untuk Masuk RI?

Pengaturan pembagian beban Bank Indonesia dengan pemerintah untuk tahun 2020 tentunya akan menempatkan reputasi BI pada peningkatan risiko. Meski begitu, sepertinya tidak ada alternatif yang lebih pas untuk penyelamatan bank sentral. Pemerintah perlu segera meningkatkan pengeluaran untuk mencegah krisis ekonomi-kesehatan yang bersifat ganda ini. Namun, hal itu membutuhkan penerbitan lebih banyak obligasi daripada yang dapat diserap pasar dengan biaya pinjaman yang terjangkau.

Pemerintah akan memfokuskan pengeluaran untuk mempercepat pemulihan ekonomi dari pandemi. Karena, hal itu juga akan mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Sebelumnya, presiden Jokowi telah menegaskan bahwa krisis yang ditimbulkan oleh pandemi adalah kesempatan untuk menghidupkan kembali sistem ekonomi, hukum, kesehatan, dan pendidikan bangsa dan membawanya ke jalur untuk menjadi negara maju.

Penulis: Cyna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Kenali Beberapa Risiko Penyakit dan Karakteristik Berdasarkan Golongan Darah

TELENEWS.ID - Apapun yang berkaitan dengan golongan darah tampaknya selalu menarik untuk disimak. Informasi mengenai diet sesuai golongan darah ataupun karakteristik seseorang...

Jumlah Miner Kripto Berkurang, Stok Kartu Grafis Diprediksi Segera Normal

TELENEWS.ID - Kabar baik bagi para pemilik PC gaming yang hendak meng-upgrade perangkat mereka, stok kartu grafis (VGA) disebut akan segera meningkat....

Disamakan Dengan Musuh Batman, Jeff Bezos Dilarang Balik Ke Bumi

TELENEWS.ID - Belum juga berangkat ke luar angkasa, Jeff Bezos sudah dilarang kembali ke bumi. Belum lama, beredar sebuah petisi online yang...

Untung Saja Belanda Masih Punya Mathijs De Ligt

TELENEWS.ID - Kemenangan meyakinkan Belanda kontra Austria membuktikan bahwa mereka beruntung masih memiliki Mathijs De Ligt. Bek sentra belia Juventus itu mampu...