Home Travel Destinasi Peninggalan Megalitik di Pulau Samosir (Bag. 2)

Peninggalan Megalitik di Pulau Samosir (Bag. 2)

TELENEWS.ID – Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan keragaman budaya. Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tersebar di beberapa provinsi dengan berbagai budaya di setiap daerah.

Salah satunya adalah Provinsi Sumatera Utara. Provinsi yang memiliki 25 Kabupaten dan 8 Kota ini memiliki adat istiadat yang cukup unik untuk ditelusuri.

Tentu saja, dari masing-masing Kabupaten juga terdapat beberapa Kecamatan dan Kelurahan yang memiliki beragam desa yang masih memegang teguh budaya dan adat istiadat leluhur.

Sebut saja Samosir. Salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara ini memiliki berbagai peninggalan prasejarah, khususnya dari era Megalitik. Unsur yang menonjol adalah Sarkofagus yaitu peti kuburan yang terbuat dari batu, tempayan batu, kursi-kursi dan meja batu.

Peninggalan-peninggalan ini diduga erat kaitannya dengan sejarah masyarakat Batak Samosir yang dipercaya berasal dari Pusuk Buhit, di mana sebagian besar masih menganut kepercayaan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Keyakinan ini dianut oleh masyarakat Toba sebagai agama asli Batak atau disebut Parmalim.

Desa Limbong

Desa ini sering disebut Desa Turpuk Limbong. Lokasinya berada di Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara.

Desa Limbong dibangun sekitar tahun 1700 oleh seorang marga Limbong. Lahan desa yang subur ini kemudian dikembangkan menjadi wilayah perkampungan baru.

Sekitar 80 persen mata pencaharian masyarakatnya di sektor pertanian. Selain pertanian, ada juga sebagian masyarakatnya berternak. Walaupun sektor peternakan bukan sebagai penghasilan utama, namun tetap memiliki nilai ekonomi yang cukup baik. Sebagian kecil lainnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan di sekitar Danau Toba. Para nelayan tersebut biasanya menangkap ikan dengan menggunakan sampan dan jaring.

Di Desa Turpuk Limbong juga ditemui pengrajin alat musik tradisional Batak Toba yang masih menggunakan peralatan sederhana, seperti taganing, sarune, hasapi dan lain-lain. Di desa ini juga masih ditemukan grup kesenian Batak Toba.

Silsilah marga Batak bermula cerita dari Siraja Batak dahulu kala memiliki 2 orang putra, yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Dari Guru Tatea Bulan lahirlah 9 orang putra dan putri. Lima orang putra, yaitu Raja Biakbiak (Raja Uti), Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Silau Raja. Sedangkan empat putrinya, yaitu Boru Pareme, Atting Haumason, Bunga Haumason, dan Nantinjo.

Marga Limbong berasal dari putera ketiga Guru Tate Bulan, yaitu Limbong Mulana yang hingga kini tetap memakai marga Limbong, dan bermukim di Desa Limbong.

Wisata-wisata yang menarik di Desa Limbong dan sekitarnya

Jika Anda mengunjungi Pulau Samosir, sempatkanlah mengunjungi Menara Pandang Tele. Sebagai bangunan tertinggi di Samosir, Menara inilah merupakan lokasi terbaik untuk menikmati keindahan Danau Toba.

(Foto: Menara Pandang Tele – authentic-indonesia.com)

Lokasi Menara Pandang Tele ini tidak jauh dari Danau Toba, tepatnya berada di di Desa Turpuk Limbong, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.. Akses menuju ke menara melalui jalan yang berkelok-kelok yang dikelilingi pemandangan alam sekitar yang sangat indah.

Baca Juga : Mengenal Mandalika dan Potensi Wisatanya

Menara Pandang Tele yang artistik ini dibangun pada tahun 1980. Dan baru diresmikan oleh Bupati Tapanuli saat itu, Drs. G. Sinaga pada tanggal 22 April 1988.

Masih di Desa Turpuk Limbong, di tempat ini terdapat pula Batu Hobon. Bagi masyarakat etnis Batak Toba, batu ini merupakan tempat sakral yang dibangun oleh Saribu Raja, dahulu kala di dalamnya terdapat benda-benda pusaka dan harta peninggalan kuno.

(Foto: Batu Hobon – travelingmedan.com)

Tempat ini memang masih dipandang sakral bagi sebagian besar masyarakat Batak. Para peziarah biasanya datang ke sini dengan membawa sesembahan, seperti sirih, jeruk purut, dan lain-lainnya. Sesembahan tersebut dipersembahkan kepada Mula Jadi Nabolon, suatu aliran kepercayaan yang masih dianut oleh sebagian masyarakat Batak.

Dari Menara Pandang Tele, objek wisata ini bisa ditempuh hanya 15 menit atau berjarak sekitar 43 kilometer. Bangunan ini cukup populer, lantaran berdiri sendiri di bawah lereng.

Penulis: Dwi Eppy

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Kronologi OTT Kasus Korupsi Bupati Penajem Paser Utara

TELENEWS.ID - Nur Afifah Balqis sedang ramai menjadi perbincangan publik nasional akhir-akhir ini karena menjadi salah satu tersangka OTT KPK dan terlibat...

Kisruh Arteri Dahlan Mengancam Elektabilitas PDIP

TELENEWS.ID – Anggota komisi III DPR RI dari fraksi PDIP, Arteri Dahlan membuat gaduh Indonesia. Arteria meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot...

Kemanakah Ridwan Kamil Berlabuh Untuk Pilpres 2024 ?

TELENEWS.ID - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden 2024. Namun hingga saat ini masih belum ada partai...

Desa Wisata Ini Diprediksi Bakal Hits di Tahun 2022, Yuk Simak Apa Saja Daftarnya

TELENEWS.ID - Banyak solusi ketika Anda ingin mencari destinasi liburan bersama keluarga ataupun teman-teman dengan tema desa wisata. Saat ini trend mengunjungi...