Home Nasional Perang Melawan Narkoba di Balik Layar Penanganan Wabah

Perang Melawan Narkoba di Balik Layar Penanganan Wabah

TELENEWS.ID – Kejahatan narkotika alih-alih surut selama pandemi, nyatanya tetap saja marak. Sempat turun signifikan pada awal pandemi, kriminalitas terkait narkotika meroket pada Juni dan Juli menurut catatan Bareskrim Polri.

Tak hanya pemain-pemain kecil, Kombes Pol Wawan Munawar selaku Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri memaparkan, jaringan besar juga turut beraksi di tengah pandemi. Ia mencontohkan pengungkapan kasus narkoba dengan barang bukti sabu seberat 200 kilogram di Cikarang, Jawa Barat.

Kasus tersebut bisa diendus dari pengiriman narkoba via laut. Dari hasil penyidikan diketahui jika barang haram itu dikirim dari Myanmar ke Indonesia via Malaysia dan memakai container. Para pelakunya merupakan bagian dari jaringan narkoba internasional Myanmar, Malaysia dan indonesia

Berdasarkan data Bareskrim Polri, ada 2.499 kasus kejahatan narkotika yang terungkap pada awal April. Pada bulan itu, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk mencegah penularan virus Covid-19 pertama kali diberlakukan di DKI Jakarta.

Kenaikan yang terkesan tiba-tiba itu kemungkinan disebabkan oleh para bandar dan pengedar yang mengira jika Polri lengah karena perhatiannya tersita ke penanganan wabah. Berdasarkan hasil analisis Bareskrim, diketahui jika sindikat narkoba lebih sering memakai jasa ekspedisi untuk mengirimkan barang haram. Selain itu, terjadi perubahan jalur pengiriman dengan menjadikan Babel sebagai lokasi transit.

Meskipun pandemi sedikit mengganggu operasi di lapangan, namun Polri mengatakan jika pihaknya akan mengetatkan pengawasan dan terus membangun sinergi dengan para stakeholder seperti BNN, Dirjen Bea Cukai serta perusahaan jasa ekspedisi untuk memberantas narkoba.

Pemain Baru Yang Bermunculan

Kenaikan angka kasus kejahatan terkait narkoba di masa pandemic ini juga dirasakan di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Dikatakan oleh AKBP Sapta Marpaung selaku Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya jika kenaikan jumlah kasus narkoba ini lantaran tingginya permintaan dari konsumen barang haram tersebut.

“Ada peningkatan jumlah pemakai (sejak) enam bulan terakhir. Ya, intinya itu kan permintaan masih ada. Tetapi, kami semaksimal mungkin berupaya untuk melakukan pengawasan. Kami terus pantau potensi barang masuk. Kalau pun masuk, kita akan kejar terus,” kata Sapta ketika dihubungi Senin (12/7).

Dirinya menjelaskan bahwa sindikat narkoba umumnya menggunakan jalur laut guna mengirimkan barang haram tersebut ke Indonesia sebab dikira jalur laut lebih lemah pengawasannya. Diakui juga jalur laut sudah diawasi dan Sapta menjelaskan pihaknya akan tanggap berpikir lagi melalui jalur-jalur apa lagi.

Sementara di wilayah hukum Polda Metro Jaya, Sapta mengungkapkan jika para pemain baru mulai muncul dalam peredaran narkoba. Namun, pemain-pemain lama tetap berada di belakang panggung.

Meskipun panen penindakan kejahatan narkoba di era wabah covid-19, sapta menerangkan jika prestasi terbesar masih disandang dengan pengungkapan gembong kasus narkoba di Tangerang, Banten, pada akhir januari lalu.

Kala itu tim Bareskrim Polri berhasil mengungkap dan menghentikan penyelundupan sabu seberat 288 kilogram melalui jalur tol Merak – Jakarta yang dilakukan oleh sindikat narkoba asal kawasan Timur Tengah.

Dalam operasi penyergapan di Desa Cijantra, Pagedangan, Tangerang kala itu tak dapat dihindari baku tembak antara polisi dan para penyelundup barang haram itu. Ketiga pelaku diketahui tertembak peluru dan mereka meninggal di tempat.

Sapta menegaskan, meski tengah dilanda pandemi, pihak Polda Metro Jaya tidak akan mengendurkan pengawasannya serta memperdalam kerja sama dengan BNN. Keduanya juga terus melakukan kerja sama informasi serta kolaborasi yang dianggap perlu.

Sebelumnya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Heru Winarko mengatakan prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia meningkat sebesar 0,03% sejak tahun 2019 sampai dengan sekarang. Berdasarkan catatan, kenaikan terutama disebabkan oleh maraknya peredaran new psychoactive substances (NPS).

Dalam rapat kerja antara BNN dengan Komisi III DPR di Jakarta yang digelar beberapa waktu yang lalu Winarko berujar jika sudah lebih kurang sebanyak 77 jenis narkotika NPS yang beredar di masyarakat.

Baca juga :  Batik, Kain Indonesia yang Mendunia

NPS ialah obat-obatan yang diracik untuk mereplikasi efek narkotika semisal ganja, kokain, dan ekstasi. Dalam satu dekade terakhir ini, telah terjadi perluasan pasar yang dinamis untuk obat-obatan sintetis dan penggunaan obat resep nonmedis tersebut.

Selama masa pandemi, BNN mengungkap 14 jaringan narkotika berskala internasional. Kebanyakan pelaku mengedarkan barang via jasa pengiriman dan via online. Namun, masih juga ada yang mengirim via jalur laut.

Mencegah Dari Hulu

Menanggapi fenomena peredaran narkotika yang marak selama pandemi, Henry Yosodiningrat selaku Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika atau Granat menilai wajar jika kejahatan narkoba meningkat selama musim pandemi Covid-19. Dirinya menyebut jika siasat “aji mumpung” para bandar serta pengedar narkoba ini menjadi salah satu faktor dari pendongkrak jumlah kasus tersebut.

“Bahwa sindikat ini tahu dunia sedang fokus menghadapi bencana Covid-19. Di sisi lain, mereka melihat kebutuhan para pecandu itu tetap saja tidak akan surut dalam kondisi apa pun. Mau Covid-19 atau apa pun, tetap saja ada yang butuh,” jelas Henry dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/7).

Baca juga :  KPK Harus Awasi dan Selidiki Alokasi Dana Rp2,7 Triliun untuk 21.000 Pesantren

Tak ketinggalan, Henry juga menilai jika kinerja Polri dan BNN sudah cukup memuaskan meskipun para penyidik di lapangan dihantui oleh potensi tertular Covid-19, namun Polri serta BNN bisa panen kasus dengan terungkapnya beberapa sindikat kasus narkoba. Dalam kondisi seperti ini, kata Henry, ternyata semangat Polri dan BNN tidak kendur meski serba terbatas ruang gerak.

Meskipun demikian, dirinya juga berharap agar Polri dan BNN tidak hanya asyik menangkap serta menyita barang-barang bukti yang didapat. Sebab menurut dia, penyidikan harus terus dikembangkan hingga menyentuh ke tingkat bandar-bandar besar yang selama ini susah atau bahkan belum terjamah hukum.

“Harus mereka susun menjadi sebuah mozaik sehingga kelihatan bentuknya dan lain sebagainya. Bisa terbaca petanya. Apa pun itu tentunya harus tetap ditelusuri asal barang yang ditemukan itu. Jadi, bukan hanya sebatas menangkap pelaku dan memusnahkan barang bukti,” kata dia.

Disayangkan menurut Henry, Polri dan BNN hanya kerap menunggu di hilir saja sedangkan berbagai upaya untuk mencegah barang haram tersebut masuk ke Indonesia dari negara – negara asal masih terasa minim pencegahannya.

Misalnya saja dari China, Henry menuturkan Polri harus menganalisis bagaimana caranya, sistematika kemudian teknik serta konsepnya agar China tidak bisa mengirim lagi ke Indonesia. berlaku juga dengan negara-negara lain. Jika Indonesia bisa mencegah dari negara asal, maka bisa dipastikan Indonesia jauh lebih bisa meminimalisir peredaran bisnis narkotika ini.

Hal lain yang perlu ditingkatkan menurut Henry adalah meningkatkan upaya merusak pasar peredaran narkoba di masyarakat. Fokus mengejar bandar dalam penilaian Henry akan menjadi sia-sia jika langkah-langkah strategis untuk memperkuat kesadaran publik akan bahaya narkotika tidak dijalankan secara serius dan hanya berfokus mengejar hal umum.

Segala bentuk kegagalan, sambung Henry, mulai dari gagal mencegah masuk, gagal mencegah peredaran, itu ujungnya tetap banyak yang pakai. Jika Polri berhasil untuk mencegah orang-orang agar tidak memakai narkoba, biarpun barang tersebut diberikan secara percuma dan terdapat dimana-mana, tidak ada masalah yang berarti sebab sudah tumbuh kesadaran dari masyarakat.

Yang tak kalah penting tentunya adalah pemberian teladan dari para kepala daerah dimanapun itu. Granat yang digawangi oleh Henry saat ini berkeliling ke partai-partai politik untuk menyarankan agar calon kepala daerah yang punya catatan merah terkait narkotika segera dicoret namanya. Usul serupa juga disampaikannya ke Komisi Pemilihan Umum.

“Semua itu kami lakukan. Selagi ada pemimpin yang baik, kenapa pilih yang begitu (pecandu)? Kepala daerah itu penting dalam pencegahan narkoba. Bisa dibayangkan kalau bupati atau wali kota itu seorang pemakai narkoba,” pungkas dia. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Desa Wisata Ini Diprediksi Bakal Hits di Tahun 2022, Yuk Simak Apa Saja Daftarnya

TELENEWS.ID - Banyak solusi ketika Anda ingin mencari destinasi liburan bersama keluarga ataupun teman-teman dengan tema desa wisata. Saat ini trend mengunjungi...

Pemerintah Enggan Rekrut CPNS di Tahun 2022, Ternyata Ini Alasannya

TELENEWS.ID - Banyak informasi mengenai Pemerintah yang tidak akan melakukan perekrutan CPNS di tahun 2022. Kemudian dari aspek penambahan jumlah ASN juga...

Salah Satunya Bikin Awet Muda, 5 Alasan Kamu Harus Pakai Serum Vitamin C Mulai Dari Sekarang!

TELENEWS.ID - Serum menjadi salah satu skincare yang sekarang menjadi salah satu kebutuhan wanita masa kini. Rasanya perawatan wajah tak akan lengkap...

Berkaca Dari Supir Kecelakaan Maut Balikpapan, Ini 5 Tips Agar Tak Bangun Kesiangan

TELENEWS.ID - Berbagai fakta mengejutkan terungkap pasca kecelakaan maut yang terjadi di tanjakan Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/1/2022) pagi. Salah satunya,...