Home Internasional Asia Perjalanan Hidup Aung San Suu Kyi, Pejuang Demokrasi Myanmar

Perjalanan Hidup Aung San Suu Kyi, Pejuang Demokrasi Myanmar

TELENEWS.ID – Myanmar pada Senin (1/2/2021) dini hari dikejutkan dengan penangkapan Aung San Suu Kyi selaku Penasihat Negara Myanmar oleh aparat militer setempat.

Alasannya, adalah tudingan dari militer bahwa San Suu Kyi telah melanggar ketentuan dalam proses pemilihan umum yang menyatakan kemenangan atas dirinya dan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Namun, peristiwa yang menyebabkan ketegangan di kalangan rakyat Myanmar pagi hari itu bukanlah yang pertama dalam berpuluh-puluh tahun perjalanan hidup Aung San Suu Kyi.

Melansir dari BBC, Aung San Suu Kyi, seorang aktivis yang menyuarakan kedamaian dan keadilan, sempat dianggap sebagai suar untuk hak asasi manusia. Kampanyenya yang vokal menyoroti kebebasan untuk menentang para jenderal militer kejam yang sudah menguasai Myanmar selama beberapa dekade.

Sayang, lantangnya perjuangan San Suu Kyi untuk demokrasi justru menjebloskannya berkali-kali ke dalam tahanan rumah. Hak kebebasannya direnggut hingga tak diizinkan bertemu dengan keluarganya sendiri selama lebih dari satu dekade.

Tak ayal, mengutip dari laman BBC, Senin (1/2/2021), Aung San Suu Kyi sempat diberikan Nobel Perdamaian di tahun 1991 dan dinobatkan sebagai “contoh luar biasa dari kekuatan orang yang tidak berdaya”. Kala itu, ia masih menghabiskan waktunya dalam tahanan rumah.

Lahir dari seorang pahlawan kemerdekaan Myanmar, Jenderal Aung San, San Suu Kyi harus kehilangan sosok ayahnya karena dibunuh, tepat sebelum kemerdekaan Myanmar dari penjajahan di Inggris di tahun 1948. Ia pun bertolak ke India pada tahun 1960 untuk tinggal bersama sang Ibu, Daw Khin Kyi, yang saat itu ditugaskan sebagai duta besar Myanmar di Delhi.

San Suu Kyi kemudian mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Oxford, Inggris, dan mempelajari tentang ekonomi, filsafat dan politik. Di kampus itulah ia juga bertemu dengan calon suaminya, Michael Aris.

Ia dan Aris dikaruniai dua orang anak, Alexander dan Kim, yang dibesarkan di Inggris.

Setelah menjalani kehidupan dan bekerja di Jepang dan Bhutan, San Suu Kyi kembali ke negara kelahirannya, Myanmar, pada tahun 1988 untuk merawat ibunya yang sedang sakit.

Pada saat itu, Myanmar sedang dilanda pergolakan politik besar-besaran, dimana ribuan masyarakat turun ke jalan menuntut reformasi.

Melihat negaranya yang riuh akibat dipimpin seorang diktator bernama Jenderal Ni Win, San Suu Kyi merasa dirinya tidak bisa hanya diam dan menonton. Statusnya sebagai anak dari seorang pahlawan kemerdekaan mendorong panggilan hatinya agar mau memperjuangkan demokrasi dan melawan tirani.

Dengan bekal berkelana di beberapa negara, ia mengambil inspirasi para pejuang hak sipil dan kemanusiaan, Martin Luther King dan Mahatma Gandhi, untuk menjalankan kampanye damai di Myanmar. Ia pun mengorganisir gerakan unjuk rasa di seluruh negeri tanpa kekerasan guna menyuarakan reformasi dan menuntut pemilihan umum yang bebas.

Namun, pihak militer melihat keberadaan dan keberanian San Suu Kyi sebagai ancaman. Unjuk rasa tersebut akhirnya ditindas secara brutal oleh militer untuk mengendalikan kekuasaan pada 18 September 1988.

Baca juga :  Mengenal Modus Skema Ponzi Yang Banyak Makan Korban Di Berbagai Negara

Menyusul hal ini, San Suu Kyi terpaksa mendekam dalam tahanan rumah di tahun 1989.

Dua tahun kemudian, pihak militer menyelenggarakan pemilihan nasional. Hasilnya, partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dan Suu Kyi menang, namun militer tetap menolak untuk menyerahkan kekuasaan.

Lagi-lagi, ia melanjutkan mendekam dalam tahanan rumah selama enam tahun hingga dibebaskan pada Juli 1995. Tak lama, ia kembali menjalani tahanan rumah pada tahun 2000 dan resmi ditahan di penjara di tahun 2003, setelah adanya bentrokan antara pendukungnya dengan massa yang didukung pemerintah.

Selama masa penahanan, Suu Kyi tidak pernah diizinkan untuk bertemu dengan kedua anaknya ataupun suaminya, yang meninggal di tahun 1999 karena penyakit kanker.

Hingga di tahun 2010, ia akhirnya diizinkan untuk bertemu dengan salah satu putranya, Kim. Pertemuan tersebut merupakan yang pertama setelah 10 tahun terpisah akibat masa penahanan sang ibu.

Pada 7 November di tahun yang sama, namanya tidak dilibatkan dalam pemilihan umum. Sebagai gantinya, ia dibebaskan dari tahanan rumah enam hari kemudian.

Baca juga :  Fakta 'Gerbang Neraka' di Turkmenistan

Pada 2012, Suu Kyi dan partainya resmi kembali bertarung dalam panggung politik setelah pemerintahan baru memulai proses reformasi. Mereka menduduki 43 dari 45 kursi yang diperebutkan pada pemilihan sela April 2012 dan memperoleh dukungan yang tegas.

Suu Kyi kemudian dilantik sebagai anggota parlemen dan pemimpin oposisi.

Citra kepemimpinan Suu Kyi kembali digodok ketika terjadi peristiwa genosida dan penyiksaan besar-besaran yang dilakukan terhadap minoritas Rohingya. Peristiwa ini menyita perhatian internasional di tahun 2017.

Di tahun tersebut, ratusan ribu orang Rohingya mencari suaka ke beberapa negara tetangga untuk kabur dari tindakan brutal militer. Peristiwa keras tersebut dipancing oleh serangan mematikan di kantor polisi di negara bagian Rakhine.

Atas serangan itu, Myanmar harus menghadapi gugatan di Pengadilan Internasional. Pengadilan Kriminal Internasional juga menjalani penyelidikan terhadap Myanmar atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Nama Suu Kyi lantas tidak bisa dipisahkan dari aksi genosida di tanah kelahirannya. Mantan pendukung internasional Suu Kyi lalu menuduhnya tidak mempedulikan aksi pemerkosaan, pembunuhan dan kemungkinan genosida karena Suu Kyi menolak untuk mengutuk militer atau mengakui laporan kekejaman.

Bisa jadi, Suu Kyi kala itu berada pada posisi yang rawan dan serba salah. Bagaimanapun, masa tahanan yang telah dilaluinya selama 15 tahun menjadi bukti yang cukup untuk mewakili ketidaksukaan militer terhadap Suu Kyi.

Beberapa pihak sempat menilai Suu Kyi sebagai pemimpin dan politisi yang pragmatis dengan memerintah sebuah negara multi-etnis dengan latar belakang historis yang rumit.

Meskipun begitu, Aung Suu Kyi tetap menjadi figur yang populer di kalangan mayoritas Buddha dan masih memiliki sedikit rasa simpati untuk kaum Rohingya. (Ajeng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Cerita Korban Penyekapan Diduga Oleh Rentenir di Tangerang Diminta Layani Seks

TELENEWS.ID - Polres Metro Tangerang telah meminta keterangan terhadap Sulistyawati (45), korban dugaan penyekapan dan pengancaman gegara persoalan utang di kawasan Ciledug...

Viral Video Belatung di Alat Vital, Ternyata Hewan Kecil Ini Juga Bisa Hidup di Kelamin Manusia

TELENEWS.ID - Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan tagar #belatung. Usut punya usut, tagar yang trending di Twitter dan TikTok ini membicarakan...

10 Jajanan Khas Jawa Timur Identik Dengan Rasa Gurih

TELENEWS.ID - Banyak konsep hidangan berupa jajanan khas memberi cita rasa menarik untuk dijadikan oleh-oleh. Ketika Anda berlibur ke Jawa Timur terdapat...

10 Cara Mudah Pilih Camilan Sehat Untuk Travelling dan Sehari-hari

TELENEWS.ID - Berbicara tentang pemilihan camilan sehat untuk aktivitas travelling dan sehari-hari tentu saja membuka banyak daftar terbaik. Namun, tidak hanya fokus...