Home Uncategorized Problem Sanitasi yang Layak, Sebuah PR yang Belum Tuntas di Jakarta

Problem Sanitasi yang Layak, Sebuah PR yang Belum Tuntas di Jakarta

TELENEWS.ID – Di Gang Sekretaris, Tanjung Duren Utara, Grogol, Jakarta Barat, kesan kumuh bisa langsung terlihat dari jalanan sempit yang hanya bisa muat dua orang jalan. Beberapa rumah semipermanen ada disitu dengan ember, gerobak, pakaian yang terjemur dan kantong sampah sepanjang gang.

Aroma tak sedap yang menguar dari kali kecil langsung menyengat hidung. Namun warga disitu seakan tak terganggu dengan bau busuk tersebut. Kali itu nampak keruh dan tercemar.

Ibu-ibu berkumpul mengobrol, memasak, dan momong anaknya. Anak-anak berlarian kesana-kemari. Mereka tak terusik sama sekali dengan bau tak sedap.

“Biasa aja. Enggak bau kok,” kata seorang ibu yang sibuk menenangkan anak yang menangis.

Ketua RT 15, Sitanggang berkisah jika sudah lama warga di lingkungannya membuang air besar ke Kali Gendong sebab tidak punya tangki air atau septic tank. Jadinya, mereka membuang semua hasil MCK ke kali. Belakangan, kebiasaan warga buang hajat ke kali ini menjadi perbincangan publik. Menurut Sitanggang, ada 21 rumah di lingkungannya yang tak punya tangki septik.

Permukiman yang dihuni sekitar 300 kepala keluarga ini memang sangat minim fasilitas toilet, terutama yang memiliki tangki septik. Namun, kata Sitanggang, sanitasi yang buruk ini tak mengganggu aktivitas warga. Sejak dirinya tinggal disitu, tidak pernah terdengar warga yang jatuh sakit sebab masalah sanitasi.

Potret Buruknya Sanitasi

Problem sanitasi ini merupakan masalah kesehatan secara nasional. WHO menyatakan bahwa Indonesia ada di posisi ketiga negara dengan sanitasi terburuk. Peringkat pertama ditempati India dan yang kedua China.

UNICEF Indonesia bahkan melaporkan 25 juta orang di Indonesia tidak menggunakan toilet dan hanya membuang kotoran di semak, hutan, parit, sungai dan ruang terbuka lainnya. Di Jakarta pun akses sanitasi yang layak nan sehat masih minim.

Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2017 yang dipublikasikan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta, di Jakarta Pusat dengan jumlah penduduk 899.391 jiwa, total penduduk yang memiliki akses sanitasi layak 450.094 jiwa (50,04%).

Jakarta Utara dengan penduduk 1.781.316 jiwa, total penduduk yang punya akses sanitasi layak 1.335.401 jiwa (74,97%). Di Jakarta Barat dengan penduduk 2.528.065 jiwa, total penduduk dengan akses sanitasi layak hanya 1.791.920 jiwa (70,88%).

Di Jakarta Selatan, dengan penduduk 2.226.830 jiwa, total penduduk yang memiliki akses sanitasi layak hanya 1.051.358 jiwa (47,21%). Di Jakarta Timur, dengan penduduk 2.805.337 jiwa, yang punya akses sanitasi layak 1.875.085 jiwa (66,84%). Sementara di Kepulauan Seribu, dengan penduduk 25.250 jiwa, yang punya akses sanitasi layak 19.955 jiwa (79%).

Jika dilihat dari data ini, tak semua warga di DKI memperoleh sanitasi yang layak. Menurut data dari gerakan TinjuTinja, Pemprov DKI pernah menargetkan menjadi provinsi teratas akses sanitasi yang layak di tahun 2019. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Padahal, selain menjadi sarang penyakit, sanitasi buruk dapat menyebabkan stunting.

Sanitasi yang buruk juga berdampak pada potensi pertumbuhan Indonesia yang terhambat. Kerugian ekonomi Indonesia akibat lingkungan dan sanitasi yang buruk mencapai 2,3% dari PDB tahunan.

Tangki Septik Komunal

Andik, salah satu warga di gang itu berkata bahwa masalah sanitasi sebenarnya sudah diatasi warga dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Kotamadya Jakarta Barat supaya membangun instalasi pengolahan air limbah atau tangki septik komunal.

Menurutnya, pembuatan tangka ini bagian dari rencana penataan kampungnya dan telah terdaftar di Surat Keputusan gubernur Nomor 878 Tahun 2018 Tentang Gugus Tugas Pelaksanaan Penataan Kampung dan Masyarakat yang disahkan pada 21 Mei 2018.

Baca juga :  KemenPUPR targetkan Pembangunan Jalan Tol Cisumdawu Selesai Tahun 2021

Namun, rencana ini tidak bisa dieksekusi cepat sebab ada pertimbangan geografis, budget dan segala macamnya hingga mandek.

Dikonfirmasi masalah sanitasi di daerah Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Juaini Yusuf mengaku, belum bisa menargetkan berapa tangki septik komunal yang akan dibuat. Sebab, pihaknya harus memetakan terlebih dahulu permukiman di Gang Sekretaris. Apakah ada lahan yang bisa dijadikan septic tank komunal atau tidak

Diketahui jika Dinas SDA DKI mengusulkan dana Rp116 miliar guna membuat tangki septik komunal ini. Namun, tahun ini wilayah Jakarta Barat belum masuk prioritas. Yang menjadi prioritas adalah Jakut dan Jakpus.

Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD DKI Jakarta dari beberapa Fraksi menilai jika Pemprov DKI kurang serius dalam menangani masalah sanitasi ini. DPRD DKI juga akan melakukan audit pada setiap program yang sudah dilakukan dan hendak dilakukan oleh Pemprov DKI ini.

Penataan Ulang Kawasan

Melihat fenomena sanitasi yang tidak layak untuk daerah sekaliber Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi selaku Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) membuka suara. Dirinya memandang bahwa potret sanitasi buruk di Tanjung Duren ini merupakan bentuk kegagalan dari Pemprov DKI dalam menghadirkan fasilitas layak bagi warganya. Hal ini seharusnya sudah lama teratasi menurut dia.

Baca juga :  Korut Tidak Tertarik KTT- Trump -Kim lainnya

Tubagus mengatakan jika sebenarnya Pemprov DKI sudah punya agenda terkait tangki septik komunal ini. Namun dalam pelaksanaannya memiliki banyak kendala salah satunya terkait lahan dan dirinya tidak menampik hal tersebut. Namun, dia menyayangkan Pemprov DKI masih terkesan menyalahkan warga Gang Sekretaris dalam menyikapi buruknya sanitasi disana. Padahal akar masalah sebenarnya bercokol di pemerintah sendiri.

“Ini masalah pencemaran yang belum bisa diatasi Pemprov DKI,” tuturnya ketika dihubungi, Selasa (13/7)

Oleh sebab itu, untuk mengatasi buruknya sanitasi di permukiman padat seperti Gang Sekretaris, tak ada jalan lain selain membangun IPAL atau tangki septik komunal. Akan tetapi, ia mengingatkan jika membuat tangki septik komunal ini pemerintah harus berkonsultasi dengan masyarakat.

Tujuannya, supaya solusi benar-benar disepakati antara pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna. Bila hal itu tak dilakukan, Tubagus pesimis masalah sanitasi yang tak layak di DKI Jakarta bisa ditangani. Sebab, masyarakat tak pernah diberi pemahaman sesungguhnya mengenai bahaya buruknya sanitasi. Jika tidak seperti itu, maka masyarakat akan terus menerus membuang limbahnya ke kali.

Sementara itu, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengingatkan, membenahi masalah sanitasi tak cukup sekadar dengan membuat tangki septik komunal.

“Perlu penataan ulang kawasan,” kata dia saat dihubungi, Selasa (13/7).

Menurutnya, permukiman kumuh di Jakarta yang tersebar di 188 dari 267 kelurahan dengan luas mencapai 1.005,24 hektar dengan rincian di Jakarta Utara 39%, Jakarta Barat 28%, Jakarta Selatan 19%, Jakarta Timur 12%, Jakarta Pusat 11%, dan Kepulauan Seribu 1%. Ini merupakan PR bagi Pemprov DKI untuk menata kawasan tersebut.

Nirwono mengatakan bahwa untuk menata ulang kawasan tersebut perlu dibuka lebih dahulu peruntukan permukiman dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW), rencana detail tata ruang (RDTR), serta rencana tata ruang dan lingkungan (RTRL). Hal tersebut penting untuk mengetahui peruntukan permukiman.

Selain itu, perlu ditelusuri pula sertifikat kepemilikan lahan warga. Jika sah, menurut Nirwono, Pemprov DKI wajib menata ulang kawasan menjadi lebih tertata. Misalnya, menjadi hunian vertikal berbentuk rumah susun sederhana berlantai empat hingga enam.

“Tapi, kalau tak sesuai peruntukan RTRW dan RDTR, kampung itu harus direlokasi ke pemukiman terdekat, yang layak huni,” pungkasnya. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Desa Wisata Ini Diprediksi Bakal Hits di Tahun 2022, Yuk Simak Apa Saja Daftarnya

TELENEWS.ID - Banyak solusi ketika Anda ingin mencari destinasi liburan bersama keluarga ataupun teman-teman dengan tema desa wisata. Saat ini trend mengunjungi...

Pemerintah Enggan Rekrut CPNS di Tahun 2022, Ternyata Ini Alasannya

TELENEWS.ID - Banyak informasi mengenai Pemerintah yang tidak akan melakukan perekrutan CPNS di tahun 2022. Kemudian dari aspek penambahan jumlah ASN juga...

Salah Satunya Bikin Awet Muda, 5 Alasan Kamu Harus Pakai Serum Vitamin C Mulai Dari Sekarang!

TELENEWS.ID - Serum menjadi salah satu skincare yang sekarang menjadi salah satu kebutuhan wanita masa kini. Rasanya perawatan wajah tak akan lengkap...

Berkaca Dari Supir Kecelakaan Maut Balikpapan, Ini 5 Tips Agar Tak Bangun Kesiangan

TELENEWS.ID - Berbagai fakta mengejutkan terungkap pasca kecelakaan maut yang terjadi di tanjakan Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/1/2022) pagi. Salah satunya,...