Home Metropolitan Serikat Pekerja Kecam Aksi Penganiayaan Terhadap Perawat RS Siloam

Serikat Pekerja Kecam Aksi Penganiayaan Terhadap Perawat RS Siloam

TELENEWS.ID – Idris Idham selaku Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP Farkes Reformasi) mengecam tindak aniaya kepada seorang perawat bernama Christina Ramauli Simatupang di Rumah Sakit Siloam Sriwijaya, Palembang. Ia mewakili FSP Reformasi sangat menyesalkan perbuatan main hakim sendiri dari keluarga pasien.

“Terlepas apapun itu, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku tidak dibenarkan dan sangat menyayat hati para tenaga kesehatan (nakes) yang sudah berjuang dengan segenap hati untuk melayani,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/4).

Idris mengingatkan bahwa setiap pekerja memiliki standar operasional prosedurnya sendiri. Apalagi, profesi perawat bersinggungan langsung dengan nyawa manusia.

Tenaga kesehatan termasuk perawat merupakan pekerjaan yang mulai dan tugasnya adalah menolong pasien, bukan menyakiti pasien.

Namun, disayangkan masih saja ada tenaga kesehatan yang diperlakukan kasar oleh oknum pelaku.

Menurut Idris, kejadian apapun semestinya bisa didiskusikan terlebih dahulu tanpa perlu main tangan dengan memukul bahkan menendang korban. FSP Farkes Reformasi juga meminta aparat hukum menindak oknum pelaku kekerasan terhadap perawat tersebut.

Adapun penganiayaan tersebut terjadi pada Kamis (15/4) sekitar pukul 10.00 WIB ketika Christina melepaskan infus seorang pasien balita berumur dua tahun yang merupakan anak pelaku.

Pelepasan itu menggunakan kapas alcohol dan diplester sesuai SOP. Namun, karena plester terlepas dan di bekas infus keluar daerah, si ibu pasien panik dan berteriak

Selanjutnya, pelaku yang bernama Jason Tjakrawinata sekitar dua jam pasca kejadian mencari Christina. Namun, belum sempat menjelaskan persoalannya, Jason menampar korban dengan kepalan tangan hingga jatuh ke lantai. Ia menuntut agar korban meminta maaf dan bersujud di lantai

Pada Jumat (16/4), di kediamannya Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan Jason pun ditangkap. Jason terancam pasal berlapis yang terdiri dari pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan pasal 406 KUHP tentang pengrusakan karena Jason sempat merusak gawai seorang perawat yang merekam peristiwa tersebut.

Baca juga :  Soal Video Syur, Gisel Diperiksa Penyidik Hari ini

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati meminta pemerintah menyikapi serius aksi penganiayaan terhadap perawat di Rumah Sakit (RS) Siloam Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut Kurniasih, tenaga kesehatan rentan mengalami kekerasan, apalagi masa pandemi seperti saat ini. Mengutip data Komite Internasional Palang Merah, total lebih dari 600 insiden kekerasan, pelecehan dan stigmatisasi terhadap petugas kesehatan, pasien, dan infrastruktur medis.

“Profesi tenaga kesehatan kita sangat dilindungi, apalagi saat ini masih menangani pandemi yang membutuhkan pengorbanan teman-teman tenaga kesehatan. Tentu tindakan kekerasan apapun bentuknya, tidak boleh terulang terhadap tenaga kesehatan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/4)

Kekerasan terhadap tenaga kesehatan di Palembang ini bukan menjadi yang pertama. Kekerasan bukan hanya persoalan kekerasan fisik, tapi juga stigma dan diskriminasi sikap seperti yang terjadi pada jenazah perawat RSUP dr Kariadi Semarang yang ditolak warga.

Kurniasih berharap agar peristiwa penganiayaan terhadap tenaga kesehatan tidak terulang lagi, meskipun pelakunya sudah ditahan oleh kepolisian.

Baca juga :  693 Napi di Rutan Klas I Cipinang Dapat Remisi di HUT RI

Sebenarnya, profesi tenaga kesehatan telah dilindungi oleh Undang-Undang pasal 57 huruf a UU No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. dalam pasal tersebut berbunyi bahwa tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik berhak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan Standar Prosedur Operasional

Kurniasih juga meminta penyelesaian masalah ditempuh dengan mekanisme yang ada. Jika terindikasi ada pelanggaran etik, standar pelayanan profesi maupun standar prosedur operasional maka bisa dilaporkan ke organisasi profesi masing-masing.

Jika pasien merasa ada dugaan pelanggaran kode etik atau pelanggaran disiplin tenaga kesehatan maka pasien bisa melapor ke konsil masing-masing tenaga kesehatan, karena baik tenaga kesehatan dan pasien, keduanya berhak mendapatkan perlindungan sesuai dengan regulasi agar tindak kekerasan seperti ini tidak terulang kembali. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Dihadiri Penggemar, Final Liga Champions UEFA Resmi Pindah ke Portugal

TELENEWS.ID - Final Liga Champions UEFA untuk musim 2020-21 antara Manchester City dan Chelsea, yang dijadwalkan pada 29 Mei di Istanbul (Turki),...

Pantai Perasi, Pesisir Timur Bali dengan ‘Pasir Perawan’ Nan Eksotis

TELENEWS.ID - Jika anda menginginkan destinasi pantai di Bali yang masih relatif baru dan jarang tersentuh, Pantai Perasi bisa jadi alternatif yang...

Van Dijk Pastikan Diri Absen Di EURO 2020

TELENEWS.ID - Punggawa andalan Liverpool, Virgil Van Dijk, akhirnya resmi memutuskan untuk absen membela Belanda di ajang EURO 2020 mendatang. Bek sentral...

Terungkap! Jeff Bezos Sempat Iri Pada Elon Musk

TELENEWS.ID - Kendati telah memegang predikat sebagai orang terkaya di dunia saat ini, Jeff Bezos rupanya pernah kuatir dengan perkembangan perusahaan SpaceX...