Home Hiburan Sisi Gelap Persiapan Piala Dunia 2022 di Qatar, Perbudakan dan Penjara Modern...

Sisi Gelap Persiapan Piala Dunia 2022 di Qatar, Perbudakan dan Penjara Modern ?

TELENEWS.ID – Qatar, negara yang kaya akan minyak mentah di Timur Tengah terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 yang akan dimulai penyelenggaraannya pada November mendatang. Biasanya setiap negara yang terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta sepak bola besar seperti piala Eropa maupun piala dunia, memang akan mengeluarkan kocek besar untuk persiapan selama event berlangsung. Bukan hanya stadion, namun juga hotel, tempat wisata, hingga hal-hal kecil pendukung seperti lalu lintas, transportasi, hingga fasilitas umum lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga nama baik negara tersebut dan memberikan kesan terbaik dalam sejarah dunia.

Selain itu negara yang menjadi tuan rumah diharapkan mampu meningkatkan perekonomian mereka mulai dari penjualan tiket, sponsor, pembayaran hak siar, pariwisata, hingga bisnis lain yang dapat dijalankan dan dimanfaatkan selama pergelaran piala dunia. Bukan hanya mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan untuk biaya persiapan acara, namun tentunya keuntungan pasti akan dikejar juga. Selama pembangunan stadion dan persiapan keseluruhan acara piala dunia 2022, Qatar diketahui mengeluarkan biaya sebesar 220 miliar USD atau setara dengan 3 kuadriliun rupiah. Biaya ini sepenuhnya digunakan untuk membangun 8 stadion yang akan digunakan untuk piala dunia 2022 mendatang. Stadion tersebut antara lain Stadion Al Bayt, Stadion Al Janoub, Stadion Internasional Khalifa, Stadion Ahmed Bin Ali, Stadion Education City, Stadion Al Thumama, Stadion 974, dan Stadion Lusail Iconic.

Faktor lain yang menganggap mengapa Qatar begitu berani membangun secara mewah persiapan piala dunia 2022 kali ini adalah unsur politik. Qatar ingin menggaet berbagai investor dan mengalihkan pemasukan negara mereka ke bidang hiburan dan olahraga yang beralih dari industri perminyakan. Hal ini dilakukan Qatar mengingat dunia ke depannya akan lebih memilih memanfaatkan tenaga listrik ketimbang minyak sebagai bahan bakar kendaraan karena trend pengurangan penggunaan emisi yang semakin meningkat. Untuk itu Qatar diduga sedang berusaha mengalihkan sumber perekonomian mereka dari minyak ke bidang lain.

Sisi gelap lain yang ditemukan dari pembangunan stadion dan persiapan piala dunia 2022 di Qatar adalah banyaknya imigran yang memutuskan untuk mengais rezeki di Qatar sebagai pekerja kasar menjadi korban kerja paksa dan perbudakan. Berdasarkan informasi dari Amnesty Internasional, ada sekitar 1,7 juta orang imigran yang tercatat sebagai pekerja kasar untuk proyek piala dunia 2022 yang datang dari Bangladesh, Nepal, dan negara-negara miskin di benua Afrika. Hal ini menjadi pertanyaan dunia mengapa hampir 90% pekerja kasar di Qatar itu merupakan penduduk imigran. Apakah memang karena penduduk asli Qatar sudah memiliki penghasilan memadai sehingga tidak perlu menjadi pekerja kasar untuk mencari nafkah atau memang menjadi pekerja kasar di Qatar merupakan momok mematikan sehingga tidak ada yang bersedia.

Kenyataannya adalah terungkap oleh media The Guardian.com di mana pekerja kasar ini mengalami kehidupan yang sangat buruk selama mereka menjalani pekerjaannya di Qatar. Dalam media tersebut terungkap bahwa mayoritas imigran asal Nepal yang bekerja mengalami pemaksaan untuk kerja seperti perbudakan yang mengakibatkan kematian. Statistik mencatat ada minimal 1 orang pekerja yang dinyatakan meninggal setiap hari di Qatar akibat kelelahan bekerja. Tercatat juga bahwa kematian pekerja tersebut merupakan pekerja yang usianya masih relatif muda, dan pada catatan medis hanya tertulis kematiannya disebabkan karena serangan jantung dan kecelakaan kerja. Kedua alasan ini mengakibatkan developer pembangunan bahkan pemerintah tidak perlu memberikan tanggung jawab atau ganti rugi untuk korban dan keluarga karena pekerja dianggap lalai sendiri sehingga menyebabkan kecelakaan kerja.

Investasi lain yang dilakukan The Guardian kepada para pekerja menemukan bahwa setelah lebih dari 6 bulan masih ada pekerja yang belum menerima gaji mereka. Pekerja tersebut juga tidak bisa kembali ke negaranya atau melarikan diri bukan karena tidak ada uang namun karena passport mereka dari awal datang ke Qatar sudah ditahan perusahaan atau agency yang membawa mereka ke Qatar. Sadisnya lagi agency mereka tidak memberikan mereka identitas sebagai pekerja resmi. Karena hal ini selama tinggal di Qatar, mereka termasuk imigran ilegal tanpa identitas jelas dan tidak akan mendapatkan fasilitas apapun termasuk kesehatan.

Selain itu mereka bisa tiba-tiba tertangkap polisi tanpa ada bukti mereka pekerja dan akan mendapatkan perlakuan hukum tanpa ada yang membela dan bisa dipenjarakan atau dideportasi ke negara asal mereka tanpa menerima gaji. Dengan jaminan inilah para pekerja tidak akan kabur kemana pun walau mereka tersiksa di dalam tanpa digaji karena jika keluar ke kota, nasib mereka juga akan sama buruknya. Hal sadis lain yang didapatkan para pekerja adalah mereka tidak mendapatkan akses ke air minum gratis di Qatar. Padahal di siang hari, Qatar bisa mengalami suhu panas hingga 50 derajat celsius, dan para pekerja ini menghadapi panas tersebut setiap hari selama lebih dari 12 jam.

Baca juga :  Rapper Post Malone Ramaikan Konser Virtual 25th Anniversary Pokemon

Para pekerja juga tidak diberikan tempat tinggal yang layak selama mereka bekerja dan tinggal di Qatar. Padahal hal ini melanggar undang-undang dari FIFA yang mengatur tentang kelayakan hal-hal yang harus didapat pekerja selama mengerjakan pembangunan persiapan seluruh turnamen sepak bola di dunia. Standar yang diberikan oleh FIFA untuk tempat tinggal layak adalah untuk 1 kamar hanya berisi 4 orang maksimal, namun kenyataannya tempat tinggal dan istirahat para pekerja di Qatar adalah 1 kamar berisikan 12 orang. Akibat dari terlalu padatnya tempat tinggal yang mereka tinggali selama bekerja, kebersihan jadi tidak bisa mereka jaga. Efek buruk domino yang akhirnya dirasakan adalah banyaknya penyakit yang mereka timbulkan sendiri dan banyak pekerja yang meninggal dunia akibat banyaknya penyakit yang menimpa mereka.

Para pekerja juga tidak bisa berpindah pekerjaan atau perusahaan walaupun sudah tersiksa. Karena pekerja ini hanya dapat berpindah pekerjaan jika disetujui oleh perusahaan yang memegang lisensi sponsor resmi piala dunia 2022. Seluruh perlakuan dan fasilitas buruk yang para pekerja alami selama mereka bekerja di Qatar tidak diberitahukan saat mereka direkrut dari negara asalnya. Mereka hanya dijanjikan imbalan yang dalam pemikiran dan kurs mata uang negara mereka, sangat besar yang bisa mereka bawa pulang saat sudah selesai nanti. Selain itu, sekalipun hanya sebagai pekerja kasar, mereka juga tetap bersedia bekerja di Qatar karena berpikir sangat menjamin kehidupan mereka bekerja di negara kaya dan maju. Hal ini juga menjadikan standar kebanggaan di negara mereka jika bisa bekerja di negara maju.

Baca juga :  Konsol Game Seharga Mobil Baru? Inilah Emperor

Karena impian dan ketertarikan mereka inilah yang membuat mereka rela berhutang di negara asal mereka demi bisa membayar biaya perjalanan dan administrasi ke agency yang akan memberangkatkan mereka ke Qatar menjadi pekerja. Ada juga pekerja yang memilih sistem hutang ke agency demi bisa diberangkatkan ke Qatar dan nanti hutang tersebut akan dicicil dari gaji mereka selama mereka bekerja di sana. Perusahaan yang mempekerjakan mereka dengan agency yang membawa mereka juga tidak melakukan koordinasi apapun. Jika para pekerja melakukan protes kepada perusahaan yang mempekerjakan mereka karena dirasa tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan agency yang membawa mereka. Perusahaan tidak peduli dan tinggal mencabut visa mereka agar mereka bisa langsung dideportasi ke negara asalnya dan meninggalkan hutang yang harus dibayarkan ke agency.

Salah satu agency yang terungkap dengan penyiksaan ini adalah Al Batil yang merupakan jasa perusahaan keamanan yang mayoritas pekerjanya berasal dari negara-negara Afrika. Berbeda dengan Nepal yang mayoritas menjadi kuli bangunan karena postur badannya yang tidak sebesar warga Afrika. Pekerja dari Al Batil menyatakan untuk bisa bekerja di Qatar, mereka harus membayar agency sebesar 25 juta rupiah. Padahal gaji yang mereka dapatkan di Qatar hanya sekitar 10% dari yang mereka bayarkan ke agency. Gambarannya adalah gaji pekerja di Qatar baik kuli bangunan atau tim keamanan ini lebih kecil dibandingkan gaji UMR di Jakarta.

Penyiksaan lain yang diterima pekerja asal agency Al Batil ini adalah tidak pernah mendapatkan libur serta harus bekerja dalam sehari selama 14 – 15 Jam. Statistik mencatat hingga detik ini laporan dirilis sudah ada sekitar 15,000 imigran yang resmi merupakan pekerja proyek piala dunia Qatar yang meninggal dunia. Dari 15,000 pekerja yang meninggal tersebut, maka perusahaan tidak perlu membayarkan gaji mereka serta tidak ada niat untuk memberikan santunan kepada keluarganya di negara asal mereka. Bisa dibayangkan jika satu pekerja seharusnya menerima gaji sebesar 5 juta rupiah, berarti jika ada 15,000 yang tidak harus dibayarkan gajinya, perusahaan sudah meraup keuntungan sebesar 75 miliar rupiah.

Sejak berita perbudakan dan penyiksaan ini tersebar, Qatar dan FIFA sepakat untuk melakukan perbaikan terutama mulai dari tempat tinggal bagi para pekerja saat ini. Selain itu pemerintah Qatar dan FIFA juga akan melakukan perombakan terhadap perundang-undangan yang berlaku. Sebenarnya FIFA bisa saja melakukan blacklist kepada Qatar dan membatalkan Qatar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 mendatang karena sudah melakukan pelanggaran berat seperti ini.

Janji pemerintah Qatar dan FIFA yang akan mengubah undang-undang dan melakukan perbaikan kepada kehidupan para pekerja di Qatar terasa cukup sia-sia. Karena pembangunan dan penyiksaan yang didapat sudah sejak tahun 2010 di mana Qatar sudah memulai pembangunan proyek persiapan piala dunia 2022. Jadi sudah selama 12 tahun penyiksaan berlangsung, baru kali ini FIFA dan pemerintah Qatar menjanjikan adanya perubahan bagi kehidupan pekerja yang lebih layak. Lalu FIFA yang mengetahui perbuatan Qatar yang tidak manusiawi ini selama 12 tahun tersebut tidak melakukan blacklist atau membatalkan Qatar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 diduga karena akan ada aliran dana yang mengalir ke FIFA selama pergelaran piala dunia 2022 berlangsung nantinya. (Angela Limawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Deretan Destinasi Incaran Wisatawan Berkonsep Alam dan Budaya di Papua, Simak Daftarnya

TELENEWS.ID - Berbicara seputar deretan tempat wisata unggulan sekaligus menjadi incaran semua wisatawan lokal sampai mancanegara pastinya memberi penawaran menarik.

Dianggap Berjasa, Layakkah Brigadir Yoshua Diangkat Sebagai Pahlawan?

TELENEWS.ID - Pengacara Brigadir Nopriansyah Yoshua Hutabarat, Kamaruddin Simanjuntak meminta Presiden Joko Widodo untuk mengangkat Brigadir Josua sebagai pahlawan pada peringatan HUT...

Sebelum Harga Mie Instan Naik 3 Kali Lipat, Yuk Cobain 5 Tips Makan Mie yang Sehat dan Bergizi

TELENEWS.ID - Harga mie instan dikabarkan akan mengalami kenaikan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut ada kemungkinan bahwa makanan cepat saji favorit...

Terbukti, Gigi Putih Bersih Bikin Kamu Terlihat Awet Muda dan Menarik di Mata Lawan Jenis

TELENEWS.ID - Gigi yang putih dan bersih memang menyenangkan untuk dilihat. Mereka yang memiliki gigi putih, bersih dan rapi menjadi penanda bahwa...