Home Ekonomi Surat Utang Jadi Primadona Investasi di Tengah Pandemi

Surat Utang Jadi Primadona Investasi di Tengah Pandemi

TELENEWS.ID – Berinvestasi di tengah pandemi bukan hal mustahil, dimana kini negara banyak melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN). Ternyata cara ini masih digunakan sebagian masyarakat untuk tetap meningkatkan aset di tengah kondisi yang tidak pasti.

Data dari Bank Indonesia (BI) memperlihatkan adanya kenaikan pencairan deposito yang dilakukan oleh masyarakat di kalangan menengah ke atas. Kini deposito bukan lagi primadona, pasalnya bank secara serempak menurunkan bunga deposito di arah yang kurang menguntungkan.

Dimana kebanyakan dari mereka yang mencairkan deposito beralih pada Surat Utang, pasalnya ini masih jadi instrumen investasi aman yang sudah dijamin oleh negara dan memiliki return yang cukup menjanjikan.

Fakta ini didapatkan langsung dari Asisten Gubernur yang juga sekaligus menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung, pada perbincangan virtual pada media yang berlangsung pada Jumat (02/07/2021) lalu.

Juda menjelaskan jika kini masyarakat kalangan menengah ke atas tidak tertarik lagi dengan deposito, hal ini terlihat dari cukup tingginya angka pencairan deposito selama pandemi covid-19. Mereka memiliki cara lain untuk tetap berinvestasi dan mendapatkan return lebih tinggi dengan memiliki investasi dari Surat Utang.

“Mereka (pemilik deposito yang dicairkan) ingin melakukan penyesuaian ke instrumen yang return nya lebih tinggi dengan harapan bisa mendapatkan yield tinggi, ketika kondisi ekonomi sudah membaik, ini akan mendongkrak jumlah kekayaan dan tingkat konsumsi bisa meningkat” ujar Juda

Jika melihat dari penawaran dari Bank Sentral Nasional, dimana memberikan retrun maksimal untuk Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 8,53 persen pada 2020-2021, dimana rata-rata yield bisa mencapai 6,35 persen di tahun 2021.

Bukan hanya investasi aman yang dijamin pemerintah, masyarakat kalangan menengah ke atas juga tetap mempertahankan bahkan menambah investasi pada instrumen saham. Memang angkanya mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelum pandemi covid-19, tetapi masih menjanjikan return maksimal.

Investasi saham mencatatkan return maksimal mencapai 66,6 persen di tahun 2020-2021 dengan rata-rata return saham berada di kisaran 24,6 persen, ini tercatat pada Januari – Juni 2021. Investasi saham memang tetap memiliki banyak peminat, sekalipun kini harga saham lebih banyak mengalami penurunan.

Jika dibandingkan dengan return yang diberikan deposito, ini hanya mencapai 6,7 persen di tahun 2020-2021 dengan rata-rata bunga deposito hanya mencapai 5,23 persen di tahun 2021. Hal ini karena suku bunga bank mengalami penurunan, bahkan kini mencapai 3 persen saja.

Baca juga :  Vtube Mulai Rambah Uang Kripto? Ini Fakta-Faktanya

Juda memang belum memberikan kepastian berapa banyak masyarakat menengah ke atas yang memilih mengalihkan investasi deposito ke Surat Utang dan Saham. Namun jika melihat jumlah nomor identitas investor (SID) yang ada di pasar modal, setiap harinya mengalami peningkatkan.

Bahkan di tengah pandemi, tercatat ada peningkatkan SID. Di tahun 2019 hanya terdapat 2,48 juta SID, mengalami peningkatan pesat di tahun 2020 yang mencapai 3,88 juta SID, bahkan hingga Mei 2021 lalu, tercatat ada 5,32 juta SID.

Juda juga menjelaskan, adanya pemindahan dana investasi ini bukan semata karena retrun deposito yang ditawarkan rendah, namun juga dipengaruhi mobilitas masyarakat yang sangat terbatas di pandemi covid-19.

Bahkan bisa jadi, jika nantinya kondisi sudah kembali normal, masyarakat sudah bisa beraktivitas secara normal kembali, maka bisa terjadi kenaikan jumlah deposito kembali. Pasalnya ini investasi yang sangat mudah dilakukan dan terjangkau sehingga seluruh kalangan bahkan hingga ke pelosok nusantara.

Bukan hanya memindahkan dana deposito ke investasi yang menjanjikan return tinggi, kalangan menengah ke atas tampaknya ingin melakukan aktivitas konsumtif lebih mudah, hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh PPKM Darurat yang diterapkan oleh pemerintah, sehingga lebih memilih untuk memindahkan dana deposito pada tabungan.

Baca juga :  Fantastis! Dana Infrastruktur di 5 Destinasi Wisata Super Prioritas

Hal ini mengindikasikan jika dana yang dimasukkan pada instrumen investasi seperti Surat Utang dan Saham, ini akan dimaksudkan untuk dana masa depan karena bisa memberikan return lebih tinggi. Sedangkan dana yang dipindahkan ke tabungan, ini lebih kepada tindakan konsumtif agar bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.

Hal ini mengacu pada data BI yang menyebutkan, pertumbuhan deposito mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. Sedangkan pertumbuhan tabungan perseorangan mengalami peningkatan. Kondisi ini banyak terjadi pada mereka yang memiliki deposito dan tabungan yang berada di kisaran Rp100 juta hingga Rp2 miliar, sedangkan untuk pemilik tabungan diatas Rp2 miliar tetap.

Apakah berinvestasi di masa pandemi masih jadi hal yang cukup relevan di tengah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian? Sebaiknya harus memilih instrumen investasi yang tepat dan kenali resikonya dengan baik. Pasalnya masih ada harapan untuk mengembangkan dana yang ada sehingga setelah pandemi bisa menikmati hasilnya. (Chairunisa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Resmikan Groundbreaking Hilirisasi Batu Bara Jadi DME, Jokowi: Mau Sampai Kapan Impor Terus?

TELENEWS.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil meter atau DME di Kabupaten Muara Enim, Sumatera...

Kronologi OTT Kasus Korupsi Bupati Penajem Paser Utara

TELENEWS.ID - Nur Afifah Balqis sedang ramai menjadi perbincangan publik nasional akhir-akhir ini karena menjadi salah satu tersangka OTT KPK dan terlibat...

Kisruh Arteri Dahlan Mengancam Elektabilitas PDIP

TELENEWS.ID – Anggota komisi III DPR RI dari fraksi PDIP, Arteri Dahlan membuat gaduh Indonesia. Arteria meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot...

Kemanakah Ridwan Kamil Berlabuh Untuk Pilpres 2024 ?

TELENEWS.ID - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden 2024. Namun hingga saat ini masih belum ada partai...