Home Ekonomi Tragedi Malari 1974, Tonggak Berdirinya Cita-Cita Ekonomi Negara yang Mandiri

Tragedi Malari 1974, Tonggak Berdirinya Cita-Cita Ekonomi Negara yang Mandiri

TELENEWS.ID – Malapetaka terjadi 15 Januari 1974, alias Malari 1974, menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang mewarnai masa awal pemerintahan Orde Baru.

Tuntutan kemandirian ekonomi dalam negeri hingga agenda terselubung para menteri dalam aksi tersebut kerap menjadi catatan kelam negeri ini.

Hari ini 5 dekade yang lalu, ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Ibu Kota turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya.

Mereka dengan tegas mengkritik kebijakan pemerintah kala itu yang dinilai terlalu bergantung pada investasi asing.

Mereka menilai kebijakan pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh Soeharto ketika itu sudah melenceng ke arah yang lebih radikal dan tidak pro rakyat.

Baca Juga : Begini Cara Menyaksikan Keindahan Sunrise di Borobudur

Ditambah, menurut mereka, masyarakat pribumi tidak bisa menikmati hasil pemulihan ekonomi yang pada saat itu tengah digadang-gadangkan.

Yang menjadi sorotan paling menarik adalah peristiwa ini sangat erat kaitannya dengan sosok Hariman Siregar yang ketika itu mendapat julukan “Macan Malari”

Beliau ketika itu dengan segala daya upaya dan sepenuh hati serta fokus pada pentingnya kehidupan yang merata bagi masyarakat ketika itu.

Pendiri Indemo ini ketika itu dengan lantang menyuarakan aspirasi rakyat dan dengan segenap kemampuannya memperjuangkan kepentingan rakyat.

Perjuangan keras Hariman Siregar yang menerima ganjaran hukuman di RTM Budi Utomo dan harus ditebus dengan kehilangan 2 anak kembarnya ketika itu setelah baru saja 2 hari dilahirkan.

Jasa beliau dalam memperjuangkan aspirasi untuk kepentingan rakyak patut kita apresiasi, dengan begitu apapun yang beliau perjuangkan akan menjadi sebuah inspirasi bagi pemuda Indonesia dalam memperjuangkan rakyat dari penindasan tirani.

Kembali ke Malari, pada hari itu, 15 Januari 1974, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka tiba di Jakarta.

Tanpa sambutan kenegaraan, Tanaka lalu bertemu dengan Presiden Soeharto beserta beberapa menteri lainnya di Istana Negara.

Di hari yang sama pada sisi lain Ibu Kota, ribuan mahasiswa melakukan long march sebagai protes bagi pemerintah dan PM Jepang Tanaka akan investasi asing yang dinilai terlalu mendominasi.

Memang, pada kala itu, Indonesia tengah melalui periode pemulihan ekonomi.

Kondisi perekonomian peninggalan masa Orde Lama mengharuskan Soeharto mengambil langkah-langkah strategis guna membayar hutang warisan Presiden Soekarno yang cukup menggerus perekonomian negara ketika itu.

Pada masa Orde Lama, masalah-masalah ekonomi tidak menjadi perhatian utama bagi Soekarno yang menghabiskan masa hidupnya sangat fokus untuk berjuang di aliran politik.

Belum lagi beberapa kebijakan Soekarno yang semakin menyudutkan perekonomian negara.

Salah satunya adalah pemutusan hubungan dengan negara-negara Barat, yang memarginalkan Indonesia dari perekonomian dunia.

Isolasi Indonesia dari negara-negara Barat juga menghambat bantuan asing yang sebetulnya sedang dibutuhkan Indonesia.

Kebijakan-kebijakan Orde Lama lantas berujung pada hiperinflasi yang sudah tidak terkontrol.

Dengan masuknya pemerintahan Soeharto pada Orde Baru menjadi titik balik perekonomian negara.

Namun ternyata, kebijakan ekonomi yang diambilnya dinilai terlalu berlebihan dan justru merugikan kaum pribumi, setidaknya itulah yang menjadi dasar turunnya mahasiswa ke jalan ketika itu.

Memasuki periode pemulihan ekonomi, tantangan pertama bagi Soeharto adalah membenahi kebijakan ekonomi Indonesia di mata dunia.

Langkah yang diambil Soeharto adalah memasukkan Indonesia kembali menjadi anggota International Monetary Fund (IMF), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bank Dunia di akhir tahun 1960an.

Hal ini guna menghidupkan lagi Indonesia di kancah ekonomi dunia.

Sejak saat itulah, arus bantuan finansial asing dari negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, dan Jepang mulai mengalir di Indonesia.

Politik konfrontasi Soekarno yang menyebabkan perselisihan dengan Malaysia juga dihentikan.

Tantangan yang kedua yakni mengendalikan hiperinflasi.

Soeharto mengajak para teknokrat ekonomi, yang sebagian besar lulusan Amerika Serikat, untuk membentuk rencana pemulihan ekonomi.

Hingga di akhir 1960an, Soeharto berhasil menciptakan stabilitas harga melalui regulasi yang melarang pendanaan domestik berbentuk hutang maupun pencetakan uang.

Mekanisme pasar bebas juga kembali diberlakukan dengan membebaskan kontrol pasar.

Liberalisasi pasar ini didampingi dengan Undang-Undang (UU) Penanaman Modal Asing tahun 1967 dan UU Modal Dalam Negeri tahun 1968.

Dengan hadirnya kedua UU ini, para investor asing tergiur dengan insentif-insentif yang menggoda.

Contohnya saja, Freeport yang menjadi insvestor asing pertama yang bercokol di Indonesia dengan membuka kontrak karya di Irian Jaya ketika itu dan Soeharto sebagai pemrakarsanya.

Baca juga :  Bansos Tunai Rp12 Triliun Akan Disalurkan Melalui PT Pos Indonesia

Pemerintah juga berupaya menarik para investor asing dengan memanfaatkan buruh yang dibayar murah.

Maka, menuju akhir tahun 1960an, pertumbuhan ekonomi pun melesat lebih dari 10 persen.

Namun, pada tahun 1973-1974, terjadilah oil boom yang dilatarbelakangi pengurangan ekspor minyak secara drastis oleh Organization of Petroleum-Exporting Countries (OPEC).

Pemotongan ekspor ini lantas menyebabkan lonjakan pada harga minyak.

Sebagai salah satu anggota OPEC yang aktif, Indonesia pun ikut terdampak aturan pemotongan ekspor minyak ketika itu.

Pada era tersebut, Indonesia mendulang keuntungan yang banyak dari hasil penjualan minyak bumi.

Dengan keuntungan besar-besaran yang didapat Indonesia dari hasil oil boom, semestinya Indonesia sudah mulai mampu mandiri secara ekonomi dan tidak lagi bergantung pada bantuan asing.

Namun, penanaman modal asing sudah terlanjur terjadi dan mengalir deras.

Mengutip dari catatan USAID/Indonesia September 1972, Kamis (14/1/2021), sejak tahun 1967 hingga 1971 saja, pemerintah Indonesia telah membuka pintu untuk 428 investor asing dengan total nilai investasi mencapai USD 1,6 miliar, di luar sektor minyak bumi.

Baca juga :  Membiarkan bebas Terpidana Korupsi, Joseph Tjahja, Andar GACD akan Mempidanakan Kejahatan Jabatan. Kejagung ,Kejati DKI dan Kejari Jakpus

Hingga akhirnya meletuslah peristiwa Malari 1974.

Demonstrasi besar-besaran itu menolak keras ketergantungan Indonesia pada bantuan asing.

Protes tersebut juga menghasilkan tiga tuntutan yang dinamai “Tritura Baru 1974”.

Dalam tuntutan itu, para mahasiswa menginginkan Presiden untuk membubarkan lembaga Asisten Pribadi Presiden (Aspri); menurunkan harga dan menggantung para koruptor.

Rombongan mahasiswa yang turun ke jalan didominasi oleh kelompok penekan berpengaruh.

Mereka menilai bahwa arah pembangunan Orde Baru tidak mencerminkan wacana Anti Nekolim (penjajahan tak kasat mata) era Orba.

Derasnya investasi asing ke Indonesia justru dinilai menyetir banyak kebijakan negara dan rakyat belum dapat menikmati hasilnya karena semua hanya untuk memperkaya segelintir pejabat di Indonesia saja.

Mereka juga merasa pemerintah terlalu mengistimewakan pihak asing dan konglomerasi, sehingga memarginalisasikan pribumi secara ekonomi.

Secara psikologis masyarakat merasa dikorbankan oleh pemerintah yang secara tidak langsung menjual Indonesia kepada asing. dan, tidak diberikan kesempatan untuk ikut menikmati hasil pemulihan ekonomi

Ketika itu, banyak perusahaan berbasis ekonomi umat dan UMKM terpaksa gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan ekonomi konglomerasi yang didukung penuh oleh pemerintah.

Sebagai “Macan Malari” dan Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Indonesia (UI) Hariman Siregar memiliki andil besar.

Ketika itu, di bawah komandonya, Hariman memimpin long march yang dimulai dari UI Salemba hingga Universitas Trisakti, Grogol.

Perpecahan pun terjadi di wilayah Pasar Senen, di mana demonstran membakar dan menghancurkan ruko-ruko yang baru dibangun.

Demonstran juga membakar banyak barang dan produk buatan Jepang, termasuk Toyota Astra dan Coca Cola.

Memang, Jepang kala itu mendominasi penanaman modal di Indonesia dalam bentuk elektronik, transportasi dan barang-barang konsumen lainnya.

Maka, tak heran kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka memicu protes keras dari masyarakat.

Malari 1974 pun berujung pada kerusuhan anarkis yang memakan korban dan kerugian materiil.

Sedikitnya ada 800an mobil dan motor buatan Jepang hangus dibakar, 144 bangunan rusak berat, 11 orang meninggal dunia, 300 luka-luka, 775 orang ditahan dan 160 kilogram emas dijarah dari toko-toko perhiasan.

Demonstrasi dan protes besar-besaran yang berkecamuk di depan Tanaka kemudian mengubah arah kerja sama Jepang dengan Indonesia.

Melansir dari catatan informasi dari seorang sejarawan Jepang Aiko Kurosawa, sejak kejadian Malari 1974, Jepang mulai mengeluarkan banyak program penelitian yang berfokus pada budaya dan agama di Indonesia.

Sehingga, di tahun yang sama, muncullah Japan Foundation.

Melalui yayasan ini, Negeri Sakura sering mengadakan pertukaran budaya dengan program student exchange, atau pertukaran pelajar antara Jepang dan Indonesia.

Jepang juga mulai menggalakkan banyak studi mengenai Asia Tenggara.

Malari 1974 juga dianggap melatarbelakangi munculnya Toyota Foundation, sebuah pionir lembaga penelitian yang didanai pihak swasta.

Toyota Foundation memiliki fungsi utama sebagai pemberi beasiswa penelitian bagi studi Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Itulah serangkaian prahara yang muncul dalam konteks pembangunan ekonomi dan hubungannya dengan masyarakat pribumi.

Tragedi Malari 1974 layaknya tetap menjadi catatan sejarah yang perlu dibuka kembali untuk evaluasi diri.

Sekiranya pemerintah kini dapat memetik pelajarannya dan mampu merealisasi keinginan rakyat yang diperjuangkan di jalan demi kemakmuran yang independen. (Ajeng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Kisah Ritual Aneh di Dunia Sepak Bola

TELENEWS.ID – Dalam dunia sepak bola pemain dan pelatih akan melakukan segala hal yang membuat mereka memetik kemenangan atas lawan-lawan mereka.

PUBG New State Diluncurkan, Apa Bedanya Dengan PUBG Mobile ?

TELENEWS.ID - Para penggemar game mobile online, khususnya PUBG, sedang dihebohkan dengan peluncuran PUBG New State pada Kamis lalu (25/3/2021).

Mengapa Pierluigi Collina begitu Disegani?

TELENEWS.ID - Apa jadinya sepak bola dimainkan tanpa wasit? Wasit adalah sosok penting untuk pertandingan sepak bola dan menjadi pengadil bagi dua...

Tak Mau Kalah, Huawei Ikut Kembangkan Mobil Listrik

TELENEWS.ID - Raksasa teknologi asal Tiongkok, Huawei, berencana membuat mobil listrik dengan mereknya sendiri, dan beberapa model bahkan mungkin diluncurkan sebelum akhir...