Home Daerah Urban Farming dalam Sempitnya Lahan Kota Surabaya

Urban Farming dalam Sempitnya Lahan Kota Surabaya

TELENEWS.ID – Praktik sosial pertanian kota atau biasa yang disebut urban farming kini telah menjadi praktik yang sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat kota di Indonesia.

Urban farming sendiri memiliki dua pengertian, yaitu pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Urban farming dalam pengertian secara sempit adalah kegiatan berkebun di tengah pinggiran kota atau perkotaan. Urban farming dalam pengertian luas adalah keseluruhan metode produksi pangan, mulai dari budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di atau sekitar kota. Urban Farming dalam pengertian luas bisa melibatkan pertenakan, budidaya perairan, wanatani, dan hortikultura.

Praktik sosial urban farming pertama kali muncul di Indonesia diawali dengan adanya permasalahan mengenai kurangnya Ruang Terbuka Hijau dan banyaknya lahan yang yang kurang teroptimalkan dengan baik.

Masalah keterbatasan lahan tersebut juga dirasakan di wilayah Kota Surabaya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah penduduk. Peningkatan laju penduduk inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab masalah keterbatasan lahan yang ada di Surabaya.

Kota Surabaya tidak hanya mengalami masalah keterbatasan lahan saja, beberapa wilayah juga mengalami kerentanan. Sebagian besar penduduk Surabaya, yaitu sekitar hampir 63% menempati wilayah perkampungan. Wilayah perkampungan ini dihuni oleh kelompok sosial ekonomi bawah sampai menengah yang hidup secara berdampingan.

Sebagai kota besar, Surabaya memiliki daya tarik bagi investor untuk mengembangkan jangkauan fasilitas bisnis mereka. Hal ini terbukti dari banyaknya wilayah di Surabaya yang mengalami alih fungsi lahan, termasuk wilayah perkampungan yang ada di Surabaya.

Kerentanan juga ditandai dengan tingkat ketergantungan pangan yang tinggi. Joelianto selaku Kasubag UPTD Balai Pembibitan Dinas Pertanian Kota Surabaya berpendapat bahwa Surabaya belum bisa memberi makan penduduknya dalam satu bulan penuh. Surabaya hanya mampu menjamin pangan selama 18 hari dan sisanya diambil dari Kota Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan.

Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pertanian mulai menyusun Program Urban Farming. Program Urban Farming disusun berdasarkan asas yang ada pada Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 12 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya Tahun 2014-2034 dan dianggarkan dalam APBD Kota Surabaya.

Program Urban Farming di Surabaya sengaja digalakkan oleh Pemerintah sebagai praktik budidaya pengelolaan makanan melalui pemanfaatan pekarangan dan lahan-lahan kosong bagi masyarakat miskin kota. Tujuan awal dari program urban farming sendiri adalah untuk membangun kemandirian masyarakat miskin kota dalam memenuhi kebutuhan asupan gizi dan meningkatkan perekonomian rumah tangga.

Program ini pada mulanya telah menyasar ke 37.199 KK, berada di 31 Kecamatan dan 163 Kelurahan yang tersebar di seluruh wilayah Surabaya.

Pemberian bantuan Program Urban Farming kepada masyarakat harus melalui verifikasi terlebih dahulu oleh Dinas Pertanian Kota Surabaya, dengan cara menilai kualifikasi penerima bantuan, yaitu merupakan warga kurang mampu, memiliki KTP Surabaya, dan rumahnya memiliki lahan untuk dijadikan tempat budidaya urban farming.

Seiring dengan berjalannya waktu, program urban farming di Surabaya terus bersinergi dengan program- program lain yang juga bisa meningkatkan produktifitas rumah tangga. Program tersebut salah satunya adalah Surabaya Smart City. Program Surabaya Smart City berbeda dengan program sebelumnya, seperti Surabaya Green and Clean dan Kampung Merdeka Sampah. Hal tersebut dikarenakan program SSC tidak hanya membicarakan soal kebersihan dan penghijauan saja, namun juga memiliki cita-cita besar yaitu sampai menjadikan perkampungan yang ada di Surabaya sebagai kampung wisata.

Program SSC menginginkan terwujudnya smart environment, yang meliputi smart energy, smart water, air and land management, serta smart waste management. Program SSC memiliki kategori yang lebih luas dari program sebelumnya, yakni kebersihan lingkungan dan pemilahan sampah, pencapaian target reduksi sampah (sebelum – sesudah), penghijauan, drainase dan sanitasi, partisipasi warga, kebiasaan, tim pendamping lingkungan, inovasi, sirkulasi ekonomi, pemanfaatan energi terbarukan, juga pemanfaatan lahan untuk urban farming.

Berdasarkan penjabaran diatas, diketahui bahwa tujuan awal digalakkan program urban farming dan program kemandirian pemerintah Surabaya lainnya adalah untuk meningkatkan produktifitas dan kemandirian rumah tangga miskin kota. Selain itu juga ikut turut membantu mereka menghadapi masalah kerentanan pangan dan keterbatasan lahan.

Namun terdapat kisah menarik yang ditemukan dari isu urban farming ini adalah adanya Kampung yang telah melakukan praktik urban farming, yang justru telah dilakukan secara kolektif dan mandiri. Kisah ini tentunya berbeda dari tujuan awal digalakkannya program urban farming oleh pemerintah. Kampung tersebut adalah Kampung Pulosari III K Surabaya.

Di Surabaya sendiri sebenarnya juga sudah ada beberapa kampung yang telah melakukan praktik urban farming, misalnya adalah Kampung Hidroponik Simo Kalangan. Praktik hidroponik di Simo Kalangan dilaksanakan dengan mengandalkan bantuan dari pihak swasta, yang dalam hal ini adalah Pelindo III dengan mendapatkan bantuan dana total sebesar 225 juta rupiah.

Kampung lainnya adalah Kampung Hijau HSSE Njagir yang merupakan kampung binaan PT Pertamina sejak tahun 2012. Awalnya kampung ini merupakan kampung kumuh. sekarang menjadi kampung produktif yang menjalankan praktik urban farming.

Baca juga :  Kabur Saat Diperiksa Imigrasi, Buronan Interpol Rusia Diburu Polda Bali

Sejauh penelusuran reporter Telenews.id, Kampung Pulosari III K adalah satu satunya kampung di Surabaya yang berhasil membentuk praktik urban farming secara mandiri, tanpa melibatkan banyak bantuan dari pihak pemerintah maupun pihak swasta.

Kampung Pulosari III K berada di wilayah Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya ini merupakan kampung yang padat dengan penduduk yang dihuni oleh hampir 293 KK.

Praktik urban farming ini diawali oleh beberapa warga yang memiliki kesadaran bahwa kampungnya masih kurang hijau, kurang bersih, rentan akan ketahanan pangan, dan mati secara sosial maupun ekonomi.

Melihat kenyataan tersebut, para warga menginginkan agar kampungnya bisa lebih hijau, lebih bersih, lebih aktif secara sosial, dan bisa lebih produktif secara ekonomi maupun ketahanan pangan.

Para warga menilai bahwa sebenarnya kampungnya memiliki kekuatan sosial yaitu keguyuban masyarakat. Dalam mewujudkan keinginan tersebut, tentu tidaklah mudah.

Baca juga :  Hendi: Kota Semarang Jadi Pilot Pendataan Keluarga

Para warga menjumpai beberapa kendala, mulai dari kendala dalam menciptakan kesadaran masyarakat untuk sadar lingkungan dan ikut kegiatan urban farming, dana yang dibutuhkan untuk kegiatan urban farming, sampai keahlian SDM untuk mengelola usaha urban farming. Namun para warga mengatasi semua kendala tersebut secara mandiri dengan terus menerus melakukan berbagai praktik-praktik sosial hingga akhirnya beberapa masyarakat lainnya ikut bergabung.

Dalam hal ini beberapa warga yang tergerak untuk membentuk praktik urban farming adalah sebagai agen.

Praktik yang dilakukan pertama kali oleh para agen adalah melakukan penyadaran kepada masyarakat lainnya soal penghijauan kampung yang harus dilakukan dengan konsisten. Cara dan metode yang digunakan oleh para agen tergolong unik dan kreatif.

Beberapa caranya yaitu dengan mencontohkan terlebih dahulu cara tanam hidroponik. Ketika sudah mulai panen, hasil panen hidroponik tersebut akan dibagikan ke warga warga.

Cara lainnya adalah dengan memberikan tabulampot (tanam buah dalam pot) ke masing-masing warga. Pada suatu malam, agen akan mengacak tanaman tanaman warga di satu gang. Dengan harapan akan muncul rasa marah dari warga karena ada yang mengacak acak tanaman warga, sehingga bisa muncul dorongan untuk lebih perhatian dalam merawat tanaman.

Hal ini dilakukan karena para agen menyadari bahwa untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat, tidak bisa hanya sekali atau dua kali di sosialisasi, namun harus melalui pembiasaan, sehingga praktik social terwujud dalam kegiatan kegiatan urban farming yang dipelopori oleh beberapa agen dan kemudian diikuti dan terus diulang oleh masyarakat lainnya.

Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh Giddens bahwa praktik sosial akan menunjukkan posisi aktor sedangkan keterulangan dan keterpolaan dari praktik sosial menunjukkan pada posisi struktur.

Praktik dilakukan dengan menciptakan kesadaran akan kepedulian terhadap lingkungan. Setelah kesadaran mulai dibangkitkan, masyarakat akan melaksanakan praktik yang dibentuk oleh agen seperti ikut berpatisipasi dalam kegiatan pembibitan, pembuatan kompos, panen, melakukan dekorasi penghijauan, pemasaran, dan lain sebagainya.

Setelah praktik urban farming terus dijalankan dan diulang selama hampir 4 tahun ini berhasil membentuk struktur kepengurusan baru, yaitu Kelompok Green House dan yang baru saja dibentuk tahun ini adalah Kelompok Tani Wanita.

Praktik-praktik tersebut dilakukan terus menerus sampai berpola dan membentuk sebuah struktur baru, yaitu masyarakat yang sadar lingkungan yang kemudian disimbolkan dengan “Green House My Darling 07 02” atas praktik urban farming yang ada di Kampung Pulosari.

My Darling sendiri adalah singkatan dari Masyarakat Sadar Lingkungan. Di dalam kelompok greenhouse tersebut terdapat aturan aturan dan sumber daya yang digunakan oleh para agen untuk melanggengkan praktik urban farming yang para agen lakukan.

Dari penjelasan tersebut, bisa dilihat bahwa struktur baru yang muncul yaitu kelompok Greenhouse My Darling adalah hasil dari praktik urban farming yang dijalankan oleh agen, sekaligus menjadi sarana agen untuk melanggengkan praktiknya.

Giddens melihat hal ini sebagai relasi dualitas antara agen dan struktur yang terjadi pada praktik sosial yang berulang dan terpola dalam lintas ruang dan waktu.

Dalam relasi tersebut menjelaskan bahwa agen bisa mempengaruhi struktur dan struktur bisa mempengaruhi tindakan agen.

Untuk itulah, struktur bisa menjadi hasil dari praktik agen sekaligus sebagai media untuk melanggengkan praktik agen.

Penjabaran beberapa realitas sosial diatas menjelaskan fenomena yang menarik mengenai adanya Praktik yang dilakukan masyarakat Kampung Pulosari yang kini telah produktif dengan memiliki greenhouse sendiri.

Praktik yang terjadi pun tidak hanya berdampak pada lingkungan fisiknya saja, melainkan juga berdampak pada kehidupan masyarakatnya.

Hal tersebut dikarenakan adanya struktur baru yang dibentuk oleh agen-agen perubahan, dipraktikkan dan yang kemudian dipertahankan oleh masyarakat hingga saat ini.

Dengan adanya praktik urban farming yang dilanggengkan masyarakat Kampung Pulosari bisa memproduksi sendiri kebutuhan pangan sayur, mendapatkan tambahan penghasilan, memperkuat hubungan antar warga, dan meningkatkan aktivitas sosial warga. (Uswatun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Kronologi OTT Kasus Korupsi Bupati Penajem Paser Utara

TELENEWS.ID - Nur Afifah Balqis sedang ramai menjadi perbincangan publik nasional akhir-akhir ini karena menjadi salah satu tersangka OTT KPK dan terlibat...

Kisruh Arteri Dahlan Mengancam Elektabilitas PDIP

TELENEWS.ID – Anggota komisi III DPR RI dari fraksi PDIP, Arteri Dahlan membuat gaduh Indonesia. Arteria meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot...

Kemanakah Ridwan Kamil Berlabuh Untuk Pilpres 2024 ?

TELENEWS.ID - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden 2024. Namun hingga saat ini masih belum ada partai...

Desa Wisata Ini Diprediksi Bakal Hits di Tahun 2022, Yuk Simak Apa Saja Daftarnya

TELENEWS.ID - Banyak solusi ketika Anda ingin mencari destinasi liburan bersama keluarga ataupun teman-teman dengan tema desa wisata. Saat ini trend mengunjungi...