Home Teknologi Info Tech Wejangan Microsoft untuk Google

Wejangan Microsoft untuk Google

TELENEWS.ID – Guru terbaik adalah pengalaman. Mungkin peribahasa ini yang paling sesuai mendeskripsikan kasus tuntutan antitrust Google seperti yang pernah menimpa Microsoft.

Lebih dari dua dekade lalu, pemerintah Amerika Serikat (AS) melayangkan gugatan antitrust kepada perusahaan teknologi paling raksasa pada saat itu, Microsoft. Gugatan yang dibuat pada tahun 1998 tersebut menuduh Microsoft menjadikan Windows, sistem operasinya, sebagai instrumen monopoli yang menggeser Netscape. Waktu itu, Netscape menjadi rival utama browser milik Microsoft, Internet Explorer.

Microsoft kala itu dihadapkan dengan ancaman perpecahan. Akhirnya, pada 2001 perusahaan dan pihak pemerintah berhasil mencapai kesepakatan. Pemerintah mengharuskan Microsoft mematuhi keputusan kesepakatan tersebut hingga 2011. Pada intinya, keputusan pengadilan memperketat ketentuan yang dapat diberlakukan Microsoft pada pembuat personal computer (PC) yang mendistribusikan sistem operasi Windows.

Umumnya, investigasi yang memakan waktu lebih dari setahun terhadap praktik antitrust di perusahaan-perusahaan teknologi raksasa berujung pada laporan yang menyerukan perpecahan perusahaan.

Kasus yang menyeret Microsoft selama lebih dari satu dekade itu akhirnya tidak berujung pada perpecahan. Namun kini, perusahaan raksasa Silicon Valley lainnya, yaitu Google, justru tengah menghadapi kasus gugatan yang serupa.

Ironisnya adalah, keberhasilan Google dan dominasinya di pasar dunia banyak disumbang oleh kasus Microsoft. Distraksi pada Microsoft memberikan waktu untuk perusahaan mesin pencari terbesar tersebut untuk melejit hingga hari ini.

Lucunya lagi, dominasi Microsoft dahulu juga didorong oleh kasus yang sama persis yang dilayangkan kepada IBM pada awal 1980-an. Kala itu, IBM masih menjadi primadonanya perusahaan sektor IT sebelum akhirnya disalip oleh Microsoft.

Ketika Microsoft dipaksa untuk melepas sebagian pangsa pasarnya dalam penelusuran internet, hal tersebut memberi Google ruang untuk bersaing secara lebih terbuka dengan Bing, mesin pencari milik Microsoft.

Memang, regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah AS membuat para perusahaan beroperasi pada siklus 20 hingga 30 tahun, setidaknya dalam dunia teknologi.

Kali ini, gugatan antitrust mendarat pada Google dan menargetkan cara perusahaan memonetisasi produknya, khususnya di perangkat seluler. Disinyalir, cara tersebut adalah untuk meningkatkan tindakan monopoli perusahaan dalam hal penelusuran internet dan iklan.

Baca juga :  Matahari Buatan Korsel Menyala Lebih Lama dari Buatan China

Bagi Google, tuduhan ini mungkin akan sulit untuk disangkal. Pasalnya, Google memang mengontrol 80-90% pangsa pasar mesin pencari di internet. Persentase tersebut adalah proporsi yang hampir serupa dengan yang dikuasai Microsoft atas pasar sistem operasi pada tahun 1998. Angka ini didapat dari firma riset Statista.

Dalam responnya, Google menilai argumen antitrust yang tak mendasar akan merugikan konsumen dalam jangka panjang. Responnya, lagi-lagi, adalah pembelaan diri yang sama persis dilayangkan Microsoft 20 tahun lalu.

Dengan kekayaan Google, seharusnya perusahaan memiliki lebih dari cukup modal untuk melawan Departemen Kehakiman di pengadilan. Lagipula, kasus gugatan tersebut kemungkinan tidak akan berdampak signifikan terhadap nilai pasar perusahaan. Saham Microsoft, contohnya, masih menunjukkan kenaikan terlepas dari gugatan yang pernah menimpanya.

Meskipun begitu, nasib Google yang dihadapkan pada kasus monopoli memang lebih rawan. Tak dipungkiri bahwa dominasinya di pasaran memang lebih mencolok. Apalagi, sudah banyak produknya yang merambah lebih dalam ke kehidupan konsumen, seperti YouTube, smartphone Pixel hingga Google Home.

Jika gugatan ini memakan waktu selama 10 tahun untuk Microsoft, maka Google masih punya banyak sisa waktu. Bahkan dalam skenario terburuk pun, perpecahan tidak selalu berarti bencana bagi para pemegang saham.

Baca juga :  Mulai 2022, Jutaan Perangkat Windows Tak Lagi Bisa Gunakan Google Chrome

Belum lagi, Google memiliki lebih dari 70 anak perusahaan yang masih muda dan berkembang pesat. Satu dekade saja mampu memberi mereka cukup waktu untuk menanam pijakan yang kuat di pangsa pasar masing-masing.

Atau, Google bisa belajar dari kasus Microsoft. Daripada menolak mentah-mentah keberadaan dominasi pasarnya dan berjuang dalam pertempuran panjang nan pahit di pengadilan, perusahaan harus mau bekerja sama dengan pemerintah.

Dua dekade lalu, Microsoft dipaksa untuk membuat beberapa kelonggaran. Apalagi Google, yang terbilang sudah terlalu besar sehingga pemerintah harus turun tangan untuk ‘meminta’ perusahaan membagi pangsa pasarnya kepada perusahaan-perusahaan kecil lainnya.

Terlepas dari pergulatan kasus yang pernah menimpanya, Microsoft hingga kini tetap menjadi salah satu perusahaan paling sukses di dunia. Setidaknya itulah yang patut dipetik oleh Google.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Desa Wisata Ini Diprediksi Bakal Hits di Tahun 2022, Yuk Simak Apa Saja Daftarnya

TELENEWS.ID - Banyak solusi ketika Anda ingin mencari destinasi liburan bersama keluarga ataupun teman-teman dengan tema desa wisata. Saat ini trend mengunjungi...

Pemerintah Enggan Rekrut CPNS di Tahun 2022, Ternyata Ini Alasannya

TELENEWS.ID - Banyak informasi mengenai Pemerintah yang tidak akan melakukan perekrutan CPNS di tahun 2022. Kemudian dari aspek penambahan jumlah ASN juga...

Salah Satunya Bikin Awet Muda, 5 Alasan Kamu Harus Pakai Serum Vitamin C Mulai Dari Sekarang!

TELENEWS.ID - Serum menjadi salah satu skincare yang sekarang menjadi salah satu kebutuhan wanita masa kini. Rasanya perawatan wajah tak akan lengkap...

Berkaca Dari Supir Kecelakaan Maut Balikpapan, Ini 5 Tips Agar Tak Bangun Kesiangan

TELENEWS.ID - Berbagai fakta mengejutkan terungkap pasca kecelakaan maut yang terjadi di tanjakan Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/1/2022) pagi. Salah satunya,...