Home Nasional Tradisi ‘Sabung Ayam’ Suci

Tradisi ‘Sabung Ayam’ Suci

TELENEWS.ID – Pulau Bali adalah gudang dari sederet budaya menarik, salah satunya Tajen/sabung ayam. Kegiatan yang awalnya ditujukan sebagai ritual keagamaan tersebut telah berkembang menjadi ajang judi di era modern. Lantas, seperti apakah dampaknya pada masyarakat Bali?

Sejarah tajen telah tercatat sejak abad ke 10 silam dan dibuktikan lewat penemuan beberapa prasasti yang memuat ritual agama Hindu Bali (Yadnya) tentang tajen.

Tajen; Sudah Jadi Hobi Turun Temurun Di Bali (source Blogger Bali)

Kala itu, masyarakat memasang taji (tajen) atau benda tajam di kaki salah satu ayam jantan yg diadu. Pertarungan ayam dalam ritual itu disebut “perang seta”.

Dalam ritual agama Hindu, kegiatan Tajen termasuk dalam prosesi ‘Tabuh Rah’, dimana muncratnya darah hewan dalam penggunaan caru (kurban suci) dipercaya sebagai simbol pelepasan biomaterial dan bioenergi ke alam kosmik guna penyelarasan harmoni antara manusia dan alam.

Dalam tajen, dua ekor ayam diadu sampai mati sehingga darahnya tumpah membasahi bumi. Darah itu lalu dicampur dengan tiga macam cairan berwarna: putih (tuak), kuning (arak) dan hitam (berem).

‘Taji’ Atau Senjata Tajam Untuk Mengadu Ayam Tajen (source Phinemo)

Percampuran ini sebagai simbol pengingat agar umat manusia menjaga keseimbangan bhuwana alit (manusia) dengan bhuwana agung (semesta).

Meski pada mulanya hanya diselenggarakan sebagai bagian dari Tabuh Rah, dalam perkembangan peradaban modern, tajen kini sering menjadi ajang judi bagi masyarakat tradisional Bali.

Menurut salah satu Pedanda (pemuka agama Hindu Bali), Jro Mangku I Wayan Satra, hal tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan (awidya) dari masyarakat tentang tatwa dan susila yang berlaku di agama Hindu Bali.

Kegiatan tajen sendiri umumnya dilakukan secara rutin satu hari setelah Hari Raya besar umat Hindu Bali, seperti Galungan, Kuningan atau Nyepi di wantilan-wantilan desa setempat.

Sejak masa pandemi, semua kegiatan tersebut secara resmi dilarang oleh aparat kepolisian karena menimbulkan kerumunan. Namun, apakah kegiatan tajen benar-benar berhenti? Tidak demikian, menurut salah satu sumber yang diwawancara penulis.

Adu Ayam Dalam Tajen; Awalnya Jadi Ritual Suci Hindu Bali (source Payana Dewa)

“Kegiatan tajen tetap berlangsung secara diam-diam, terutama di desa-desa yang penduduknya masih menjalankan kehidupan tradisional,” ujar sang sumber.

Baca juga :  Buka Kelas Yoga Bugil, Wanita Ini Tuai Kontroversi

Sementara, di kota-kota besar, kegiatan tajen sudah nyaris tidak ada sama sekali. Hal tersebut tak mengherankan, karena pihak kepolisian daerah Bali sudah berinisiatif untuk memberantas semua kegiatan tajen dan tak segan untuk melakukan tindakan tegas.

Sejumlah media berita lokal pun kerap melaporkan penangkapan dan penggerebekan terhadap pelaku kegiatan tajen di era pandemi, bahkan ada yang sampai diciduk di dalam kawasan hutan.

Kegiatan tajen rupanya bisa menjadi sumber penghasilan, bukan hanya dari judi semata. Banyak juga yang melakoni profesi sebagai joki tajen, bahkan ayam yang kalah pun ternyata bisa laku dijual.

“Joki tajen biasanya dipakai oleh beberapa orang karena dipercaya memiliki ‘taksu’ atau kemampuan untuk memenangkan ayam peliharaan mereka,” tutur sumber yang sama.

Kemudian, sang sumber juga mengaku sering menonton tajen bukan untuk berjudi, melainkan membeli ayam yang kalah.

“Karena berjenis ayam kampung, dagingnya enak untuk dimasak,” tutur dia.

Kegiatan tajen lazimnya dilakukan oleh para lelaki Bali, baik yang masih lajang maupun sudah berkeluarga. Lantas, bagaimana pendapat istri dan perempuan Bali perihal kegiatan tersebut? Apa dampaknya bagi hubungan rumah tangga mereka?

Baca juga :  Serba Serbi Metatah, Ritual 'Potong Gigi' Wajib Bagi Remaja Bali

Karena sudah cukup kuat berakar di Budaya daerahnya, para perempuan Bali, khususnya para istri lelaki Bali rupanya memiliki pendapat dan sikap yang berbeda terhadap pasangan mereka yang getol melakukan kegiatan tajen.

Ada yang bersikap biasa saja, selama tidak mengganggu ‘dapur’ rumah tangga, toh itu adalah salah satu bentuk hobi yang turun menurun. Namun ada juga yang sampai pulang kembali ke rumah orang tuanya karena tak tahan dengan kebandelan sang suami.

Ada pula secuplik kisah nyata menarik yang dituturkan sumber pada penulis tentang kontribusi istri terhadap hobi tajen suami.

“Teman saya berprofesi sebagai joki tajen dan dia pernah menemui seorang klien yang dibantu oleh istrinya untuk mengurus ayam-ayam tajennya,” ucap sang sumber. “Mungkin istrinya juga gemar tajen,” tukas dia. (Billy Bagus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Ragam Tradisi Unik Penuh Makna Keluarga Tionghoa Dalam Menyambut Imlek

TELENEWS.ID - Tradisi masyarakat Tionghoa dalam menyambut Imek atau tahun baru China pastinya memberi makna tertentu. Kali ini di tahun 2022, perayaan...

Status Kelurahan Krukut Tidak Lagi Zona Merah Covid 19, Micro Lockdown Dicabut

TELENEWS.ID - Banyak daerah khususnya di DKI Jakarta mendapat status level 2 dan juga menerapkan micro lockdown. Hanya saja semenjak varian Omicron...

Doyan Sindir Anies Baswedan, Wagub DKI Ke Giring: Tunjukkan Kinerja Dan Prestasi

TELENEWS.ID - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria angkat bicara soal aksi saling sindir antara Gubernur Anies Baswedan dengan Ketua Umum...

Tidak Ada Tempat Bagi Koruptor, Indonesia – Singapura Tanda Tangan Perjanjian Ekstradisi

TELENEWS.ID - Sejak tahun 1998, Indonesia dan Singapura telah melakukan berkali-kali untuk mengukuhkan perjanjian ekstradisi untuk kedua negara namun selalu gagal. Diketahui...