Home Hiburan Eksperimen di Penjara Stanford, Lucifer Effect Experiment

Eksperimen di Penjara Stanford, Lucifer Effect Experiment

TELENEWS.ID – Pada tahun 1971 diadakan sebuah eksperimen kepada beberapa orang terhadap psikologis mereka. Eksperimen ini diprakarsai dan dilakukan oleh seorang profesor bernama Philip Zimbardo dari Universitas Stanford, Inggris. Tujuan awal dari dilakukannya eksperimen ini adalah untuk melanjutkan studi terhadap Lucifer Effect terhadap manusia.

Lucifer Effect sendiri merupakan suatu dampak yang ditimbulkan dan percobaan mengatasi masalah dari seseorang ketika orang tersebut ditempatkan dalam suatu kondisi yang membuatnya tidak nyaman dalam konteks apapun. Dampak psikologis ini juga biasa disebut dengan Evil Act.

Eksperimen yang dilakukan ini juga cukup singkat yaitu hanya dalam waktu dua minggu saja. Perekrutan untuk siapa yang akan menjadi objek eksperimen ini juga dilakukan secara terbuka di Inggris dan siapa saja yang ingin menjadi volunteer bisa mendaftar. Volunteer ini hanya berlaku bagi pria dan akan diberikan bayaran sebesar 15 US Dollar per hari atau sekitar 150,000 rupiah yang di mana bayaran ini cukup tinggi jika diberikan pada tahun 1971.

Ada 75 orang yang mendaftarkan diri namun hanya 24 orang yang lolos untuk resmi menjadi volunteer dari eksperimen ini. Lokasi eksperimen adalah sebuah basemen di bawah universitas Stanford yang direnovasi dan dibuat semirip mungkin dengan sebuah penjara.

Hari pertama eksperimen dimulai pada 14 Agustus 1971, di mana para partisipan ditangkap layaknya kriminal di depan umum sehingga mereka tidak memiliki persiapan apapun sebelum memulai eksperimen ini. Salah satu yang disorot dari eksperimen ini adalah sikap otoriter yang dilakukan orang-orang yang bertugas sebagai penjaga karena melakukan bullying kepada partisipan baik fisik dan verbal yang tidak sesuai SOP.

Hari kedua siksaan terhadap partisipan mulai ditingkatkan dengan membangunkan mereka pada pukul 02.30 pagi hari dengan suara tongkat yang dipukulkan ke besi pintu penjara dengan keras dan pluit. Hal ini mulai meningkatkan rasa stress dan mulai memunculkan depresi kepada para partisipan. Di hari kedua juga sudah ada beberapa partisipan yang terkena hukuman dan siksaan dari petugas penjaga serta ada tahanan yang mulai merobek bajunya karena sudah mulai mengalami depresi.

Di hari kedua juga partisipan di telanjangi dan tempat tidur mereka di tahanan diambil sehingga mereka tidur di lantai tanpa berpakaian. Pada hari ketiga beberapa partisipan yang memiliki sikap baik sudah mulai dikembalikan pakaiannya serta kasur mereka. Partisipan juga mulai ada yang tidak diberikan makanan bagi yang pada hari kedua melakukan perlawanan.

Salah satu partisipan yang sudah mengalami depresi adalah partisipan dengan nomor tahanan 8612 yang sudah mulai berteriak dan berperilaku seperti orang kerasukan. Akhirnya psikolog yang bertugas memutuskan untuk membebaskan tahanan 8612 ini agar tidak memperparah depresi yang dialaminya.

Hari keempat para partisipan mulai bersikap kooperatif agar tidak mendapat hukuman dan malah mendapatkan reward dari petugas penjara. Zimbardo juga mengajak seorang pendeta yang juga psikolog untuk ngobrol dengan seluruh partisipan tersebut dan menilai seberapa mereka merasakan dan mendalami sebagai seorang tahanan.

Baca juga :  Produser Misterius Dibalik Lagu ‘Can’t Buy Me Love” Beatles

Pada hari ini penjaga tahanan meminta seluruh tahanan untuk terus meneriaki salah satu tahanan dengan nomor 819 bahwa dia adalah penyebab seluruh tahanan dihukum. Akibatnya tahanan nomor 819 tersebut mengalami depresi. Bahkan ketika psikolog memintanya pulang karena sudah dianggap terlalu depresi, dirinya merasa tidak bisa pulang dan lebih pantas mendapatkan hukuman di penjara seperti ini seumur hidupnya. Sampai akhirnya Zimbardo turun tangan langsung untuk menyadarkan kembali tahanan 819 tersebut bahwa ini hanya sebuah eksperimen dan dia sudah diperbolehkan pulang.

Hari kelima tahanan diizinkan dijenguk oleh keluarga dan para penjaga tahanan yang suka menyiksa tahanan tersebut berusaha untuk menutupi perbuatan selama ini. Namun para tahanan malah memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur secara bersama-sama. Zimbardo yang mengetahui rencana mereka ini akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan kepolisian sungguhan untuk menjaga seluruh tahanan untuk tetap aman di dalam penjara selama kunjungan keluarga berlangsung sampai proses eksperimen selesai.

Pada hari keenam eksperimen ada seorang peneliti dari Stanford juga yang bernama Christina Maslach menyatakan bahwa penelitian ini sudah keluar dari batas dan harus segera dihentikan. Christina juga sudah melihat langsung penyiksaan dari penjaga tahanan terhadap seluruh tahanan.

Baca juga :  Kisah Tragis Kehidupan Seorang Marvin Gaye

Akibat hal ini Zimbardo buru-buru melakukan kesimpulan terhadap eksperimennya dan menyatakan bahwa setiap manusia akan memiliki stigma yang tercipta di dalam otaknya jika mereka diberikan situasi yang berbeda dalam hidup sebagai bentuk adaptasi dari diri mereka secara ekstrim. Hal itu dapat dilihat dari sukarelawan yang menjadi penjaga tahanan dan tahanan itu sendiri di mana mereka masing-masing merasa bahwa diri mereka bukan menjalakan peran namun sungguh terjadi di hidup mereka.

Pada hari keenam itu juga seluruh sukarelawan dibubarkan, dan pada hari ketujuh seluruh bangunan dikembalikan seperti semula menjadi basement kembali. Namun Zimbardo menemukan sebuah tulisan dari tahanan 416. Isi dari surat tersebut adalah selama eksperimen dilakukan tahanan 416 ini benar-benar merasa kehilangan jati dirinya yang dulu sebelum dia mengikuti eksperimen ini. Dia benar-benar merasa seperti orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum dan dipenjara serta merasa pantas mendapatkan seluruh siksaan dari penjaga tahanan walaupun sangat menyiksa dalam hidupnya dan hanya dalam waktu singkat.

Namun setelah hasil penelitian ini keluar, Zimbardo malah mendapat kecaman dari masyarakat tentang eksperimennya yang sebenarnya dia sendiri tidak mengetahui bahwa ada penyiksaan sadis yang terjadi. Zimbardo hanya mengetahui bahwa tahanan tersebut berhasil mengeluarkan sisi Evil Act nya ketika mereka berada di situasi berbeda. Padahal hal ini terjadi begitu cepat kepada para tahanan karena siksaan yang sadis dari pada penjaga tahanan.

Walaupun dikritik, penelitian ini tetap digunakan oleh US Navy untuk belajar dan menjadi pedoman dalam menghadapi seorang tahanan jika terjadi tahanan yang mengalami depresi. Padahal tujuan dari penelitian ini diberikan kepada US Navy adalah untuk US Navy menjadikannya pedoman bagaimana memperlakukan tahanan jauh lebih manusiawi. (Angela Limawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Yoyic Dairy Indonesia

Most Popular

Bukan Beras Merah, Inilah Sumber Karbohidrat Terbaik untuk Perut yang Langsing

TELENEWS.ID - Selama ini nasi merah dianggap sebagai sumber karbohidrat terbaik pengganti nasi atau beras putih. Memiliki indeks glikemik lebih rendah dari...

5 Resep Kulit Sehat dan Awet Muda ala Cameron Diaz yang Wajib Dicoba Semua Wanita!

TELENEWS.ID - Sebentar lagi usia bintang Hollywood, Cameron Diaz akan genap 50 tahun. Namun ibu satu anak ini masih tampak tetap cantik...

Dialami Almarhum Tjahjo Kumolo, Ini 5 Tanda Kelelahan yang Tak Boleh Diabaikan

TELENEWS.ID - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo meninggal dunia pada Jumat, (01/07/2022) pada pukul 11.10 WIB....

Tips Menyimpan Bawang Merah Segar dan Tahan Lama Saat Harganya Mulai Melonjak Naik

TELENEWS.ID - Harga bawang merah dilaporkan perlahan naik. Bahkan di beberapa daerah di tanah air, harga bawang merah dikabarkan menembus angka 95...