Home Gaya hidup Terapi Plasma Konvalesen Untuk Penderita Covid-19

Terapi Plasma Konvalesen Untuk Penderita Covid-19

TELENEWS.ID – Terapi plasma darah atau sering disebut plasma konvalesen baru-baru ini ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial.

Pasalnya, virus corona yang kian hari semakin tak terkendali ini membuat para ahli dan praktisi kesehatan melakukan berbagai cara agar cepat menemukan langkah pengobatan yang ampuh untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi.

Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS, dr Tonang Dwi Ardyanto beberapa waktu lalu mengungkapkan, plasma konvalesen sudah dikenal sejak lama sebagai metode terapi.

Diketahui, terapi plasma konvalesen juga digunakan ketika terjadi pandemi flu spanyol pada tahun 1918, serta wabah flu babi, SARS, ebola, dan MERS beberapa tahun lalu.

Seorang penyintas Covid-19 yang telah sembuh, lanjut Tonang, akan membentuk antibodi di tubuhnya yang akan disimpan dalam plasma darah orang tersebut.

Penyintas sendiri disebut sebagai kemampuan untuk bertahan hidup di dalam suatu kondisi atau keadaan.

Dengan kondisi tersebut, jika ada orang yang terinfeksi dan belum memiliki antibodi, maka akan dibantu dengan cara memberikan plasma dari orang yang sudah sembuh dari suatu infeksi.

Secara sederhana dapat dijelaskan, terapi plasma konvalesen merupakan transfer antibodi antara penyintas suatu infeksi kepada orang yang tengah mengalami infeksi.

Cukup efektifkah terapi plasma darah untuk atasi virus Corona?

Prosedur terapi plasma darah ini beberapa waktu lalu dilakukan para peneliti dari Washington University School of Medicine.

Mereka mengklaim bahwa plasma darah pengidap virus corona yang sudah benar-benar pulih mengandung antibodi yang mampu melawan virus SARS-CoV-2.

Terapi plasma darah diketahui juga telah dilakukan oleh dokter di China pada lima orang pengidap Covid-19 yang telah dinyatakan kritis.

Hasilnya cukup mencengangkan, tiga dari kelima pengidap infeksi tersebut dinyatakan sembuh total, sedangkan dua lainnya dinyatakan dalam keadaan stabil.

Hal ini membuktikan bahwa terapi plasma darah yang telah lebih dulu diterapkan di luar Indonesia ini menunjukkan angka kesembuhan yang menjanjikan.

Lalu, apakah Indonesia sudah siap untuk melakukan uji coba terapi plasma?

Di Indonesia dalam pengembangan terapi plasma telah dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) yang bekerjasama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Yaitu suatu lembaga penelitian biologi molekuler dibawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Praktik pengembangannya sendiri dilakukan dengan mengambil plasma konvalesen dari darah pengidap infeksi virus corona, yang telah empat minggu dinyatakan pulih total.

Plasma pasien yang telah sembuh membentuk antibodi yang dianggap mampu memerangi dan mengeluarkan virus sehingga lingkaran infeksi terputus, serta dapat membantu menetralisir virus yang ada dalam tubuh pengidap yang terinfeksi.

Pasien penerima donor diharapkan bisa meningkatkan imunitas dengan cara memperbaiki jaringan yang sudah rusak setelah terapi plasma.

Syarat Calon Pendonor Plasma Darah

Untuk diketahui, terapi plasma konvalesen dapat berjalan baik dengan memperhatikan beberapa unsur, seperti pendonor yang sehat, produk baik, dan kondisi penerima plasma.

Salah satu pendiri Komunitas Pendonor Plasma Konvalesen, dr Ariani M.Kes SpA (K), membagikan beberapa kriteria penyintas Covid-19 yang bisa mendonorkan plasma darahnya, sebagai berikut:

  1. Pernah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui hasil swab RT-PCR dan atau swab antigen, yang mengalami gejala sedang hingga berat.
  2. Sudah dinyatakan sembuh dan telah bebas gejala Covid-19 sekurang-kurangnya 14 hari.
  3. Usia 18-60 tahun
  4. Laki-laki atau perempuan yang diutamakan belum pernah hamil.
  5. Berat badan minimal 55 kilogram.
  6. Tidak memiliki penyakit penyerta yang bersifat kronis seperti gagal ginjal, jantung, kanker, kencing manis, diabetes, darah tinggi tidak terkontrol.

Namun, tak semua pendonor memenuhi persyaratan tersebut.

Ada beberapa kriteria plasma darah yang harus sesuai dengan ketentuan secara medis.

Pada tahap selanjutnya, pendonor harus terlebih dahulu melakukan screening lanjutan di Palang Merah Indonesia (PMI) atau rumah sakit yang memiliki fasilitas donor plasma konvalesen.

Screening dilakukan untuk mengetahui kelayakan plasma darah yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan.

Jika dinyatakan cocok, maka pendonor sebagai penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasma darahnya.

Syarat Penerima Plasma Konvalesen

Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio beberapa waktu lalu menjelaskan, untuk donor plasma konvalesen ini tidak mungkin diberikan kepada semua pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Melainkan harus memiliki kualifikasi seperti berikut.

  1. Memiliki gejala Covid-19 berat
    Kualifikasi pertama pasien yang akan diberikan terapi plasma konvalesen ini adalah pasien yang memiliki indikasi gejala berat saja, tidak untuk semua pasien yang terinfeksi Covid-19.

Lebih lanjut Amin menegaskan, terapi plasma konvalesen bukan untuk pencegahan. Berbeda dengan vaksin.

Dengan kata lain, terapi plasma konvalesen ini tidak bisa diberikan kepada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan dan orang yang sehat.

  1. Dosis plasma tergantung kadar antibodi.
    Terapi plasma konvalesen ini disebut sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19, sehingga dosis yang diberikan pun tidak akan sama antar-pasien.

Untuk diketahui, setiap kadar antibodi plasma pasien yang sembuh dari Covid-19 sebagai donor, akan berbeda-beda.

Karena itu, kadar dari plasma masing-masing tersebut akan disesuaikan dengan pasien yang akan menerimanya.

  1. Pasien Covid-19 yang menerima terapi plasma konvalesen ini akan terus dilakukan pemantauan dan evaluasi.

Hal ini perlu dilakukan, karena saat ini belum ada standarisasi terapi plasma konvalesen menjadi pengobatan, meskipun sudah banyak dilakukan oleh beberapa negara untuk berbagai penyakit lainnya.

Sementara, hanya Food and Drug Administration (FDA) sebuah badan pengawas obat dan makanan di Amerika yang baru mengklaim bahwa terapi plasma konvalesen dari plasma darah pasien sembuh Covid-19 efektif untuk penyembuhan, bahkan dalam masa perawatan tiga hari.

  1. Kerjasama
    Menurut Amin, tindakan terapi konvalesen sudah disepakati antar lembaga atau instansi pemerintah, dan beberapa industri terkait berupa kerjasama yang dilakukan dengan pelaksanaan masing-masing.

Misalnya, Kementerian Kesehatan berkewenangan dalam pelayanan di rumah sakit.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia dalam hal investigasi new drug.

Palang Merah Indonesia (PMI) berperan dalam penyesuaian kategori produk plasma darah.

LBM Eijkman berperan untuk melakukan uji netralisasi Biosafety Level 3 (BSL3) agar plasma konvalesen ini dapat diberikan sebagai imunisasi pasif bagi pasien Covid-19. (Dwi Eppy).

Terapi Plasma Konvalesen Untuk Penderita Covid-19

TELENEWS.ID – Terapi plasma darah atau sering disebut plasma konvalesen baru-baru ini ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial.

Pasalnya, virus corona yang kian hari semakin tak terkendali ini membuat para ahli dan praktisi kesehatan melakukan berbagai cara agar cepat menemukan langkah pengobatan yang ampuh untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi.

Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS, dr Tonang Dwi Ardyanto beberapa waktu lalu mengungkapkan, plasma konvalesen sudah dikenal sejak lama sebagai metode terapi.

Diketahui, terapi plasma konvalesen juga digunakan ketika terjadi pandemi flu spanyol pada tahun 1918, serta wabah flu babi, SARS, ebola, dan MERS beberapa tahun lalu.

Seorang penyintas Covid-19 yang telah sembuh, lanjut Tonang, akan membentuk antibodi di tubuhnya yang akan disimpan dalam plasma darah orang tersebut.

Penyintas sendiri disebut sebagai kemampuan untuk bertahan hidup di dalam suatu kondisi atau keadaan.

Dengan kondisi tersebut, jika ada orang yang terinfeksi dan belum memiliki antibodi, maka akan dibantu dengan cara memberikan plasma dari orang yang sudah sembuh dari suatu infeksi.

Baca juga :  Apa Saja Manfaat Asuransi Saat Belanja Online

Secara sederhana dapat dijelaskan, terapi plasma konvalesen merupakan transfer antibodi antara penyintas suatu infeksi kepada orang yang tengah mengalami infeksi.

Cukup efektifkah terapi plasma darah untuk atasi virus Corona?

Prosedur terapi plasma darah ini beberapa waktu lalu dilakukan para peneliti dari Washington University School of Medicine.

Mereka mengklaim bahwa plasma darah pengidap virus corona yang sudah benar-benar pulih mengandung antibodi yang mampu melawan virus SARS-CoV-2.

Terapi plasma darah diketahui juga telah dilakukan oleh dokter di China pada lima orang pengidap Covid-19 yang telah dinyatakan kritis.

Hasilnya cukup mencengangkan, tiga dari kelima pengidap infeksi tersebut dinyatakan sembuh total, sedangkan dua lainnya dinyatakan dalam keadaan stabil.

Hal ini membuktikan bahwa terapi plasma darah yang telah lebih dulu diterapkan di luar Indonesia ini menunjukkan angka kesembuhan yang menjanjikan.

Baca juga :  Gubernur Banten Izinkan Sekolah Tatap Muka

Lalu, apakah Indonesia sudah siap untuk melakukan uji coba terapi plasma?

Di Indonesia dalam pengembangan terapi plasma telah dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) yang bekerjasama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Yaitu suatu lembaga penelitian biologi molekuler dibawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Praktik pengembangannya sendiri dilakukan dengan mengambil plasma konvalesen dari darah pengidap infeksi virus corona, yang telah empat minggu dinyatakan pulih total.

Plasma pasien yang telah sembuh membentuk antibodi yang dianggap mampu memerangi dan mengeluarkan virus sehingga lingkaran infeksi terputus, serta dapat membantu menetralisir virus yang ada dalam tubuh pengidap yang terinfeksi.

Pasien penerima donor diharapkan bisa meningkatkan imunitas dengan cara memperbaiki jaringan yang sudah rusak setelah terapi plasma.

Syarat Calon Pendonor Plasma Darah

Untuk diketahui, terapi plasma konvalesen dapat berjalan baik dengan memperhatikan beberapa unsur, seperti pendonor yang sehat, produk baik, dan kondisi penerima plasma.

Salah satu pendiri Komunitas Pendonor Plasma Konvalesen, dr Ariani M.Kes SpA (K), membagikan beberapa kriteria penyintas Covid-19 yang bisa mendonorkan plasma darahnya, sebagai berikut:

  1. Pernah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui hasil swab RT-PCR dan atau swab antigen, yang mengalami gejala sedang hingga berat.
  2. Sudah dinyatakan sembuh dan telah bebas gejala Covid-19 sekurang-kurangnya 14 hari.
  3. Usia 18-60 tahun
  4. Laki-laki atau perempuan yang diutamakan belum pernah hamil.
  5. Berat badan minimal 55 kilogram.
  6. Tidak memiliki penyakit penyerta yang bersifat kronis seperti gagal ginjal, jantung, kanker, kencing manis, diabetes, darah tinggi tidak terkontrol.

Namun, tak semua pendonor memenuhi persyaratan tersebut.

Ada beberapa kriteria plasma darah yang harus sesuai dengan ketentuan secara medis.

Pada tahap selanjutnya, pendonor harus terlebih dahulu melakukan screening lanjutan di Palang Merah Indonesia (PMI) atau rumah sakit yang memiliki fasilitas donor plasma konvalesen.

Screening dilakukan untuk mengetahui kelayakan plasma darah yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan.

Jika dinyatakan cocok, maka pendonor sebagai penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasma darahnya.

Syarat Penerima Plasma Konvalesen

Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio beberapa waktu lalu menjelaskan, untuk donor plasma konvalesen ini tidak mungkin diberikan kepada semua pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Melainkan harus memiliki kualifikasi seperti berikut.

  1. Memiliki gejala Covid-19 berat
    Kualifikasi pertama pasien yang akan diberikan terapi plasma konvalesen ini adalah pasien yang memiliki indikasi gejala berat saja, tidak untuk semua pasien yang terinfeksi Covid-19.

Lebih lanjut Amin menegaskan, terapi plasma konvalesen bukan untuk pencegahan. Berbeda dengan vaksin.

Dengan kata lain, terapi plasma konvalesen ini tidak bisa diberikan kepada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan dan orang yang sehat.

  1. Dosis plasma tergantung kadar antibodi.
    Terapi plasma konvalesen ini disebut sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19, sehingga dosis yang diberikan pun tidak akan sama antar-pasien.

Untuk diketahui, setiap kadar antibodi plasma pasien yang sembuh dari Covid-19 sebagai donor, akan berbeda-beda.

Karena itu, kadar dari plasma masing-masing tersebut akan disesuaikan dengan pasien yang akan menerimanya.

  1. Pasien Covid-19 yang menerima terapi plasma konvalesen ini akan terus dilakukan pemantauan dan evaluasi.

Hal ini perlu dilakukan, karena saat ini belum ada standarisasi terapi plasma konvalesen menjadi pengobatan, meskipun sudah banyak dilakukan oleh beberapa negara untuk berbagai penyakit lainnya.

Sementara, hanya Food and Drug Administration (FDA) sebuah badan pengawas obat dan makanan di Amerika yang baru mengklaim bahwa terapi plasma konvalesen dari plasma darah pasien sembuh Covid-19 efektif untuk penyembuhan, bahkan dalam masa perawatan tiga hari.

  1. Kerjasama
    Menurut Amin, tindakan terapi konvalesen sudah disepakati antar lembaga atau instansi pemerintah, dan beberapa industri terkait berupa kerjasama yang dilakukan dengan pelaksanaan masing-masing.

Misalnya, Kementerian Kesehatan berkewenangan dalam pelayanan di rumah sakit.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia dalam hal investigasi new drug.

Palang Merah Indonesia (PMI) berperan dalam penyesuaian kategori produk plasma darah.

LBM Eijkman berperan untuk melakukan uji netralisasi Biosafety Level 3 (BSL3) agar plasma konvalesen ini dapat diberikan sebagai imunisasi pasif bagi pasien Covid-19. (Dwi Eppy).

TELENEWS.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saat ini telah mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) atau sering disebut izin penggunaan darurat penggunaan vaksin Covid-19.

Presiden Jokowi sempat mengumumkan bahwa sampai April 2021, setidaknya 49,5 juta orang akan divaksin Covid-19.

Berikut rincian jadwalnya, pada Januari 2021 setidaknya sebanyak 5,8 juta orang akan menjalani vaksinasi, pada Februari akan ada 10 juta orang, dan pada Maret akan ada 13,3 juta orang.

Kemudian, dilanjutkan hingga April vaksinasi untuk 20,4 juta orang.

Sementara itu, Ketua Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jawa Timur, dr. Joni Wahyuhadi menyatakan, ada beberapa kriteria masyarakat yang tidak perlu menjalani vaksinasi Covid-19.

Di antaranya orang yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19, atau sering disebut sebagai penyintas.

Penyintas merupakan kemampuan untuk bertahan hidup di dalam suatu kondisi atau keadaan.

Joni menjelaskan, orang yang pernah terjangkit Covid-19 tubuhnya secara alami akan membentuk antibodi.

Oleh karena itu, para penyintas Covid-19 dapat mendonorkan plasma darahnya ketika telah dinyatakan negatif Covid-19.

Plasma darah tersebut diyakini mampu membantu pasien Covid-19 yang lain.

“Pada prinsipnya vaksinasi itu bertujuan untuk menimbulkan antibodi.

Antibodi itu timbul jika sudah kemasukan virus.

Kalau sudah kemasukan virus, timbul antibodi, maka tidak perlu divaksin,” ujar Joni di Surabaya, Selasa (12/1).

Selain itu, vaksinasi juga tidak diperlukan pada anak di bawah 17 tahun.

Pria yang juga menjabat Dirut RSUD dr. Soetomo itu menyebutkan, vaksinasi hanya diperuntukan bagi masyarakat dengan rentang usia 18 hingga 59 tahun.

Anggota Gugus Kuratif Satgas Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril Al Farabi menambahkan, kementerian kesehatan saat ini telah menurunkan petunjuk teknis tentang vaksinasi.

Selain orang yang pernah terpapar Covid-19, ibu hamil juga tidak boleh divaksinasi.

“Kemudian para penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) selama tujuh hari terakhir, riwayat alergi berat, kelainan darah, jantung koroner, autoimun, penyakit ginjal, penyakit rematik autoimun, penyakit saluran pencernaan kronis, hipertiroid/hipotiroid karena autoimun, kanker, diabetes, HIV dan penyakit paru tidak bisa dilakukan vaksinasi,” kata Jibril. (Dwi Eppy).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

RSUP Persahabatan, Peninggalan Uni Soviet di Tanah Air

TELENEWS.ID – Siapa yang tak kenal Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan. Sebagian masyarakat, khususnya semua yang tinggal di Jakarta Timur, hampir...

Awas! BMKG Peringatkan Adanya Potensi Multirisiko Bencana

TELENEWS.ID – Nampaknya kita harus lebih waspada lagi di bulan-bulan awal 2021 ini.Baru-baru ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan...

Bedanya Investasi Emas Online vs Offline

TELENEWS.ID – Emas telah dikenal lama menjadi instrumen investasi yang disukai banyak orang.Kemudahan dan nilainya yang relatif stabil...

Tren Skincare 2021

TELENEWS.ID – Carut marutnya masa pandemi 2020 meninggalkan banyak kebiasaan dan pola hidup yang baru pada masyarakat dunia.Di...